Yuna membeku di lantai kamar tamu, ponsel masih menempel di telinganya. Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan. Yuna merasa dunia seketika sempit. Dua suara pria yang berbeda, dua dunia yang selama ini ia pisahkan dengan susah payah, kini hampir bertabrakan di depan matanya. Napasnya gemetar. Tangannya dingin. Otaknya blank beberapa detik. “Te … televisi,” jawab Yuna tergagap ke Darren. “Saya lagi di rumah. Televisinya nyala keras.” Darren diam sejenak, jelas tidak sepenuhnya percaya. “Televisi …?” tanyanya pelan. “Iya,” Yuna buru-buru menjawab. “Darren, saya capek. Besok saja kita bicara lagi, ya?” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menutup telepon. Namun tiba-tiba, pintu kamar terbuka dari luar— Klik. Kai berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar dan sorot mata yang tajam. Ternyata ia memang punya akses cadangan ke seluruh ruangan di penthouse ini. Yuna masih duduk di lantai dengan punggung bersandar ke pintu yang kini terbuka. Ia buru-bur
Mehr lesen