Ruangan itu seolah menyempit. Bukan karena dindingnya yang bergerak, melainkan karena kehadiran Xeyren yang terlalu mendominasi. Terlalu dekat, terlalu nyata, dan terlalu… menguasai. Napas Lovelle tercekat ketika tubuhnya ditarik tanpa bisa memberikan perlawanan yang berarti. Punggungnya menyentuh sandaran sofa, sementara Xeyren tetap berdiri di hadapannya, tinggi, kokoh, seperti bayangan gelap yang menelan seluruh cahaya. “Aku kagum pada keberanianmu untuk melarikan diri dariku…” gumannya rendah, seperti bisikan yang merayap di atas kulit. Namun alih-alih marah, yang muncul di wajah tampan pria itu justru sesuatu yang lebih berbahaya. Sebuah rasa ketertarikan yang pekat, hampir seperti sebuah obsesi. Jemarinya kembali menyentuh wajah Lovelle, dari rahang, lalu turun ke leher. Dan gerakannya berhenti tepat di titik di mana denyut nadi gadis itu bergetar di bawah kulitnya. Xeyren bisa merasakannya, hingga membuat satu sudut bibirnya terangkat ke atas. “Jantungmu
Read more