“Siapa yang hamil?” Suara lantang terucap. “Kamu, Rin?”Aurin diam, membeku, bibirnya kelu dan bisu saya menyadari siapa yang bertanya. Ia menoleh ke samping, menggeleng cepat. Jempol kanan mengarah tepat pada majikan perempuannya sembari menjelaskan. “Bukan, Tuan. Nyonya yang hamil.”“Apa?” Rayden bergeming, syok. Netra tajam menatap Dea dan Aurin, bergantian. “Dea hamil?”Aurin takut akting itu tidak nyata. Ia lantas mengabaikan Rayden dan mendekati Dea. Ia memeluk serta mengucap selamat. Lengannya melingkar di punggung majikannya. Guna lebih dramatis, Aurin sengaja menangis. “Nyonya, saya ikut senang. Selamat atas kehamilan Anda. Ini kabar yang luar biasa.”Dea tak merespons, mungkin masih terkejut. Jadi, Rayden maju untuk memastikannya. Ia menatap Dea. Saat mendekat, gerak kakinya melambat. Ada rasa sesak. Bukan karena sedih, tapi bahagia. “K-kamu hamil, Yang? Beneran?” Pelukan Aurin terlepas. Dea menatap Rayden.
Read more