MasukYuna mundur beberapa langkah saat Kai terus mendekat. Dadanya naik turun tidak beraturan. Rasanya seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang akhirnya retak setelah terlalu lama ditahan.
“Kamu belum jawab pertanyaan saya, Yuna,” ucap Kai rendah dan tenang. “Hubungan kamu dengan Darren itu apa?”Yuna membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar karena kepalanya terasa penuh. Semua tekanan, semua kebohongan, semua ketakutan yang ia tahan selama ini seperti menumpuk bersamaan di dadanyaYuna tidak tidur semalaman.Ia hanya terbaring diam di ranjang kamar tamu dengan mata terbuka menatap langit-langit gelap, sementara pikirannya terus berputar tanpa henti seperti benang kusut yang semakin ditarik, semakin menyesakkan.Perkataan Kai semalam masih terngiang jelas di kepalanya.“Kalau kontrak selesai … kamu mau lari ke Darren atau ke dokter itu?”Dan yang paling membuat dadanya sesak—“Kebetulan saya juga sudah lama tidak bertemu Ayah Darren. Jadi besok saya ikut.”Sial.Yuna memejamkan mata kuat-kuat sambil menarik napas gemetar. Kepalanya terasa berat sekali hingga pelipisnya berdenyut nyeri.Ia benar-benar tidak tahu apa yang sedang Kai rencanakan. Dan justru karena tidak tahunya itulah yang membuat Yuna semakin takut.Saat cahaya pagi mulai masuk samar melalui celah tirai, Yuna akhirnya bangkit perlahan dari ranjang dengan tubuh yang terasa remuk.Penampilannya benar-benar kacau. Mata bengkak kemerahan. Kantung matanya menggelap jelas akibat menangis dan tidak tidur
Yuna masih duduk di tepi ranjang dengan punggung membungkuk dan kedua tangan menutupi wajah. Bahunya naik-turun mengikuti napas yang tersengal-sengal. Air mata sudah tidak deras lagi, tapi sisa-sisanya masih jatuh pelan ke pangkuannya. Pertahanan Yuna yang selama ini ia tahan akhirnya runtuh dalam sekejap untuk pertama kalinya di dunia Novel ini. Pikirannya buntu. Yuna sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya bertahan di dunia yang perlahan terasa menyesakkan ini—di mana ketiga pria Alpha itu terus menariknya masuk ke pusaran konflik yang sama sekali tidak pernah ia inginkan. Dan ironisnya, di tengah semua kekacauan itu, ia justru mulai meminta bantuan pada pria yang sejak awal menjeratnya dalam kontrak gelap tersebut.Kai masih bersandar santai di kursi di depan Yuna. Wajahnya nyaris tanpa ekspresi, tidak ada ledakan amarah ataupun nada tinggi seperti yang sempat Yuna takutkan. Namun justru itu yang membuat suasana terasa semakin mencekam.Kai terdiam begitu lama hingga akhirnya ia
Yuna mundur beberapa langkah saat Kai terus mendekat. Dadanya naik turun tidak beraturan. Rasanya seperti ada sesuatu di dalam dirinya yang akhirnya retak setelah terlalu lama ditahan.“Kamu belum jawab pertanyaan saya, Yuna,” ucap Kai rendah dan tenang. “Hubungan kamu dengan Darren itu apa?”Yuna membuka mulut, tapi tidak ada suara yang keluar karena kepalanya terasa penuh. Semua tekanan, semua kebohongan, semua ketakutan yang ia tahan selama ini seperti menumpuk bersamaan di dadanya hingga membuatnya sulit bernapas.Dan akhirnya—“Ahh, sial ….”Yuna menarik rambutnya ke belakang dengan kedua tangan kasar sambil tertawa kecil penuh frustasi. Tawanya terdengar aneh, nyaris seperti orang yang sudah terlalu lelah untuk terus berpura-pura baik-baik saja.Yuna mulai berjalan mondar-mandir kecil di kamar tamu sambil mengusap wajahnya berulang kali dengan napasnya yang bergetar.“Saya capek, Kai …” suaranya pecah pelan. “Saya benar-benar capek.”Kai terdiam
