“Oma lihat … badanmu agak berisi, ya?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja, tanpa tendensi apapun—sekadar pertanyaan dan pengamatan jujur dari Marlin. Namun bagi Rayden, kata-kata itu sedikit menyadarkannya. Sejurus kemudian, ia amati perubahan fisik yang amat menonjol pada Aurin. Seingatnya, Aurin cenderung kurus. Tapi sekarang, Aurin terlihat … berisi. Sama seperti ucapan Omanya barusan. “Dadamu juga besar,” kekeh Marlin lagi. Ia mengusap punggung tangan Aurin dengan jari jemarinya yang mengeriput, sembari berkomentar, “Apa kamu baru saja melahirkan?” Pembahasan yang sensitif ini mulai membuat Rayden jengah. Ia tahu, Omanya ini memang sangat pelupa, ditambah lagi faktor usia. Pertemuan Rayden dan Dea dengan Oma Marlin sudah terjadi empat tahun lalu. Maka dapat dipastikan, ingatan Oma Marlin tentang sosok Dea sebagai cucu keponakan menantunya sudah mulai kabur. Maka, Rayden menyudahinya dengan kalimat lembut agar tidak menyinggung, “Bukan baru saja melahirkan, Oma. Tapi, d
Magbasa pa