LOGINSelama perjalanan kereta dari Stasiun Paddington, Ara sama sekali tidak berbicara. Dia hanya memandang ke luar jendela, menatap domba-domba yang tersebar di sepanjang bukit dan rumah-rumah batu kapur berwarna kuning madu yang berkelebat di sepanjang jalur.
Anthony pun sama; pria itu memilih membaca koran yang telah disediakan, sesekali melirik Ara untuk memastikan keadaannya. Bahkan ketika mereka tiba di Cotswolds, tepatnya di desa Naunton setelah dua jam perjalanan, tak satu pun dar"Hentikan."Suara rendah itu terdengar di samping wanita malang tersebut. Pria bertubuh besar yang hendak melayangkan pukulan sontak membeku saat pergelangan tangannya dicekal oleh seseorang entah sejak kapan muncul di sana.Wanita itu tersentak. Dengan napas memburu, dia segera memeluk anaknya lebih erat lalu menjauh beberapa langkah."Huh?" Pria mabuk itu memicingkan mata, berusaha memfokuskan pandangannya pada sosok di hadapannya. "Kau siapa, Bocah? Jangan ikut campur kalau tidak ingin mati di tanganku."Juslandier nyaris tertawa. Dalam jarak sedekat ini, aroma alkohol murahan dan bau mulut manusia itu menyerang indra penciumannya tanpa ampun.Menjijikkan.Namun, suasana hatinya sedikit membaik. Mungkin karena malam ini membosankan, dan manusia ini cukup baik untuk dijadikan hiburan. Atau mungkin karena dirinya sedang terlalu sering memikirkan seseorang hingga pikirannya tidak bisa bekerja sebagaimana mestinya.Seringai tipis teruk
Tanpa disadari, malam kembali menjemput.Juslandier bahkan tidak memiliki waktu untuk beristirahat. Bukan karena tugas yang menumpuk atau laporan yang harus dia selesaikan, melainkan karena pikirannya terus dipenuhi oleh satu sosok yang sama.Araphael.Nama itu berputar-putar di kepalanya seperti mantra yang tak kunjung selesai dirapalkan.Sejak berpisah beberapa jam lalu, Juslandier mendapati dirinya melakukan sesuatu yang terasa konyol. Dia mengingat setiap percakapan mereka, setiap senyuman yang ditunjukkan Araphael, bahkan hal-hal kecil yang seharusnya tidak penting.Seperti yang diperintahkan malaikat itu.Jantungnya memang berdebar setiap kali mengingatnya. Ada sensasi aneh yang menggelitik di dasar perutnya, membuat pikirannya terasa ringan sekaligus kacau. Namun, tetap saja dia masih belum mengerti.Apa sebenarnya cinta itu?Berjam-jam lamanya Juslandier berdiam diri di paviliun pribadinya sambil memperhatikan ham
Sosok berambut jelaga itu meregangkan otot-otot tubuhnya begitu menginjakkan kaki di paviliun pribadinya. Sepasang iris biru gelap miliknya bergerak mengamati sekeliling ruangan. Hanya dalam hitungan detik, kedua matanya langsung menyipit.Ada energi asing yang tertinggal di tempat ini. Tipis, tetapi cukup kuat untuk membuatnya menyadarinya."Tidak ada yang berani masuk ke sini selain para pelayan khusus yang ditunjuk Ayah," gumamnya pelan. Pandangannya bergeser ke sisi kanan ruangan.Tanpa tergesa, Juslandier melangkah menuju sumber energi yang paling pekat. Tak lama kemudian, dia menemukan seseorang berdiri bersandar pada dinding dengan kedua tangan terlipat di depan dada.Mikhail.Tatapan merah milik iblis klan Littenheim itu langsung bertemu dengan miliknya."Kau sudah kembali?""Kenapa kau masuk ke tempatku?" tanya Juslandier datar, mengabaikan pertanyaan sepupunya.Mikhail mendengkus pelan. "Bukankah aku yang seharusnya b
"T-tunggu, Juslandier!" Araphael lekas mengurai ciuman mereka sepihak, kemudian memeluk erat leher Juslandier. Sejemang dia mengulum bibirnya, mengembuskan napas panjang dengan bibir yang melengkungkan senyuman. "Kenapa kau terburu-buru sekali?"Juslandier terdiam sejenak, membiarkan embusan napas Araphael menerpa lehernya. Lalu dia mendorong lembut bahu Araphael, iris biru itu memandang tanpa berkedip. Lagi-lagi, Juslandier tak bosan untuk menghafal setiap garis wajah malaikat di hadapannya.Jemari besar milik sang iblis menyentuh pipinya perlahan, begitu lembut hingga membuat Araphael merasa gugup, panas merambati kedua telinganya."A-ada apa?" Suaranya terdengar lebih pelan dari yang dia inginkan, Araphael begitu merasa begitu kecil ketika ditatap seperti ini. "A-apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?"Alih-alih menjawab, Juslandier hanya menatapnya cukup lama, seolah berusaha menyimpan momen itu di dalam ingatannya. Jantung Araphael berdetak semakin ce
Juslandier mendengkus pelan, satu sudut bibirnya terangkat."Kau lamban sekali menyadarinya." Jemarinya bergerak menyelip ke sela helaian rambut Araphael yang diterpa angin, sepasang netra biru samudera itu memandang tepat pada iris kuning terang yang memantulkan bayangan dirinya. Suaranya terdengar tenang, tetapi ada sesuatu yang bergetar di baliknya. "Ya, dia ibuku."Araphael memaku, sedangkan Juslandier hanya tersenyum tipis. Senyuman yang tidak sepenuhnya bahagia, tetapi juga tidak lagi dipenuhi kesedihan seperti sebelumnya."Aku tidak tahu apakah dia bahagia," lanjut Juslandier, tatapannya perlahan bergeser ke langit. "Aku tidak tahu apakah dia menyesali keputusannya meninggalkan Surga demi makhluk keji seperti ayahku."Juslandier terkekeh pelan. Atau mungkin, lebih tepat disebut menertawakan dirinya sendiri."Aku bahkan baru mengetahui bahwa ibuku adalah malaikat. Dan hari ini, aku akhirnya mengetahui namanya." Bertepatan dengan i
Matahari sudah semakin tinggi, tetapi Juslandier Bloodfallen masih belum kembali ke dunia tempat dirinya berasal.Kepalanya terbaring nyaman di atas paha Araphael. Kedua pelupuk matanya terpejam, menikmati sensasi saat jemari malaikat itu bergerak perlahan menyisir rambut jelaganya. Sentuhan tersebut terasa ringan, nyaris tak memiliki bobot, tetapi entah mengapa mampu membuat seluruh tubuh Juslandier mengendur.Sudah sangat lama sejak terakhir kali dirinya merasa setenang ini. Mungkin tidak pernah.Suara senandung tanpa lirik mengalun pelan dari bibir Araphael. Merdu dan lembut, juga menenangkan. Juslandier membiarkan dirinya tenggelam dalam suara itu, membiarkan dirinya menikmati setiap belaian yang diberikan kepadanya.'Apa ini karena darah malaikat yang mengalir dalam tubuhku?'Pikiran itu kembali melintas. Atau mungkin karena orang yang berada di sampingnya adalah Araphael?Juslandier mengembuskan napas panjang, lalu perlahan membuka mat







