“Terima kasih, Dok.”Aurin menerima hasil USG tersebut dengan tangan gemetar. Meskipun kehamilan ini terpaksa ia lakukan, tapi ia sangat menyayangi bayinya. Kini, ia duduk di ruang depan—tempat Dea periksa tadi. Dea dan Rayden sudah pulang sekitar setengah jam yang lalu. Sebelum pergi, Dokter Ken berkata, “Pastikan jaga kandunganmu dan makan makanan bergizi, empat sehat lima sempurna. Kalau ada keluhan, segera periksa.”Aurin kembali menatap wajah sang dokter dengan seksama. Tadi, ia memang takut. Sekarang, ia lebih santai. “Keluhan bagaimana maksudnya, Dok?”Ken menjelaskan, “Contohnya seperti mual muntah yang parah, kram perut, timbul flek dari jalan lahir, dan lain sebagainya. Periksalah sekurang-kurangnya satu bulan sekali.”“Oh, baik, Dok. Saya mengerti.” Aurin menyimpan saran itu pada ingatannya. Tak berhenti di situ, ia lebih berisik kali ini. “Dok, untuk susu kehamilan bagaimana? Apa saya perlu meminumnya? Adakah saran susu yang terbaik?”“Tentu.” Ken menatap Aurin. Usai mel
Magbasa pa