Hujan di Labuan Bajo malam ini turun seperti tangisan yang dipaksakan—deras, kasar, dan menghantam atap seng gubuk kami dengan bunyi yang memekakkan telinga. Aku duduk di sudut ruangan yang remang-remang, hanya diterangi sebatang lilin yang cahayanya menari-nari ditiup angin yang menerobos celah dinding bambu. Di depanku, bungkusan ikan mati dengan mulut dijahit itu masih tergeletak, baunya amis busuk, menyengat hingga ke ulu hati.Fajar tertidur di samping Bumi, napasnya berat, sesekali kakinya berkedut hebat—reaksi saraf yang mencoba menyambung kembali namun terus gagal. Aku mengusap perutku. Ada pergerakan kecil di sana, sebuah protes bisu dari nyawa yang belum lahir atas ketegangan yang kuhadapi."Ibu akan menyelesaikannya, Nak," bisikku pelan. "Ibu tidak akan membiarkanmu lahir di atas aspal yang berlumuran darah."Tepat pukul dua pagi, sebuah pesan masuk ke ponsel tuaku yang layarnya sudah retak seribu. Hanya sebuah koordinat: Dermaga Tua, Titik Nol. Sendiri.Aku berdiri per
Last Updated : 2026-03-27 Read more