Elena masih mematung di tempatnya berdiri, seolah seluruh sendi di tubuhnya mendadak terkunci. Tatapannya terpaku, melekat pada perut Fay yang tampak membuncit dengan tidak masuk akal.Detik itu juga, seluruh warna kehidupan di wajah Elena memudar, menyisakan pucat pasi yang mengerikan."Nggak," bisiknya lirih. "Nggak mungkin, Fay."Fay melangkah mendekat dengan sangat hati-hati, kedua tangannya terangkat sedikit, mencoba menggapai ibunya yang tampak begitu rapuh."Bu," panggilnya, suaranya sarat akan permohonan.Namun, Elena justru melangkah mundur. Tubuhnya bergetar hebat dari ujung kepala hingga ujung kaki. Matanya sama sekali tidak beralih dari perut putrinya, memandangnya dengan tatapan ngeri, seolah sedang melihat sebentuk kutukan yang paling ia takuti selama hidupnya."Nggak," ulang Elena lagi, kali ini dengan gelengan kepala yang semakin cepat. "Ini nggak boleh terjadi. Ini nggak boleh terjadi pada putriku.""Bu, tolong dengarkan Fay dulu." Suara Fay mulai pecah, air mat
Read more