Yuna meringkuk di ujung ranjang, selimut menutupi dagunya. Matanya terpaku pada noda darah tipis di sprei yang mulai mengering. Tangan kanannya gemetar saat menyentuhnya, seolah bisa menghapus kejadian malam ini dari ingatan.“Ini darah pertama … demi Ibu,” bisiknya dalam hati sambil meyakinkan diri bahwa setelah operasi, ia bisa pergi—jika memang masih ada jalan kembali ke dunia aslinya.Pintu kamar mandi terbuka. Kai keluar dengan handuk putih melilit pinggang, rambut hitamnya masih basah, tetesan air mengalir pelan di garis leher dan dada yang tegas. Dia tidak langsung bicara. Hanya berjalan mendekat ke ranjang, mengambil handuk kecil dari kursi, lalu mengeringkan rambutnya dengan gerakan kasual.Yuna buru-buru memalingkan muka, menatap ke jendela gelap di mana pantulan kota malam terlihat samar. Pipinya masih panas, malu yang tak kunjung reda. Tubuhnya terasa lengket, dan nyeri di antara pahanya masih menusuk tiap kali ia
Mehr lesen