“B-bersiap untuk apa, Nyonya?” Aurin membelalakkan mata. Permintaan majikannya ini selalu out of the box, membuatnya amat kebingungan. Dea menatap Aurin dengan tatapan menuntut, “Hari ini masih masa suburmu, ‘kan?” Lagi, Aurin mengangguk. Dengan raut wajah polos ia bertanya, “B-benar, Nyonya. Memangnya ada apa?” “Bagus.” Dea memuji, wajahnya sumringah. “Kalau begitu, kamu harus melakukannya lagi dengan suamiku. Dengan begitu, peluang hamilmu akan semakin besar.” Aurin membeku, tenggorokannya mendadak kering. “Melakukannya lagi?” “Iya, kamu harus melakukannya lagi,” angguk Dea dengan mantap. “Kamu yang di atas nanti, peganglah kendalinya.” Meski sebenarnya ia ingin hamil dalam waktu dekat agar kesepakatan ini segera selesai, tetapi Aurin sempat ragu. “T-tapi, Nyonya. Bagaimana kalau ketahuan? Tadi, Tuan Rayden sempat memperhatikan saya, seolah sedang memperhatikan sesuatu. Dia mungkin sudah curiga. Saya takut.” “Tidak mungkin dia curiga.” Dea mendengus remeh sembari mengibaska
Mehr lesen