Share

Chapter 15.

Author: Amaleo
last update publish date: 2026-03-16 17:00:32

Jantung Yuna seperti terjun ke perut.

Suara Kai kembali terdengar dengan nada lebih dingin yang tak memberinya ruang untuk tawar-menawar.

“Sekarang kamu pilih. Kamu datang kemari, atau bayar semua hutangmu.”

Yuna menahan napas. Jantungnya berdegup kencang sampai terasa di telinga. Dunia seolah menyempit hanya menjadi suara Kai di ponsel dan wajah Firas yang masih memandangnya dengan khawatir di depan mata.

Malam itu … Kai sempat menyentuh pipinya dengan lem
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 49.

    Yuna tersentak sebelum menoleh cepat ke asal suara. Dokter Firas berdiri tak jauh darinya. Senyumnya lembut seperti biasa, meski ada garis kelelahan samar di sudut matanya. “Iya, Dok,” jawab Yuna sambil tersenyum kecil. “Saya mau jenguk Ibu. Gimana keadaannya hari ini?” Firas mendekat, tatapannya hangat. “Stabil. Responsnya sudah lebih baik. Kamu boleh masuk sebentar, tapi jangan terlalu lama ya.” Yuna mengangguk. Tapi sebelum melangkah, ia tak bisa menahan diri untuk melirik ke arah lorong tempat bisik-bisik perawat tadi berasal. Semuanya terasa semakin rumit. Dan ia tahu, ini baru permulaan dari risiko perubahan di plot cerita. Mereka berjalan menuju ruang ICU. Di balik dinding kaca tebal, Yuna berdiri diam menatap sosok Yuvita yang terbaring di ranjang rumah sakit. Banyak alat medis menempel di tubuh ibunya. Wajah Yuvita pucat, tapi dadanya naik-turun dengan ritme yang lebih tenang dibanding malam kemarin. Yuna menekankan telapak tangan ke kaca dingin. Dada yang tadinya r

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 48.

    Yuna mengerjap dengan kesadaran perlahan yang merayap masuk. Tubuhnya terasa ringan dan tak tersentuh. Ia menoleh pelan ke samping ranjang dan mendapati ranjang yang kosong. Kai tidak ada bersamanya. Dan ia masih berada di kamar utama Kai. Yuna duduk perlahan hingga selimut meluncur turun dari bahunya yang telanjang. Ingatan semalam kembali muncul—pelukan hangat Kai, bisikan tentang hukuman, sentuhan yang hampir melewati batas sebelum penolakan Yuna yang begitu lemah. Ia tertidur lelap dengan cara yang mengejutkan, meski ada ketegangan kecil di antara mereka. “Dia benar-benar pergi …” gumamnya pelan. Entah kenapa, dada Yuna terasa campur aduk. Ada lega karena untuk sesaat ia bebas dari tatapan tajam dan kendali Kai. Tapi di balik itu, ada kekosongan kecil yang membuatnya gelisah. Kenapa … ia malah mencari kehadirannya? Ia bangkit dan melangkah canggung menuju kamar mandi Kai. Aroma sabun pria itu masih samar menempel di udara, mengingatkannya pada sentuhan semalam. Setelah m

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 47.

    Yuna menunggu jawaban Kai dengan napas tertahan. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang semakin kencang.Kai terdiam lama. Matanya masih tertutup, tapi Yuna bisa merasakan bahwa pria itu sedang memikirkan sesuatu dengan serius.Pikir Yuna, toh dalam cerita aslinya memang Kai akan jadian dengan Alya kan?Akhirnya Kai membuka suara dengan nada rendah dan datar.“Kenapa kamu penasaran soal pendapat saya?”Yuna tersentak kecil. Pipinya langsung memanas karena ketahuan.“B–bukan apa-apa sih,” jawabnya cepat, suaranya agak tergagap. “Saya … hanya penasaran. Dia kan … cantik, baik, dan sepertinya sangat cocok dengan Anda. Di … di tempat kerja juga semua orang suka padanya.”Kai diam lagi dan menghela napas pelan, seolah sedang menimbang apakah pertanyaan itu pantas ia jawab sekarang.“Dia cantik,” katanya akhirnya, suaranya tetap tenang. “Ceria, terlihat polos, pemberani, kinerja kerjanya bahkan lebih bagus dibanding kamu.”Yuna tertohok. Dadanya terasa sesak, padahal ia suda

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 46.

