Teilen

209. Luna's Lust

last update Veröffentlichungsdatum: 21.07.2026 23:20:29
"Anda—"

Suaraku tertahan di tenggorokan, gemetar oleh keterkejutan yang luar biasa.

"Halo, Fay," sapanya tenang.

Suara itu....

Nada bicara yang teratur dan ramah itu sangat identik dengan sosok yang selama ini kukenal. Wanita paruh baya bermata teduh yang berdiri anggun di hadapanku saat ini tidak lain adalah Bu Sarah.

Sekretaris senior yang pernah mendesakku menuju ruang pimpinan, orang yang sama yang secara tidak langsung melempar duniaku ke dalam pusaran kegilaan bersama seorang Alpha.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Anak Rahasia Sang Alpha   213. Benteng Harapan

    Dari luar, bangunan logistik itu tampak tak berbeda dari fasilitas penyimpanan material pada umumnya.Kontainer-kontainer besar tersusun rapi di halaman. Forklift hilir mudik mengangkut baja dan semen, sementara beberapa pekerja sibuk memeriksa daftar material yang baru tiba.Tidak ada yang mencolok, setidaknya bagi mata manusia.Aaron melangkah masuk tanpa berhenti. Adrian mengikuti di belakangnya hingga mereka tiba di sebuah pintu baja besar yang dijaga oleh beberapa anggota keamanan pilihan.Begitu melihat Aaron, mereka serempak menundukkan kepala."Salam, Alpha."Aaron mengangguk pelan.Pintu baja perlahan terbuka, memperlihatkan sebuah lift industri berukuran besar.Keduanya masuk ke dalam. Pintu kembali tertutup rapat, lalu lift itu turun perlahan, melewati beberapa lantai di bawah permukaan tanah.Semakin dalam mereka bergerak, suara alat berat di atas perlahan menghilang.Ding!Pintu lift terbuka.Koridor berdinding beton membentang panjang di hadapan mereka. Lampu-lampu kerja

  • Anak Rahasia Sang Alpha   212. Kota untuk Masa Depan

    Cahaya matahari pagi menyelinap lembut melalui celah tirai kamar utama mansion.Aaron telah selesai bersiap dengan setelan jas hitam yang melekat sempurna di tubuhnya. Namun sebelum melangkah pergi, ia berdiri beberapa saat di sisi tempat tidur.Tatapannya tertuju pada Fay.Wanita itu masih terlelap dengan napas teratur. Wajahnya terlihat begitu damai, jejak-jejak keletihan dari kehangatan hubungan intim mereka semalam masih membingkai paras cantiknya.Sudut bibir Aaron terangkat tipis.Ia mengulurkan tangan, menyingkirkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi wajah Fay dengan gerakan hati-hati.Ia tidak ingin membangunkan mate yang sangat dicintainya.Tatapan dingin yang selama ini ditakuti banyak orang perlahan melunak. Seandainya memungkinkan, ia ingin tetap berada di sisi Fay sepanjang hari. Namun, kenyataan tidak mengizinkannya.Masih banyak hal yang harus ia pastikan berjalan sesuai rencana.Aaron menunduk, mendaratkan kecupan hangat di kening Fay dengan penuh perasaan.​"Tu

  • Anak Rahasia Sang Alpha   211. Bagian yang Tak Kukenal

    Bu Sarah tidak terkejut. Beliau hanya mengulas senyum tipis, begitu tenang dan teduh, seolah sudah menduga pertanyaan itu cepat atau lambat akan keluar dari bibirku."Kenapa Ibu bisa bekerja di perusahaan Aaron, lalu tiba-tiba menghilang begitu saja?" cecarku lagi, berusaha mengurai benang kusut dalam pikiranku. "Bahkan aku sempat berpikir Ibu sudah keluar karena posisi Ibu sudah digantikan orang lain. Tapi sekarang ... Ibu justru ada di mansion ini."Bu Sarah terkekeh pelan. "Itu karena setelah malam saya meminta Nyonya menemui Tuan Aaron di ruangannya, saya memutuskan berhenti dari perusahaan."Aku mengernyit. "Berhenti?""Benar, Nyonya." Beliau mengangguk. Senyumnya tetap hangat. "Itu keputusan saya sendiri. Tuan Aaron tidak pernah memintanya. Saya merasa tugas saya di perusahaan sudah selesai. Setelah itu, saya memilih kembali mengurus kediaman pribadi Tuan Aaron."Beliau berhenti sesaat, menatapku dengan binar mata yang memancarkan kenangan masa lalu."Sama persis seperti yang sa

