ログインDunia Yuna langsung jungkir balik.
Apa?!Pikirannya benar-benar kosong. Ia menatap Darren dengan mata membelalak, seolah berharap pria itu tiba-tiba tertawa dan bilang ini hanya lelucon.Tapi ekspresi Darren sama sekali tidak berubah. Sementara di sekeliling mereka, bisik-bisik mulai pecah di antara kerumunan.Dan Yuna hanya bisa berdiri di sana, masih terpaku, menyadari satu hal yang membuat perutnya mual.Alur cerita ini, benar-benar sudah berubaYuna menunggu jawaban Kai dengan napas tertahan. Ia bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang semakin kencang.Kai terdiam lama. Matanya masih tertutup, tapi Yuna bisa merasakan bahwa pria itu sedang memikirkan sesuatu dengan serius.Pikir Yuna, toh dalam cerita aslinya memang Kai akan jadian dengan Alya kan?Akhirnya Kai membuka suara dengan nada rendah dan datar.“Kenapa kamu penasaran soal pendapat saya?”Yuna tersentak kecil. Pipinya langsung memanas karena ketahuan.“B–bukan apa-apa sih,” jawabnya cepat, suaranya agak tergagap. “Saya … hanya penasaran. Dia kan … cantik, baik, dan sepertinya sangat cocok dengan Anda. Di … di tempat kerja juga semua orang suka padanya.”Kai diam lagi dan menghela napas pelan, seolah sedang menimbang apakah pertanyaan itu pantas ia jawab sekarang.“Dia cantik,” katanya akhirnya, suaranya tetap tenang. “Ceria, terlihat polos, pemberani, kinerja kerjanya bahkan lebih bagus dibanding kamu.”Yuna tertohok. Dadanya terasa sesak, padahal ia suda
Dunia Yuna seolah berhenti mendadak. Kai melanjutkan membuka kancing pakaiannya satu per satu dengan gerakan lambat dan terkendali. Sudah sampai kancing keempat. Jari-jarinya yang panjang dan hangat sesekali menyentuh kulit Yuna, membuat setiap sentuhan terasa seperti listrik kecil yang menyengat. Yuna langsung menahan kedua tangan Kai dengan gemetar. Napasnya tersengal hingga pipinya memerah hebat karena malu yang membakar sampai ke telinga. “S–saya bisa mandi sendiri!” jeritnya kecil dengan suara yang nyaris pecah. Kai menatapnya dingin, tanpa emosi berlebih. “Kamu mau membantah?” “Bukan begitu!” Yuna menelan ludah kasar, tenggorokannya terasa kering. “Saya … saya sudah terlalu lelah untuk terima lelucon Anda yang mau … mau mandi sama saya!” “Saya nggak butuh pendapatmu. Singkirkan tanganmu itu,” perintah Kai rendah tak terbantah. Jantung Yuna berdegup kencang hingga terasa sakit. Aura dominasi yang menguar dari Kai membuat lututnya lemas. Ia tak paham lagi apa yang ada di k
Kai tidak langsung menjawab pertanyaan Yuna. Ia hanya melirik sekilas dengan senyum tipis yang dingin, seolah ia tak terkejut oleh pertanyaan Yuna barusan. “Kamu sudah lelah,” katanya datar, seolah itu jawaban yang cukup. “Malam ini kamu tidur saja.” Yuna menoleh cepat sambil matanya melebar karena kaget. “Tidur … saja?” Kai mengangguk sekali, tatapannya kembali lurus ke jalan. “Saya kasih kamu cuti satu hari. Saya nggak mau kamu ambruk di meja kerja karena kelelahan. Lagi pula, Alya yang akan menggantikan pekerjaanmu.” Yuna terdiam saat mencerna perkataannya yang seharusnya terdengar seperti kebebasan, tapi justru terasa seperti tali yang semakin mengencang di lehernya. Kenapa dia malah memberi kemudahan? Pikirannya berputar kacau. Lega karena tidak ada hukuman langsung bercampur dengan ketakutan baru. Namun, semakin Kai bersikap ‘baik’, semakin ia merasa terjebak. Tak lama kemudian, mobil sport Kai memasuki basement VIP gedung apartemen. Begitu mesin dimatikan, keheningan
