Udara di dalam lorong bawah tanah itu terasa makin tipis, seolah-olah tanah Flores sendiri enggan memberikan ruang bagi rahasia yang kami bawa. Aku berlari dengan kaki yang terasa seperti dipimpin oleh memori yang bukan milikku. Di depanku, Ibu bergerak seperti bayangan—tangkas, dingin, dan asing. Aku menatap punggungnya, mencoba mencari sosok wanita yang dulu sering mengajariku cara membuat sambal terasi di dapur sempit kami di Jakarta. Namun, yang kulihat hanyalah seorang prajurit yang sedang pulang dari pengasingan."Kakek...?" suaraku akhirnya keluar, parau dan penuh penolakan. "Maksud Ibu, Kakek Ibrahim? Pria yang fotonya selalu Ibu simpan di dalam alkitab tua itu? Pria yang Ibu bilang mati sebagai pahlawan di perbatasan?"Ibu berhenti mendadak di ujung lorong yang berbatasan dengan dinding gua karang. Ia berbalik, cahaya lampu LED kecil di dinding menciptakan bayangan cekung di wajahnya yang kuyu."Pahlawan hanyalah label bagi pemenang, Kinan," suara Ibu terdengar seperti ges
Last Updated : 2026-04-19 Read more