Yuna melongo, mulutnya terbuka kecil tanpa suara. Otaknya berusaha memproses kata-kata itu, tapi tubuhnya masih terasa lemas, panas, dan kosong akibat penghentian mendadak tadi. Yang benar saja?! Setelah semua yang baru saja terjadi, Kai malah bicara soal makan malam di tengah kondisi seperti ini? Wajah Yuna memerah semakin dalam, campuran antara malu, kesal, dan rasa tak percaya yang membuncah. Ia masih menatap Kai dengan mata membelalak, mencoba mencari tanda bahwa pria itu sedang bercanda. Tapi ekspresi Kai tetap serius, meski sudut bibirnya sedikit terangkat—senyum yang jelas-jelas menikmati reaksi Yuna. “Kai … serius?” suaranya keluar parau, hampir tak terdengar. Kai malah mengangkat bahu kecil, seolah pertanyaan itu tak perlu dijawab. “Kalau saya tidak lapar, kenapa saya berhenti tadi?” bisiknya pelan, suaranya rendah dan penuh maksud. Yuna langsung kesal setengah mati. Dengan tenaga yang tersisa, ia mendorong dada Kai sekuat-kuatnya hingga pria itu limbung ke bel
続きを読む