로그인Dunia Yuna langsung jungkir balik.
Apa?!Pikirannya benar-benar kosong. Ia menatap Darren dengan mata membelalak, seolah berharap pria itu tiba-tiba tertawa dan bilang ini hanya lelucon.Tapi ekspresi Darren sama sekali tidak berubah. Sementara di sekeliling mereka, bisik-bisik mulai pecah di antara kerumunan.Dan Yuna hanya bisa berdiri di sana, masih terpaku, menyadari satu hal yang membuat perutnya mual.Alur cerita ini, benar-benar sudah berubaAlya masih berdiri diam di depan mansion keluarga Mahesa bahkan setelah taksi online yang mengantarnya perlahan pergi meninggalkan gerbang utama. Yuna melihat tangan gadis itu menggenggam gift bag kecil lebih erat. Mata Alya bergerak perlahan ke Darren, Kai, lalu berhenti pada Yuna lagi.Suasana di depan mansion seketika berubah sunyi dan canggung, hingga Yuna bisa mendengar jantungnya sendiri berdetak kacau.Sial! Kalau dibiarkan beberapa detik lagi, semuanya bakal makin aneh.Yuna lantas buru-buru menjauh sedikit dari posisi Kai dan Darren sebelum berjalan cepat menghampiri Alya dengan senyum gugup yang dipaksakan.“Alya, kamu baru datang?” sapanya cepat.Alya masih terlihat bingung. Tatapannya sempat melirik Kai sepersekian detik sebelum kembali ke Yuna lagi.“Kak Yuna …” ucap Alya pelan. “Kakak beneran datang? Bukannya tadi Kakak bilang lagi nggak enak badan?”Yuna langsung mengangguk cepat.“Iya,
Darren masih berdiri membeku di depan pintu utama mansion keluarganya. Tatapannya belum lepas dari Kai Verazo yang kini berdiri di samping Yuna dengan tenang seolah kehadirannya di sana adalah sesuatu yang wajar. Udara malam itu langsung berubah aneh. Lampu taman yang hangat, suara musik pelan dari dalam mansion, serta para tamu yang lalu-lalang mendadak terasa jauh lebih menyesakkan bagi Yuna. Ya Tuhan …. Yuna bahkan sudah tidak sanggup lagi memikirkan seberapa jauh alur cerita novel ini mulai melenceng dari yang ia kenal. Seharusnya sejak awal, ia memang tidak berada di acara ulang tahun adik Darren malam ini! Namun semuanya terlanjur kacau karena Darren dan Dwina terus memaksanya hadir di tengah keluarga mereka—sebagai perempuan yang dianggap sedang memiliki hubungan spesial dengan Darren di mata kedua orang tuanya. Yuna bahkan bisa melihat jelas bagaimana Darren sedang berusaha mencerna semuanya—kenapa Kai datang bersama Yuna? Dan sejak kapan mereka sedekat itu? Sementara Ka
Jantung Yuna langsung berdegup kacau. Karena untuk pertama kalinya, pujian Kai tidak terdengar seperti godaan dari seorang pria buaya darat. Melainkan seperti seseorang yang sedang melihat sesuatu yang memang sudah seharusnya menjadi miliknya. Dan justru karena itu, Yuna makin gugup. Kai masih berdiri di depan Yuna dengan tatapan tenang yang terlalu sulit dibaca, sementara napas Yuna justru mulai tersengal kecil lagi. Pesta ulang tahun adik perempuan Darren semakin dekat waktunya, dan firasat buruk Yuna terasa semakin menyesakkan. “Kai …” panggilnya pelan. Kai mengangkat sebelah alis tipis sambil mulai melepas jam tangannya dan menggantinya dengan arloji lain yang lebih formal. Yuna menggigit bibir bawahnya pelan sebelum akhirnya berkata lirih. “Pokoknya, tolong … jangan bikin masalah malam ini.” Gerakan Kai berhenti sepersekian detik sebelum pria itu kembali merapikan manset kemejanya dengan tenang, seolah permintaan Yuna tadi bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan.
