Cahaya putih menyilaukan, bau antiseptik yang tajam memenuhi udara, dan suara "bip" yang teratur dan monoton, semuanya itu menandakan satu hal...Bahwa dirinya masih hidup.Jari pria itu tampak sedikit bergerak. Meskipun sangat halus, namun cukup untuk membuat alat pemantau di sampingnya bereaksi.Beberapa detik kemudian, kelopak matanya bergetar. Lalu perlahan terbuka.Dengan pandangan yang masih kabur, ia menatap langit-langit yang putih, lampu yang terang benderang, serta seluruh rasa sakit yang langsung menyergap dari sekujur tubuhnya. “…ugh…” Suara serak itu hampir tak terdengar. Salah satu pria berjas hitam yang berjaga di sudut ruangan langsung mendekat. “Tuan Luca?” suaranya rendah, namun terdengar tegang.Luca tidak langsung merespons, desah napasnya masih terdengar berat. Matanya bergerak pelan, mencoba untuk fokus. Fragmen-fragmen ingatan pun mulai kembali. Darah, serangan, dan… seorang wanita. “…Cre…” bibirnya bergerak, hampir tak bersuara. Pria di sampingny
Read more