    Dunia Yuna seolah berhenti mendadak. Kai melanjutkan membuka kancing pakaiannya satu per satu dengan gerakan lambat dan terkendali. Sudah sampai kancing keempat. Jari-jarinya yang panjang dan hangat sesekali menyentuh kulit Yuna, membuat setiap sentuhan terasa seperti listrik kecil yang menyengat. Yuna langsung menahan kedua tangan Kai dengan gemetar. Napasnya tersengal hingga pipinya memerah hebat karena malu yang membakar sampai ke telinga. “S–saya bisa mandi sendiri!” jeritnya kecil dengan suara yang nyaris pecah. Kai menatapnya dingin, tanpa emosi berlebih. “Kamu mau membantah?” “Bukan begitu!” Yuna menelan ludah kasar, tenggorokannya terasa kering. “Saya … saya sudah terlalu lelah untuk terima lelucon Anda yang mau … mau mandi sama saya!” “Saya nggak butuh pendapatmu. Singkirkan tanganmu itu,” perintah Kai rendah tak terbantah. Jantung Yuna berdegup kencang hingga terasa sakit. Aura dominasi yang menguar dari Kai membuat lututnya lemas. Ia tak paham lagi apa yang ada di k

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 45.

    Kai tidak langsung menjawab pertanyaan Yuna. Ia hanya melirik sekilas dengan senyum tipis yang dingin, seolah ia tak terkejut oleh pertanyaan Yuna barusan. “Kamu sudah lelah,” katanya datar, seolah itu jawaban yang cukup. “Malam ini kamu tidur saja.” Yuna menoleh cepat sambil matanya melebar karena kaget. “Tidur … saja?” Kai mengangguk sekali, tatapannya kembali lurus ke jalan. “Saya kasih kamu cuti satu hari. Saya nggak mau kamu ambruk di meja kerja karena kelelahan. Lagi pula, Alya yang akan menggantikan pekerjaanmu.” Yuna terdiam saat mencerna perkataannya yang seharusnya terdengar seperti kebebasan, tapi justru terasa seperti tali yang semakin mengencang di lehernya. Kenapa dia malah memberi kemudahan? Pikirannya berputar kacau. Lega karena tidak ada hukuman langsung bercampur dengan ketakutan baru. Namun, semakin Kai bersikap ‘baik’, semakin ia merasa terjebak. Tak lama kemudian, mobil sport Kai memasuki basement VIP gedung apartemen. Begitu mesin dimatikan, keheningan

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 44.

    Tubuh Yuna terguncang pelan saat sebuah tangan menyentuh bahunya. “Yuna, bangun.” Suara yang sangat familiar terdengar rendah dan tegas, tapi tidak kasar. Yuna tersentak, mata yang tadinya terpejam karena kelelahan langsung terbuka lebar. Kepalanya pusing hebat dan urat pelipisnya terasa tegang dan berdenyut keras. Ia … ketiduran? Sejak kapan? Kai berdiri di depannya dengan ekspresi dingin seperti biasa. Tatapannya meneliti wajah Yuna yang pucat dan lelah. “B–berapa lama … saya ketiduran?” tanya Yuna serak, suaranya masih parau karena tangis tadi. “Entah. Mungkin beberapa menit,” jawab Kai datar. Yuna mengusap wajahnya dengan punggung tangan sambil mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ruang tunggu sudah sangat sepi, lampu neon di atas pintu operasi sudah mati sejak tadi. Kai mengulurkan tangan padanya. “Ayo. Kita pulang.” Yuna menatap tangan Kai beberapa detik sebelum ingatannya menyergap. “Ibu …?” Sebelum Kai sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status