Compartilhar

Chapter 22.

Autor: Amaleo
last update Data de publicação: 2026-03-18 17:01:42

Yuna menoleh cepat, matanya membelalak.

“Sa–salon?”

Kai mengangguk sekali.

“Kamu kelihatan seperti orang yang tidak merawat diri selama berminggu-minggu. Itu tidak boleh.”

Yuna merasa darahnya naik ke wajah. Bukan karena malu, tapi karena kata-kata itu terdengar seperti perintah sekaligus penilaian.

“Saya … saya nggak perlu—”

“Kamu tinggal di sini sekarang,” potong Kai dingin tapi tenang. “Penampilanmu adalah bagian dari tanggung jawabmu.
Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 32.

    Yuna menatap layar ponselnya dengan jantung yang berdegup tak karuan. Chat dari Darren terasa seperti bom waktu yang meledak pelan di tangannya.“Yuna, ayo kita ketemuan berdua. Sekarang saya ada di depan gedung kantormu.”Yuna menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Tiba-tiba, perasaan takut langsung menyergap di dadanya. Yuna melirik sekilas ke arah pintu ruang kerja Kai. Sosok yang paling ia takuti masih berada di dalam ruangan itu. Jika pria itu keluar sekarang, jika ia sampai melihat Yuna turun ke lobi dan naik ke mobil Darren … semuanya bisa kacau hanya dalam hitungan menit.Yuna memejamkan mata sejenak, berusaha menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Ingat janjimu sendiri, Yuna. Janji untuk tidak terlibat lebih jauh dengan Darren, untuk menjauh dari semua tokoh utama, dan untuk tidak membuat alur cerita ini semakin absurd.Tapi … Darren sudah di depan gedung. Kalau Yuna tidak menemui Darren sekarang, pri

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 31.

    Yuna menelan ludah, jantungnya berdegup kencang sampai terasa di telinga.Alya masih menatapnya dengan rasa ingin tahu yang tak bisa disembunyikan.“Kak Yuna?” panggil Alya pelan, karena Yuna terdiam terlalu lama.Yuna tersentak dan buru-buru mengangguk.“Iya, kemarin … saya bertemu Darren dengan ibunya. Ibunya Darren cantik sekali.”Ia sengaja memilih kata-kata yang aman tanpa menyinggung nama Kai. Tidak ada cerita salon premium, hanya ‘bertemu’ dan pujian pada ibu Darren.Alya langsung tersenyum lebar, matanya berbinar.“Iya! Ibunya memang modis banget, Kak. Yah … namanya juga Darren dari keluarga konglomerat, jadi wajar saja.”Alya tertawa kecil, seolah senang sekali Yuna mengakui kehebatan Ibunya Darren.Yuna menghela napas dalam hati. Ia merasa lega setengah mati. Betapa tidak, Alya tidak menyinggung Kai sama sekali, yang berarti Darren tidak menceritakan detail tentang keberadaan pria itu saat mer

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 30.

    “Jam 07:40?!” suara Yuna naik setengah oktaf, hampir berteriak.Tubuhnya langsung duduk tegak, selimut melorot dari bahu. Kepala masih sedikit pusing, tapi yang lebih parah adalah rasa panik yang langsung menyergap.Jam masuk kantor pukul 8 pagi.Yuna menoleh ke samping ranjang. Kai sudah berdiri di dekat lemari pakaian, ekspresinya datar seperti biasa. Tas kerja dan kunci mobil sudah di tangan kirinya.Yuna langsung menggeram kesal.“Kenapa saya nggak dibangunin?!” tanyanya dengan nada tinggi, matanya menyipit. “Anda sengaja ya biar saya terlambat?!”Kai menoleh singkat. Pria itu menyunggingkan senyuman kesal dan sinis yang khas.“Saya yang bikin kamu tidur nyenyak di kamar ini. Begitu cara kamu bilang ‘terima kasih’?”Yuna terperangah. Mulutnya terbuka, tapi tak ada kata yang langsung keluar.Dia ingat semalam—pelukan Kai yang erat, napas hangat yang menyapu wajahnya, dan bagaimana untuk pertama kalin

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 29.