Perkataan Kai di sambungan telepon langsung membuat dada Yuna terasa sesak. Ia menggenggam ponselnya lebih erat sambil memejamkan mata beberapa detik. Lagi-lagi seperti ini. Kai selalu bicara seolah semuanya sudah diputuskan sepihak tanpa benar-benar memberinya ruang untuk memilih.“Kai, saya cuma nggak mau semuanya makin rumit,” bisiknya lelah.“Hidup kamu sudah rumit dari awal,” jawab Kai datar. “Dan malam ini saya akan pastikan tidak ada lagi orang yang mempermainkan posisi kamu seenaknya.”Nada suaranya tetap rendah dan tenang. Namun justru itu yang membuat Yuna tahu kalau pria itu sama sekali tidak akan mengubah keputusannya.Yuna menghela napas panjang sambil memijat pelipisnya pelan.“Kadang saya bingung,” gumamnya lirih penuh frustasi, “Anda ini sebenarnya membantu saya … atau malah makin mengontrol hidup saya.”Di seberang sana, Kai terdiam beberapa detik.“Mungkin dua-duanya,” jawabnya akhirnya tanpa
Siang harinya, kondisi tubuh Yuna sudah sedikit membaik setelah minum obat dan tidur lagi beberapa jam. Dan saat ini, ia duduk di sofa ruang tengah dengan selimut tipis melingkari tubuh sambil menonton televisi tanpa benar-benar fokus. Sampai akhirnya— Ting tong …. Yuna mengernyit kecil sebelum akhirnya ia berjalan pelan menuju pintu penthouse. Saat pintu terbuka, seorang petugas pengantar datang membawa beberapa paper bag besar dari butik dan restoran mewah. “Selamat siang, ini titipan untuk Nona Yuna.” Yuna langsung tahu siapa pengirimnya bahkan tanpa perlu bertanya. Ia mengangguk dengan senyuman lemah saat menerima beberapa paper bag besar itu. “Terima kasih.” Setelah pintu tertutup kembali, Yuna menatap tumpukan barang itu cukup lama dengan ekspresi campur aduk. “Berlebihan banget sih …” gumamnya pelan. Ia membuka kotak makanan lebih dulu yang isinya makanan hangat, sup, buah potong, bahkan vitamin yang disusun rapi di dalam paper bag. Lengkap sekali, sampai terasa meny
Yuna terbangun perlahan saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh dahinya.Kelopak matanya terasa berat sekali. Kepalanya masih berdenyut samar, sementara tubuhnya lemas seperti habis diperas semalaman. Pandangannya buram beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok pria tinggi di samping ranjang. Kai. Pria itu sudah berpakaian rapi dengan setelan jas hitam dan kemeja gelap yang biasa ia kenakan ke kantor. Rambutnya tertata rapi, jam tangan mahal melingkar di pergelangan tangan, dan tas kerja kulit hitam sudah berada di sofa dekat pintu. Berbeda jauh dengan dirinya yang masih berantakan. “Sudah bangun?” tanya Kai rendah. Yuna mengerjap pelan sebelum menyadari ada pria lain di kamar itu. Seorang dokter paruh baya sedang duduk di kursi dekat ranjang sambil menulis sesuatu di tablet. Yuna langsung refleks bangkit sedikit. “Dokter …?” “Pelan-pelan,” ucap dokter itu tenang. “Anda demam ringan.” Kai langsung menahan bahu Yuna agar kembali bersandar. “Jangan bangun dulu.” Y
Yuna membeku. Pandangannya langsung tertuju pada Alya. Dan benar saja, gadis itu hanya diam, tapi Yuna bisa melihat bagaimana bahunya menegang pelan dan sorot matanya semakin sulit dibaca. Darren akhirnya membalas dengan nada yang masih terdengar santai tapi kali ini lebih sarkastik. “Baik, Bos b
Koridor rumah sakit yang semula sunyi mendadak terasa sempit. Yuna berdiri terpaku di tempatnya, napasnya tercekat saat pandangannya menangkap satu per satu sosok di hadapannya. Alya di sisi kanan dengan wajah penuh khawatir, Darren sedikit di depannya dengan tatapan tajam pada Kai, dan … Kai, berd
Koridor lantai dua rumah sakit terasa terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang sedang mempertaruhkan nyawa seseorang. Di ujung lorong, lampu merah bertuliskan Operasi Berlangsung masih menyala dan tak berkedip. Yuna duduk diam di kursi tunggu dengan tubuhnya sedikit membungkuk, kedua tangannya saling
Dunia seolah berhenti berputar. Napasnya tersendat, tangannya gemetar hebat hingga HP-nya hampir jatuh. Air mata langsung menggenang di pelupuknya, mengaburkan pandangan. ‘Tidak … tidak boleh …’ pikirnya dalam hati, panik yang membuncah seperti gelombang dingin. Sekejap, ingatannya langsung meny







