Kepanikan dan histeria yang menyelimuti penthouse itu perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang luar biasa tegang. Damien, yang sejak awal sudah bersiap menghadapi reaksi terburuk dari Nenek Ema.Yang sama sekali tidak diduga oleh Damien maupun seluruh anggota keluarga di ruangan itu adalah ketegaran luar biasa dari wanita tua tersebut.Nenek Ema tidak menjerit, tidak marah, dan tidak mencaci maki kebohongan besar itu. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang dengan dada yang bergetar hebat, lalu mengembuskannya perlahan.Saat ia kembali membuka mata, sorot rapuh dan hancur itu perlahan memudar, digantikan oleh ketenangan dan kendali emosi yang luar biasa.Dengan langkah pelan, Nenek Ema berjalan mendekati layar televisi raksasa itu, mengangkat tangan keriputnya, dan menyentuh permukaan layar yang dingin seolah sedang membelai wajah pria berbaju putih yang menatap dari balik sana."Damien," panggil Nenek Ema. Suaranya terde
Read more