"Aaron—"Belum sempat aku menyelesaikan kalimat protesku, suara tawa pelan yang berat dan seksi tiba-tiba lolos dari bibirnya.Wajah tegas yang beberapa saat lalu dipenuhi luka dan rasa penyesalan, kini berubah sepenuhnya. Aaron terlihat begitu geli, matanya menyipit jenaka, tampak sangat terhibur melihat kepanikan yang tergambar jelas di wajahku."Kenapa, hm?" bisiknya dengan nada rendah yang bergetar karena menahan tawa.Ia sengaja memajukan wajahnya, memangkas jarak hingga ujung hidung kami hampir bersentuhan. Napas hangatnya berembus di bibirku, membuat jantungku yang semula berdegup karena malu, kini berpacu karena sensasi yang berbeda."Kamu pikir aku nggak merasakannya sejak tadi, Sayang?" godanya, seraya mengusapkan ibu jarinya ke pipiku yang makin memanas. "Setiap kali aku bergerak, ada tangan kecil yang sibuk menarik, meremas, dan mencengkeram kain ini seolah nyawanya sedang dipertaruhkan.""Kamu sengaja, ya!" pekikku tertahan, memukul dadanya pelan dengan satu tangan y
Read more