Lampu minyak di atas perahu jukung Pak Haji bergoyang-goyang, menciptakan bayangan raksasa yang menakutkan di atas permukaan laut yang kini mulai tenang. Bau solar, bau ikan kering, dan bau darah segar dari bahu Fajar menyatu, menciptakan aroma pengabdian yang menyesakkan. Kinan duduk bersila di atas papan kayu yang kasar, memeluk kepala Fajar di pangkuannya. Rambutnya yang biasanya wangi melati kini kaku oleh garam laut, wajahnya coreng-moreng oleh jelaga hitam dari kapal The Empress yang kini tampak seperti obor raksasa di kejauhan."Ratih... tolong airnya," bisik Kinan. Suaranya hampir hilang, seperti gesekan kertas amplas di atas kayu.Ratih segera menyodorkan sebuah gelas plastik kusam berisi air tawar. Kinan membasahi ujung kain sarung tua pemberian Pak Haji, lalu dengan gemetar ia mengusap bibir Fajar yang pecah-pecah. Di sisi lain perahu, Bumi sudah tertidur pulas karena kelelahan yang luar biasa, kepalanya berbantalkan jaket kumal milik salah satu nelayan.Kinan melirik ko
Last Updated : 2026-03-19 Read more