Home / Romansa / Takdir Kedua Istri Sang Kapten / 47. Cara Bertemu Rengganis

Share

47. Cara Bertemu Rengganis

Author: Min Ye-Rin
last update publish date: 2026-03-28 12:07:56

“Kunci semua pintu.”

Perintah Raka turun di pagi buta. Bahkan mentari saja masih malu-malu menampakkan dirinya. Namun wajah tegang Raka sudah tidak bisa disembunyikan.

Kematian Lukas sudah seperti genderang perang untuknya. Aluna bahkan tidak berani menatap mata Raka secara langsung.

Raka masih berdiri di ruang tengah saat suara langkah tergesa terdengar dari arah dapur.

“Pak,” panggil Bi Sari, me
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   94. Tidak Ada Gunanya Merasa Bersalah

    “Bertahan ya…” bisiknya. “Kamu janji sama aku.” Raka tidak menjawab. Namun jemarinya yang dingin, perlahan bergerak. Sangat lemah, tapi dia tetap berusaha menggenggam balik tangan Aluna, membuat dada Aluna kembali terasa sesak. Mereka akhirnya sampai di rumah sakit militer. Pintu UGD terbuka dengan kasar. Tandu langsung didorong masuk dengan cepat. Para tenaga medis sudah bersiap di sana. “Pasien trauma berat!” seru salah satu petugas. Aluna ikut turun. Dia berjalan di samping tandu, tidak pernah melepaskan pandangannya dari Raka. Namun langkahnya terhenti ketika seorang perawat menahan bahunya. “Maaf, Anda tidak bisa masuk ke dalam,” katanya tegas. Aluna langsung menggeleng. “Saya istrinya.” “Mohon tunggu di luar.” “Tidak—” “Luna.” Suara itu membuat

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   93. Kebencian Aluna

    Andi tidak langsung menjawab. Namun tatapannya tidak sedingin tadi. Ada sedikit rasa bersalah terbesit di sana. Tapi jelas, itu tidak berarti sama sekali. Dion berusaha menarik Aluna. Dia tidak ingin kemarahannya justru menyeretnya ke dalam masalah baru. Namun isyarat dari Andi membuat Dion melepaskan tangan Aluna. “Saya minta maaf—” Tawa dingin Aluna membuat Andi tidak melanjutkan kalimatnya. Matanya sedikit menyipit menatap Aluna yang sudah sinis padanya. “Maafmu apa bisa membuat luka di tubuh suami saya sembuh dalam sekejap?” Lagi-lagi, Andi tidak bisa menjawab. Dia menarik napas gusar, lalu melembutkan tatapannya. “Saya tahu kalau maaf saya ini tidak begitu berarti,” ujarnya. “Kami akan bertanggung jawab. Bukti sudah terkumpul berkat keberanian Raka. Dan pelaku juga sudah tertangkap—” “Sebenarnya apa tugas kalian?” potong Aluna. “Sela

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   92. Bertemu Arga

    Ekspresi Arga sulit dijelaskan. Antara marah, kecewa, dan gelisah. Namun bukan itu yang berhasil Aluna tangkap dengan semua inderanya, melainkan wajah Arga yang memar dengan sudut bibir yang sudah sobek. Aluna menggeng cepat. Persetan dengan kondisi Arga. Dia kesini bukan untuk itu. Dengan percaya diri, Aluna mengangkat dagunya. Dia menatap Arga lebih dalam. “Dimana Raka?” Pertanyaan ini turun dengan sangat cepat. Tanpa ragu. Alih-alih langsung menjawab, Arga justru mendengus. Dia membuang muka. Seolah apa yang Aluna tanyakan, adalah hal yang membuatnya seperti ini. “Mungkin dia sudah mati.” Arga tetap berusaha berkata dingin. Tanpa dugaan, Aluna menarik tangan Arga kasar. Membuat keduanya langsung berhadapan. Kata bulat Aluna langsung mengunci Arga. “Jaga ucapanmu.” Aluna sedikit meremas lengan Arga. Membuat pria itu sedikit menyer

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   91. Kembali Ke Dunia Itu

    Pintu hitam itu muncul lagi. Awalnya masih terlihat samar, tapi makin lama semakin jelas. Aluna tidak beranjak. Jari telunjuknya masih mengarah pada kemunculan pintu itu. Sedangkan Sindi, dia sama sekali tidak melihat apapun. “Apa Luna? Ada apa?” tanya Sindi bingung. Dia memegangi kepalanya yang berdenging. Sindi mundur satu langkah. Entah apa yang terjadi pada paru-parunya. Rasanya sesak dan sangat berat. Seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak tipis. “Ahh!” Keluhan Sindi membuat Aluna menoleh cepat. Pupil matanya melebar. Dia langsung meraih tubuh Sindi yang hampir ambruk menghantam dinding di belakangnya. “Sindi… kamu kenapa, Sin!” Aluna sedikit menggoyang tubuh Sindi. Dia meraih stetoskopnya, lalu mulai memeriksa. Tidak ada yang aneh. Bahkan detak jantung dan denyut nadi Sindi masih normal. Tapi tubuhnya tidak mengatakan hal yang sama.

