Di ruang kerja raksasa itu, ketegangan absurd untungnya dengan cepat mereda. Melody, yang menyadari betapa hancurnya harga diri dua pria paling berkuasa di keluarga itu, akhirnya memutuskan untuk berbaik hati.Dengan satu helaan napas anggun dan seulas senyum maklum, ia memaafkan bualan konyol suami dan pamannya. Melody membiarkan mereka mempertahankan sisa-sisa wibawa di depan Kakek Ken, mengakhiri sandiwara dengan damai.Namun, pengampunan dari seorang Melody ternyata memiliki syarat dan ketentuan yang berlaku.Begitu kembali ke kamar tidur, senyum lembut di bibir Melody seketika memudar, berganti dengan raut wajah penuh selidik. Ia membalikkan badan, menyandarkan punggungnya pada daun pintu berukir itu, dan bersedekap, memblokir jalan suaminya menuju ranjang."Nah, Tuan Damien yang tampan dan terhormat," ucap Melody dengan nada menuntut yang sangat manis, matanya memicing menatap sang suami. "Karena sekarang kita sudah berdua dan tidak ada Kakek Ken ya
Read more