Yuna menoleh cepat, matanya membelalak. “Sa–salon?” Kai mengangguk sekali. “Kamu kelihatan seperti orang yang tidak merawat diri selama berminggu-minggu. Itu tidak boleh.” Yuna merasa darahnya naik ke wajah. Bukan karena malu, tapi karena kata-kata itu terdengar seperti perintah sekaligus penilaian. “Saya … saya nggak perlu—” “Kamu tinggal di sini sekarang,” potong Kai dingin tapi tenang. “Penampilanmu adalah bagian dari tanggung jawabmu. Pergi dan ganti baju. Kita berangkat dalam tiga puluh menit.” Yuna ingin protes. Ingin bilang bahwa ia tidak butuh perawatan, bahwa ia hanya ingin tidur, bahwa ia muak diperlakukan seperti boneka yang harus rapi dan cantik untuk ‘pemiliknya’. Di versi novel, Kai cukup memperhatikan penampilan wanita, tapi tidak pernah sedetail seperti yang Yuna bayangkan! Dan di dunia Kai Verazo, menolak berarti menghadapi konsekuensi, dan konsekuensinya selalu mahal. Dengan gerakan lambat, Yuna melepaskan celemek, melipatnya rapi, lalu berjalan men
Mehr lesen