“Marlin … bicara apa saja sama kamu?” tanya Rita tanpa basa-basi. Acara keluarga usai pukul sepuluh malam. Para anggota keluarga besar telah meninggalkan kediaman Rayden. Di ruang keluarga, hanya tersisa Rayden dan Rita saja. Sementara Dea, tidak tahu ke mana. Aurin—yang mulai sibuk membereskan sisa jamuan, ditanyai Rita seperti itu. Tangannya yang baru saja meraih tumpukan gelas kotor, sedikit terhenti. Ia menanggapi dengan santai, “Tidak bicara apapun, Nyonya. Hanya bertanya kapan saya mulai bekerja di sini dan saya berasal dari mana. Hanya obrolan ringan biasa,” jawab Aurin sopan. Rita memicingkan mata, ia tak langsung percaya begitu saja pada pembantu anaknya ini. “Dan kamu … tidak bicara apapun padanya, ‘kan?” Pertanyaan Rita terdengar seperti peringatan dingin. Seolah Rita ingin memastikan bahwa rahasia apa pun di rumah ini tidak sampai bocor ke telinga Marlin yang dikenal memiliki insting kuat. “Tidak, Nyonya,” sahut Aurin pelan sambil menunduk. “Ya sudah.” Rita m
Read more