Tubuh Yuna terguncang pelan saat sebuah tangan menyentuh bahunya. “Yuna, bangun.” Suara yang sangat familiar terdengar rendah dan tegas, tapi tidak kasar. Yuna tersentak, mata yang tadinya terpejam karena kelelahan langsung terbuka lebar. Kepalanya pusing hebat dan urat pelipisnya terasa tegang dan berdenyut keras. Ia … ketiduran? Sejak kapan? Kai berdiri di depannya dengan ekspresi dingin seperti biasa. Tatapannya meneliti wajah Yuna yang pucat dan lelah. “B–berapa lama … saya ketiduran?” tanya Yuna serak, suaranya masih parau karena tangis tadi. “Entah. Mungkin beberapa menit,” jawab Kai datar. Yuna mengusap wajahnya dengan punggung tangan sambil mencoba mengumpulkan kesadarannya. Ruang tunggu sudah sangat sepi, lampu neon di atas pintu operasi sudah mati sejak tadi. Kai mengulurkan tangan padanya. “Ayo. Kita pulang.” Yuna menatap tangan Kai beberapa detik sebelum ingatannya menyergap. “Ibu …?” Sebelum Kai sempat menjawab, suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor.
Yuna membeku. Pandangannya langsung tertuju pada Alya. Dan benar saja, gadis itu hanya diam, tapi Yuna bisa melihat bagaimana bahunya menegang pelan dan sorot matanya semakin sulit dibaca. Darren akhirnya membalas dengan nada yang masih terdengar santai tapi kali ini lebih sarkastik. “Baik, Bos besar. Saya akan pergi antar pulang Alya. Asal Yuna tidak ditinggal sendirian disini.” Kai menyipitkan matanya sinis seolah Darren mulai berani menantangnya. Senyumannya penuh makna terselubung. “Oh, mulai berani bicara seperti itu sekarang?” Darren tidak bergeming. Tatapannya tetap lurus dan tidak mundur sedikit pun. “Saya cuma memastikan dia tidak sendirian,” jawabnya santai, tapi tegas. “Itu saja.” Gawat. Yuna tak sanggup lagi melihat dua pria ini saling berhadapan. Tanpa berpikir panjang, ia bangkit dari kursi dengan lutut yang masih lemas. Tubuhnya oleng sesaat sebelum ia cepat-cepat menengahi. “Pak Kai, Darren … sudah.” Kai dan Darren langsung menoleh padanya hampir bersamaan.
Dunia Yuna seperti berhenti berputar. Napasnya tertahan di tenggorokan. Matanya menatap Firas dengan penuh harap—dan di saat yang sama, setengah dari dirinya justru ingin menutup telinga.Ia takut sekaligus belum siap, kalau kabar yang akan keluar dari mulut Firas justru akan mengulang takdir tragis yang ia ingat dari novel asli.Belum lagi, badannya masih lemas dan tak berdaya di kursi tunggu, seolah seluruh beban dunia menjepitnya dari segala arah. Perasaan antara canggung, berat dan … menyakitkan bercampur jadi satu di dadanya.Firas menatapnya dengan senyuman lembut.“Hasilnya—”“Tunggu.”Suara Kai memotong tiba-tiba.Yuna tersentak saat ia melihat Kai berdiri dan mendekat pada sang Dokter. Mata tajamnya tertuju pada Firas tanpa ragu.“Bagaimana keadaan Ibu Yuna, Dokter?”Yuna mengernyit pelan.Dia … mau mewakilkan dirinya?Matanya refleks bergerak ke Darren dan Alya. Yuna menahan napas sekejap ketika sorot mata Darren kini menyipitkan tajam ke arah Kai. Sementara Alya, masih terl







