Labuan Bajo hari ini terasa terlalu tenang, jenis ketenangan yang membuat telingaku berdenging karena waspada. Sinar matahari pagi jatuh di atas permukaan laut, memantulkan cahaya perak yang menyilaukan mata, namun di dalam dadaku, mendung dari masa lalu ayahku belum sepenuhnya beranjak. Aku berdiri di dermaga kayu di depan warung, memandangi gulungan kertas tua yang diberikan Paman Aris semalam. Kertas itu berbau debu, tanah basah, dan rahasia yang terkubur selama dua puluh lima tahun."Nan, kopinya. Jangan dibiarkan dingin, nanti rasanya asam seperti pikiranmu," suara Fajar memecah lamunanku.Ia berjalan menghampiriku, kali ini tanpa menyeret kakinya sama sekali. Ada kekuatan baru di langkahnya sejak kejadian di Jakarta. Ia meletakkan cangkir kaleng berisi kopi hitam pekat di atas pagar dermaga. Aroma robusta yang kuat menyengat hidungku, memberikan sedikit rasa sauh di tengah badai emosi yang berkecamuk."Dit, apa kita benar-benar harus melakukan ini?" tanyanya pelan sembari men
Last Updated : 2026-04-04 Read more