Reza masih diam di dalam mobil, saat mereka meninggalkan rumah Herman. Tangannya mencengkeram setir terlalu erat. Kata-kata terakhir pamannya terus terngiang di kepalanya.“Dia orang pertama yang menyarankan pernikahan kontrak kalian.”Kalia menoleh pelan. “Reza…”“Aku sedang berpikir,” jawabnya singkat.“Siapa saja yang tahu rencana pernikahan kontrak itu sejak awal?”Reza menghembuskan napas panjang. “Hanya beberapa orang, ayahku, paman Herman, paman Sudarto, dan...”Ia berhenti.Kalia menatapnya. “Dan?”Reza menggeleng. “Aku belum ingin menyimpulkan.”Mobil melaju dalam diam. Langit Jakarta semakin gelap, seolah menambah berat suasana di antara mereka.*****Beberapa hari setelah kembali, Reza tidak bisa tinggal diam. Setiap malam, ia berada di ruang bawah tanah rumahnya. Ruangan yang dulunya hanya gudang, kini dipenuhi dengan laptop, papan investigasi, dan dokumen.Reza duduk di depan layar laptopnya. Peta jaringan bisnis terbuka di depannya.“Ada terlalu banyak orang yang terli
최신 업데이트 : 2026-03-17 더 보기