    Yuna langsung panik. Tangannya refleks menepis cengkeraman Kai di pergelangan, tapi pria itu tidak bergeming sama sekali. Malah jarinya mengencang pelan. Ia mendengus kesal sekaligus malu. “Ma–mau ke mana lagi? S–saya mau tidur di kamar tamu lah!” jawab Yuna gelagapan, suaranya naik setengah oktaf. “Saya capek!” Kai membuka mata pelan. Cahaya lampu tidur yang redup membuat matanya terlihat lebih gelap, tapi sudut bibirnya melengkung membentuk senyuman miring yang khas dan tetap penuh kendali. “Kalo capek, istirahat.” Yuna mencoba menarik tangannya lagi. “Makanya saya mau ke kamar! Lepas—” Kai tidak langsung melepaskan. Malah ia menarik Yuna lebih dekat hingga gadis itu terseret naik ke ranjang. Yuna terlonjak, hampir jatuh telungkup di atas dada Kai. “Kamu ingat perjanjian kontrak kita?” suara Kai rendah, tapi setiap kata terasa seperti beban yang menekan. “Kamu bukan cuma budak.” Yuna menegang. Ingatan kontrak itu langsung menyeruak seperti kilat. Partner ranjang

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 28.

    Napas Yuna masih tersengal saat ciuman itu akhirnya terlepas, kedua matanya berembun oleh sisa sensasi yang belum sepenuhnya hilang. Namun, pertanyaan Kai tadi membuat ia menegang karena terdengar seperti vonis yang tak bisa ditolak: “Siapa yang kamu miliki sekarang?” Air mata Yuna mengalir pelan di pipinya. Ia ingin menjawab ‘saya bukan milik siapa-siapa’, ingin berteriak bahwa ia bukan properti, bukan budak, bukan apa pun yang bisa dimiliki orang lain. Tapi lidahnya terasa berat. Bayangan ibunya di ranjang rumah sakit, biaya operasi yang sudah lunas, ancaman Kai yang bisa mencabut semuanya dalam sekejap—semua itu menekan dadanya seperti batu besar. Ia benar-benar bingung sekarang. Di saat seharusnya ia takut dan ingin menjauh … justru ada bagian kecil dari dirinya yang merasa aman di bawah kendali pria itu. Yuna menunduk, suaranya pecah dan hampir tak terdengar. “Saya milik Anda, Tuan.” Kata ‘Tuan’ itu keluar begitu saja sekaligus pahit di lidahnya. Tapi begitu diucapkan,

  • Sang Villainess Memikat Tiga Pria!   Chapter 27.

    Yuna membeku di tempat. Napasnya tertahan saat Kai berjalan mendekat dengan langkah tenang tapi penuh ancaman. Mata tajamnya langsung menoleh pada Firas. Firas langsung menegang. Yuna bisa menangkap guratan wajah sang Dokter yang kali ini terlihat curiga sambil kedua tangannya mengepal pelan. Kai berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya menyapu Firas dari atas ke bawah dengan lambat, seolah sedang mengingat-ingat sesuatu. Ada kilatan pengenalan samar di matanya. “Apa Anda yang tangani Ibunya Yuna?” tanya Kai akhirnya dengan suara rendah dan datar. Firas mengangguk sopan, meski alisnya sedikit berkerut. “Benar. Saya yang tangani Ibunya Yuna.” Yuna merasa dunia berputar. Jantungnya berdegup kencang sampai terasa di tenggorokan. “K-Kai, Anda … sudah selesai dengan urusannya?” tanyanya cepat dengan suara gemetar, berusaha memecah ketegangan yang mulai mencekik. Kai menoleh ke Yuna. Bibirnya melengkung tipis yang membekukan, dingin yang penuh isyarat. “Tentu saja sudah,

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status