  • Anak Rahasia Sang Alpha   210. Mata yang Tak Pernah Berpaling

    "Anak magang itu...." Bu Sarah berhenti sesaat. Tatapannya bertemu dengan mataku. "Adalah kamu, Fay." Seketika napasku tercekat. Mataku membelalak. "Saat itu saya belum memahami alasannya," sambungnya dengan nada lembut. "Namun insting saya mengatakan bahwa ada seseorang yang akhirnya mampu menarik perhatian dan mengusik naluri Alpha milik beliau sedemikian kuat." Bu Sarah berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Keputusan menghubungimu malam itu memang penuh risiko. Saya bertaruh besar. Tapi saya sungguh tidak pernah membayangkan kalau takdir akan membawa kalian berdua berkembang sejauh ini." Aku masih belum mampu berkata apa-apa. Selama ini aku mengira semua yang terjadi hanyalah rangkaian kebetulan. Ternyata ... sejak malam yang mengubah segalanya itu, ada begitu banyak rahasia yang sengaja disembunyikan dariku. Jantungku berdebar keras. Rasa takut dan cemas mendadak menerkamku. "Ibu sengaja mengirimku ke sana." Suaraku bergetar, menahan gejolak di dalam dada. "Bagaimana kal

  • Anak Rahasia Sang Alpha   209. Luna's Lust

    "Anda—" Suaraku tertahan di tenggorokan, gemetar oleh keterkejutan yang luar biasa. "Halo, Fay," sapanya tenang. Suara itu.... Nada bicara yang teratur dan ramah itu sangat identik dengan sosok yang selama ini kukenal. Wanita paruh baya bermata teduh yang berdiri anggun di hadapanku saat ini tidak lain adalah Bu Sarah. Sekretaris senior yang pernah mendesakku menuju ruang pimpinan, orang yang sama yang secara tidak langsung melempar duniaku ke dalam pusaran kegilaan bersama seorang Alpha. Aku hanya mampu menatapnya tanpa berkedip. "Bu ... Bu Sarah?" Beliau tersenyum kecil. "Senang melihatmu baik-baik saja, Fay." "B-bagaimana Ibu bisa ada di sini?" tanyaku terbata-bata. "Apa yang sedang terjadi? Bukankah Ibu bekerja di perusahaan Aaron?" Beliau tidak langsung menjawab. Tatapannya justru beralih sejenak kepada para pelayan yang masih berdiri rapi di belakangnya, tetap berdiri membisu, menunduk penuh hormat tidak hanya kepadaku, tetapi juga kepada wanita itu. Aku kembali menat

  • Anak Rahasia Sang Alpha   208. Sisa Kehangatan Malam

    ​"Aaron—"​Belum sempat aku menyelesaikan kalimat protesku, suara tawa pelan yang berat dan seksi tiba-tiba lolos dari bibirnya.Wajah tegas yang beberapa saat lalu dipenuhi luka dan rasa penyesalan, kini berubah sepenuhnya. Aaron terlihat begitu geli, matanya menyipit jenaka, tampak sangat terhibur melihat kepanikan yang tergambar jelas di wajahku.​"Kenapa, hm?" bisiknya dengan nada rendah yang bergetar karena menahan tawa.​Ia sengaja memajukan wajahnya, memangkas jarak hingga ujung hidung kami hampir bersentuhan. Napas hangatnya berembus di bibirku, membuat jantungku yang semula berdegup karena malu, kini berpacu karena sensasi yang berbeda.​"Kamu pikir aku nggak merasakannya sejak tadi, Sayang?" godanya, seraya mengusapkan ibu jarinya ke pipiku yang makin memanas. "Setiap kali aku bergerak, ada tangan kecil yang sibuk menarik, meremas, dan mencengkeram kain ini seolah nyawanya sedang dipertaruhkan.""Kamu sengaja, ya!" pekikku tertahan, memukul dadanya pelan dengan satu tangan y

  • Anak Rahasia Sang Alpha   99. Ayah yang Memilih Racun

    Klik.Suara putaran tutup botol kecil itu terdengar sangat samar, hampir tak terdengar, terbuka di balik meja kayu. Tangan Hendra yang memegang botol itu tetap stabil. Terlalu stabil untuk seseorang yang sedang bersiap merenggut sesuatu yang berharga. Gerakannya begitu tenang, mencerminkan sosok ya

  • Anak Rahasia Sang Alpha   94. Tatapan yang Berubah

    Beliau berdiri di dekat mobil sambil menatapku tanpa bergerak sedikit pun.Senyumku perlahan memudar. Untuk beberapa detik, tidak ada suara apa pun selain angin sore yang berembus pelan di antara pohon-pohon pinus.Aku masih berdiri di sana dengan perasaan bahagia yang belum hilang sedikit pun, sem

  • Anak Rahasia Sang Alpha   93. Penantian Fay

    Sejak tadi aku tidak bisa berhenti tersenyum sendiri. Padahal di telepon, ayah sama sekali tidak mengatakan kapan tepatnya beliau akan datang. Hanya bilang akan menemuiku secepatnya.Namun entah kenapa, aku sangat yakin. Sore ini Ayah pasti datang. Perasaan itu begitu kuat sampai membuatku sama sek

  • Anak Rahasia Sang Alpha   85. Jawaban yang Tidak Datang

    Aaron tidak menjawab pertanyaanku. Ia hanya diam. Dan itu membuatku sangat takut.Bahwa apa yang aku rasakan ... tidak sama dengan apa yang ia rasakan.Dadaku perlahan terasa sesak. Jantungku berdegup tidak karuan saat aku menatap wajahnya, berharap pria itu mengatakan sesuatu, apa saja, untuk mene

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status