Matahari Labuan Bajo mulai naik, membiaskan cahaya jingga yang garang di atas permukaan laut yang kini tampak seperti cermin pecah. Di pulau kecil tak berpenghuni itu, pasir hitamnya mulai terasa panas membakar telapak kaki. Kinan meringkuk di sudut gua yang lembap, memeluk Bumi yang napasnya masih tersengal. Bau lumut tua dan kotoran kelelawar di dalam gua itu bercampur dengan aroma amis laut yang dibawa angin.Di mulut gua, Fajar berdiri tegak. Bayangannya memanjang ke dalam, menutupi tubuh Kinan. Ia memegang sebilah pisau kecil—satu-satunya senjata yang tersisa dari tas darurat sekoci. Otot-otot lengannya yang penuh bekas luka itu tampak menegang, bergetar bukan karena takut, tapi karena amarah yang sudah mencapai ubun-ubun."Dit... jangan keluar," bisik Kinan. Suaranya serak, matanya yang sembap menatap punggung suaminya dengan ketakutan yang murni. "Mereka bawa senjata, Dit. Kamu cuma punya pisau itu."Fajar tidak menoleh. Suaranya terdengar berat dan dingin, seolah-olah ditar
Huling Na-update : 2026-03-18 Magbasa pa