Se connecterAra duduk termenung di salah satu sofa luar ruang kerja Yuuscar, tepat di antara rak-rak vinyl dan alat musik yang tertata rapi. Tidak ada pelanggan sore itu. Hanya alunan musik jazz yang mengalun pelan, cukup untuk membuat pikirannya semakin tenggelam.
Kepalanya tertunduk. Di tangannya, sekuntum bunga kristal berkilau terperangkap di jemarinya. Tatapannya terlihat kosong, menerawang.Apa yang sebenarnya terjadi padanya?Tak mungkin manusia biasa memenuhi satu ruang“Sungjael!” Sosok yang dipanggil itu menoleh ketika seseorang berjalan tergesa ke arahnya. Napasnya terdengar memburu, seolah datang kemari tanpa sempat berhenti sedikit pun. Sungjael segera bangkit dari duduknya, lalu memberi hormat begitu sosok itu tiba di hadapannya. “Sephael. Maaf mengganggu waktumu.” “Ah, tidak.” Sephael menggeleng pelan. “Aku mendengar kau datang ke ruanganku, jadi aku langsung menyusul. Ada keperluan apa?” Sungjael tersenyum tipis. Dari raut wajah Sephael, terlihat jelas bahwa pemimpin para seraphim itu menaruh harapan besar atas kedatangannya. Wajar saja. Sungjael jarang keluar dari ruangannya karena tugasnya terlalu banyak—mengurus kelahiran dan kematian seluruh makhluk bukan perkara mudah. “Duduklah dulu,” ujar Sephael seraya menarik kursi di hadapan meja kerjanya. Dia duduk lebih dulu sebelum kembali berkata, “Sebenarnya aku berniat menemuimu, tapi akhir-akhir ini aku terlalu sibuk. Jadi aku senang kau dat
"Vance, ada apa?" "Tidak apa-apa." Vance menggaruk tengkuknya sebelum mendongak ke langit Tír na nÓg yang jauh berbeda dari dunia manusia. Langit itu terasa menenangkan untuk dipandang, meski dia tahu ketenteraman tersebut hanyalah bagian dari sihir sang Raja peri. Pohon-pohon raksasa menjulang layaknya menara, sungai-sungai mengalir dengan air semanis madu, udara terasa segar, makanan melimpah, tidak ada diskriminasi, dan rakyat hidup makmur dalam kedamaian. Semua itu tercipta berkat Raja negeri yang kini Vance tinggali. Tír na nÓg memang pantas dijuluki sebagai dunia mimpi. Dan hingga sekarang, Vance masih sulit percaya bahwa pria aneh bernama Hope Nightray adalah sosok di balik negeri seindah ini. "Tapi wajahmu merah, tingkahmu juga aneh. Apa kau sakit?" "Tidak ...." Lagi, Vance menggaruk tengkuknya, kali ini disertai tawa hambar. Sosok yang berbicara padanya bernama Alice, salah satu
Pada akhirnya, malam panjang itu berhenti ketika tubuh Ara benar-benar menyerah pada kelelahan. Sesaat setelah Anthony memeluknya erat dalam dekapan hangat, kesadaran gadis itu perlahan tenggelam bersama napasnya yang mulai teratur. Anthony masih terdiam cukup lama di atas ranjang, menatap wajah Ara yang tertidur pulas di bawah cahaya remang lampu kamar. Jemarinya perlahan menyingkirkan helaian rambut yang menempel di pipi gadis itu. Ada bekas air mata di sana, juga rona lelah yang belum sepenuhnya hilang. Untuk sesaat, pria itu menutup mata. Menyesal? Tidak. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya. Dengan hati-hati, Anthony membersihkan tubuh Ara menggunakan air hangat, mengganti pakaian gadis itu, lalu menyelimutinya hingga rapat. Sentuhan yang sebelumnya dipenuhi bara kini berubah jauh lebih lembut, cukup berlebihan seolah Ara adalah sesuatu yang mudah pecah. Setelah memastikan Ara benar-benar tertidur,
“Sedikit lagi,” bisiknya lirih. “Bertahanlah untukku, Ara.” Dada Ara naik turun tidak beraturan. Bibirnya bergumam kacau, memanggil nama Anthony diselingi kata tuan di antaranya. Air matanya terus jatuh tanpa bisa ditahan. Sensasi asing yang memenuhi tubuhnya membuat dirinya nyaris kehilangan tenaga. “K-kumohon ... Tuan, berhenti—akhh!” Anthony menatapnya lama. Sejujurnya, melihat Ara menangis seperti ini membuat sisi kecil dalam dirinya merasa bersalah. Namun, pada saat bersamaan, kehangatan yang melingkupi dirinya sekarang pun membuat Anthony semakin sulit berpikir jernih. Anthony tidak akan mundur sebelum dia mencetak gol. "Keluarkan! K-kumohon ...," racau Ara dengan napas tersengal. Matanya terpejam kala sang tuan menyerbu wajahnya dengan kecupan-kecupan hangat. Tak tahu saja bahwa Anthony tengah mengambil ancang-ancang. “Ara ....” Suara rendah itu entah bagaimana berhasil membuat Ara sedikit tenang
“Tenanglah,” bisiknya lembut. “Aku tidak akan menyakitimu,” ujar Anthony lirih sambil mengusap pipinya. “Aku melakukan ini agar kau siap, aku tidak ingin membuatmu terluka saat milikku memenuhimu. Ini sangat sempit, kau tahu?” Ara mengangguk pelan meski napasnya masih gemetar. Namun, ketika Anthony kembali mendekat dan memberi sentuhan yang lebih dalam dari sebelumnya, tubuh Ara refleks menegang. Jemarinya langsung mencengkeram kuat lengan pria itu sementara isakan kecil lolos dari bibirnya. Anthony memperhatikannya dalam diam, merekam setiap ekspresi yang tersaji di hadapan matanya. Dengan Dengan hati-hati, dia melonggarkan sabuk yang melilit pinggangnya, kemudian melepaskan kaitan kancing celana tanpa menghentikan kegiatannya untuk menyiapkan Ara. Membayangkan dirinya menerobos pusat si gadis, membuat miliknya berkedut antusias Dia bergerak perlahan, tetap menjaga sentuhannya seolah takut membuat gadis itu benar-benar ketakutan. Namun, di balik sorot
“Katakan padaku, Ara,” ujar Anthony sekali lagi sambil mengusap rambut gadis itu perlahan. “Apa kau benar-benar yakin menginginkan aku?” Pertanyaan itu membuat Ara membuka matanya perlahan. Di bawah cahaya remang malam, Anthony terlihat terlalu berbahaya untuk disentuh. Rambut hitamnya sedikit berantakan, sorot mightblack itu dipenuhi sesuatu yang membuat jantung Ara berdebar semakin kacau. Namun, anehnya Ara tidak merasa takut. Sama sekali tidak. Yang dia rasakan justru keinginan untuk tetap berada di bawah pria itu lebih lama lagi. “Mhm ....” Ara mengangguk pelan dengan napas gemetar. “Aku menginginkannya.” Tatapan Anthony langsung berubah semakin dalam. Seolah jawaban Ara barusan adalah hal terakhir yang mampu menahan kewarasannya. Perlahan, pria itu menunduk hingga dahi mereka saling bertemu. “Kau benar-benar tidak adil,” gumamnya lirih. “Bagaimana mungkin kau mengatakan hal seperti itu lalu berharap