Yuna membeku di lantai kamar tamu, ponsel masih menempel di telinganya. Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan. Yuna merasa dunia seketika sempit. Dua suara pria yang berbeda, dua dunia yang selama ini ia pisahkan dengan susah payah, kini hampir bertabrakan di depan matanya. Napasnya gemetar. Tangannya dingin. Otaknya blank beberapa detik. “Te … televisi,” jawab Yuna tergagap ke Darren. “Saya lagi di rumah. Televisinya nyala keras.” Darren diam sejenak, jelas tidak sepenuhnya percaya. “Televisi …?” tanyanya pelan. “Iya,” Yuna buru-buru menjawab. “Darren, saya capek. Besok saja kita bicara lagi, ya?” Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menutup telepon. Namun tiba-tiba, pintu kamar terbuka dari luar— Klik. Kai berdiri di ambang pintu dengan ekspresi datar dan sorot mata yang tajam. Ternyata ia memang punya akses cadangan ke seluruh ruangan di penthouse ini. Yuna masih duduk di lantai dengan punggung bersandar ke pintu yang kini terbuka. Ia buru-bur
Yuna menghela napas panjang. Kepalanya masih bersandar ke belakang sambil menatap langit-langit yang gelap. “Darren … saya nggak tahu apa saya bisa—” “Yuna, tolong dengarkan saya untuk terakhir kalinya, setelah itu saya nggak akan paksa kamu lagi, dan anggap ini terakhir kali saya hubungi kamu.” Potong Darren kali ini cukup menekan. Yuna menelan ludah berat sambil berusaha tetap terdengar tenang, meski tekanan yang menghimpit dadanya belum juga mereda. “Baik.” Darren terdiam sebentar. “Saya … belakangan ini selalu minta tolong Alya untuk bujuk kamu agar kamu datang. Mungkin cara saya salah. Tapi jujur, sekarang saya sedikit takut kalau kamu terus ngulur waktu atau menghindar dari saya sejak pertemuan terakhir kita.” Yuna mengernyit dalam. Apa itu alasan Darren terus menghubungi Alya untuk membujuk dirinya datang, padahal situasi mereka saat itu sedang panas setelah Yuna sempat mengancam akan mengatakan yang sebenarnya pada Alya tentang sandiwara itu? Napas Darren te
Yuna terdiam beberapa detik. Kalimat Kai masih menggantung jelas di udara dan menusuk masuk ke kepalanya tanpa bisa ia abaikan. Untuk beberapa saat, Yuna bahkan lupa bagaimana caranya bernapas dengan benar. Dulu ia hanya ingin menjauh dari plot cerita, hidup tenang sebagai tokoh antagonis yang seharusnya menghilang di latar belakang. Tapi sekarang … ia terjebak di tengah pusaran yang semakin dalam. Kai yang dulu dingin dan kejam, kini mulai menunjukkan sisi yang ambigu—memberi ruang, menyiapkan makan malam, bahkan mengatakan tidak mau melepaskannya. Apakah ini cuma manipulasi baru … atau obsesi yang perlahan tumbuh dan akan mengurungnya semakin dalam? Dan Firas … pria yang tulus, yang menawarkan pelarian tanpa syarat. Lalu, ibunya yang polos dan hanya ingin melihatnya bahagia. Dan terakhir … Alya, yang kini kecewa padanya. Semuanya terasa salah. Karena semakin ia berusaha memperbaiki, semakin ia merusak segalanya. Ia bahkan mulai tidak mengenali dirinya sendiri lagi—perempuan y
Koridor lantai dua rumah sakit terasa terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang sedang mempertaruhkan nyawa seseorang. Di ujung lorong, lampu merah bertuliskan Operasi Berlangsung masih menyala dan tak berkedip. Yuna duduk diam di kursi tunggu dengan tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya saling
Dunia seolah berhenti berputar. Napasnya tersendat, tangannya gemetar hebat hingga HP-nya hampir jatuh. Air mata langsung menggenang di pelupuknya, mengaburkan pandangan. ‘Tidak … tidak boleh …’ pikirnya dalam hati, panik yang membuncah seperti gelombang dingin. Sekejap, ingatannya langsung meny
Dunia Yuna langsung jungkir balik, jantungnya berdegup kencang. Pria ini … sudah gila, ya?! “K–Kai, Anda serius …?” Kai melangkah mendekat. Ia meletakkan lingerie itu di tangan Yuna, lalu menatapnya dari dekat. “Kamu ingat janjimu tadi siang?” suaranya dingin, tapi ada nada yang hampir seperti b
Sesaat Yuna menelan ludah berat dengan jantungnya yang semakin berdegup kencang. Pandangannya refleks menatap Darren yang sedang memperhatikannya. “S–Saya … lagi sama temen lama di restoran, pak.” Yuna meringis dalam hati lantaran ia harus berbohong pada Kai, sambil berharap pria ini tak akan tahu