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   90. Raka Aku Mohon... Panggil Aku

    Mata Aisar bergetar. Dan untuk sepersekian detik, hanya sepersekian detik, sebelum emosi di wajahnya kembali berubah. Namun di detik selanjutnya, dia kembali tertawa. “Sayangnya, aku nggak butuh nasihat dari orang yang sebentar lagi akan mati.” Dia berdiri. Menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. “Dan satu lagi,” lanjutnya sambil melirik Raka. “Aku sudah menemukan cara untuk menang.” Raka tidak bergerak. Dia menatap Aisar dengan pandangan yang sudah buram. “Aku nggak perlu jadi tokoh utama,” kata Aisar. “Aku cuma perlu menghancurkan tokoh utamanya, dan keluar sebagai pemenangnya.” Sunyi kembali mencekik. Ucapan itu menggantung di udara seperti ancaman yang sudah pasti terjadi. Aisar menatap tubuh Raka yang hampir tak bergerak. “Permainan selesai,” katanya dingin. “Walaupun kamu tidak mati di tanganku, kamu akan tetap mati di tangan mereka semua.” Aisar menarik kembali rambu

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   89. Nasib Villain Dan Tokoh Utama

    “Tidak ada yang melihat kita, Raka,” katanya. Dia melepaskan ikatan tangan Raka. Dan seketika, tubuh jangkung itu benar-benar ambruk menyentuh lantai dingin. Rasa nyeri sudah tidak bisa lagi dijelaskan dengan kata. Bahkan ini melebihi sakitnya dihujani peluru. Dengan gerakan yang cepat, Aisar menarik rambut Raka hingga pria itu mendongak. Matanya terpejam beberapa saat, lalu dia kembali tersenyum. “Dia… dia istriku,” gumam Raka nyaris tak terdengar. “Jangan… jangan pernah sentuh dia.” Gelak tawa Aisar membuat Raka menyipitkan mata. “Aku sudah menyentuhnya. Kami bertemu disana. Dia sangat cantik, menarik. Dia juga pintar. Ah… satu lagi—” Aisar menggantung kalimatnya beberapa detik. “Yang jelas… dia bukan Aluna Rengganis—istrimu.” Kedua mata Raka menggelap. Rahangnya mengeras dengan kedua tangan yang berusaha ia kepal. “Apa maumu?” tanya Raka. “Kenapa kamu melakukan semua ini, Aisar!” “Kamu tenta

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   69. Dunia Yang Kini Dia Pijak

    “Aluna… kamu yakin?” tanya Raka masih ragu. Dia menatap wanita di depannya dengan sangat serius. Dunia di belakangnya masih berhenti. Belum ada yang bergerak kecuali mereka berdua. “Aku serius, Raka.” Aluna memegangi kedua pundak Raka, menatapnya dalam.

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   68. Semuanya Mulai terungkap

    “Apa sih yang kamu bicarakan?” Aluna berusaha untuk tetap tenang. Dia belum bisa membongkar kebenaran ini. “Aku istrimu. Aku Aluna. Masa iya kamu tidak bisa membedakan.” Aluna masih terus membalut luka di lengan Raka sampai selesai. Pria di depannya tidak la

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   67. Kecurigaan Raka

    Tubuh Aluna melemas. Dia terjatuh tidak sadarkan diri tepat dipelukan Raka. Beruntungnya Raka segera meraih tubuh kecil itu. Dengan gerakan cepat, Raka kembali menyerang mereka semua. Anehnya, peluru yang digunakan tidak ada habisnya. Dia tahu betul kapasitas peluru

  • Takdir Kedua Istri Sang Kapten   66. Tertembak

    Raka terdiam sepersekian detik. Di tengah suara tembakan yang masih bersahutan, kalimat itu terdengar begitu kontras. Tapi entah kenapa, justru itu yang membuat rahang Raka sedikit mengendur. Dia menoleh sekilas ke arah Aluna. Wajah wanita itu pucat, tap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status