تسجيل الدخولYuna refleks menghentikan pergerakan kedua tangannya sebelum akhirnya, ia mendongak ke arah suara Kai. Alya, maupun para karyawan pun terdiam seketika.
Rosie yang masih duduk di meja kerjanya seketika menegang sebelum akhirnya ia berdiri canggung sambil melihat kanan-kirinya dengan wajah bingung. Ia akhirnya berjalan pelan dan masuk ke ruang kerja Kai sebelum ia tutup pintu di belakangnya.Setelah Rosie masuk, bisik-bisik pun mulai mengudara.“Rosie dipanggil? Kok tYuna refleks menghentikan pergerakan kedua tangannya sebelum akhirnya, ia mendongak ke arah suara Kai. Alya, maupun para karyawan pun terdiam seketika.Rosie yang masih duduk di meja kerjanya seketika menegang sebelum akhirnya ia berdiri canggung sambil melihat kanan-kirinya dengan wajah bingung. Ia akhirnya berjalan pelan dan masuk ke ruang kerja Kai sebelum ia tutup pintu di belakangnya.Setelah Rosie masuk, bisik-bisik pun mulai mengudara.“Rosie dipanggil? Kok tiba-tiba banget sih?”“Nggak tahu tuh. Dia kan nggak ada buat masalah seharian ini.”“Apa jangan-jangan … Pak Bos udah denger gosip soal perempuan yang datang itu?”“Wah, kalo Pak Bos denger, bisa gawat!”Yuna menangkap setiap bisikan lirih di sekitar sebelum tiba-tiba HP-nya bergetar pelan di mejanya. Yuna menoleh sekilas sebelum ia mengernyit dalam saat baca isi pesan dari Kai. Jantungnya langsung berdegup cepat.Kai: “Langsung pulang. Bersihkan Pen
Yuna menelan ludahnya dengan susah payah saat ia mendengar kata ‘hukuman’ dan ‘sayang’ yang dilontarkan oleh Kai dengan jarak yang begitu dekat. Bisikan rendah pria itu membuat pipinya memerah lagi menahan malu. Jantungnya berdegup kencang. Yuna akhirnya berdehem keras sambil menyadarkan dirinya, lalu ia mundur setengah langkah untuk mengambil sedikit jarak. Pria ini benar-benar bahaya. Pagi-pagi buta begini dia malah berbisik-bisik dengan nada yang begitu menggoda …? Ia menunduk sedikit sambil menahan salah tingkah yang menyergap di dadanya. “A–Ayo, Kai. Nanti kita telat,” ajaknya dengan suara terbata-bata. Kai tersenyum tipis tak menjawab. Lalu ia mengulurkan tangan sambil menarik tangan kecil Yuna tanpa izin sebelum mereka keluar dari Penthouse menuju basement. Sampai di basement, tanpa membuang waktu Kai langsung masuk ke kursi kemudi mobil sportnya, sementara Yuna masuk ke kursi penumpang.
"Hei, bangun, pemabuk. Kamu berangkat kerja tidak?”Suara Kai yang sarkastik dan dingin langsung menyadarkan Yuna.Ia membuka mata pelan yang masih setengah sadar. Cahaya pagi menyelinap dari tirai kamar, dan hal pertama yang ia lihat adalah Kai yang … basah?Handuk melilit di pinggangnya dengan sempurna, hingga menampakkan garis otot tubuh yang tegas dan atletis. Rambutnya basah seperti baru selesai mandi, ekspresinya dingin seperti biasa—persis sosok pria yang ia kenal.Yuna membeku sesaat, disertai kepalanya yang masih ringan akibat sisa mabuk. Semalam … ia mabuk setelah meminum champagne. Dan ia lupa apa saja yang telah ia katakan.Dan sekarang … ia tertidur di kamar Kai? Apa dia yang membawanya kemari saat ia sudah tak sadar?Ia bangkit perlahan untuk duduk hingga selimut merosot turun dari bahu. Namun ia meringis pelan sambil refleks memijat pelipisnya karena denyut kepala yang tak tertahankan.“Sakit,” gumam Yuna
Kai menghentikan kunyahan pizzanya dan terdiam sejenak. Sisa pizza dari gigitannya ia taruh kembali ke kotak saji dan ia meneguk pelan champagne-nya, seolah agar bisa membasahi tenggorokannya sebelum menjawab.Yuna memandang Kai begitu lama sambil menunggu jawaban. Jantungnya berdegup kencang saat ia memperhatikan gerakan Kai yang terlihat terlalu tenang.“Kenapa kamu malah khawatirkan Rosie?” tanya Kai tiba-tiba.Yuna duduk dengan perasaan gugup. Ia refleks meneguk champagne-nya dengan tergesa-gesa, berharap tenggorokan yang kering bisa terbasahi. Rasa pahit dan panas langsung menyengat, membuatnya meringis dalam-dalam sambil menaruh gelas kosong ke meja dengan suara tegas.“Mhh … rasanya aneh,” gumamnya sambil menggelengkan kepala.“Jawab pertanyaan saya,” perintah Kai datar.“Oke … oke,” Yuna menghela napas panjang, menahan sisa sensasi pahit dan panas yang masih tertinggal di mulut. Sejenak, kepalanya suda
Yuna keluar dari kamar mandi kamar tamu dengan handuk kecil melilit rambutnya yang masih basah. Air menetes pelan dari ujung rambut ke bahu gaun tidur longgar yang ia kenakan. Ia mengusap wajah dengan handuk sambil berusaha menenangkan pikiran yang masih berputar-putar sejak kejadian di kantor tadi.Sialan.Omongan Kai tentang ‘budak kontrak’, bahkan kehidupan pribadi Kai yang tak sengaja ia sentuh masih terngiang-ngiang seperti jarum yang menusuk pelan. Yuna menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Ia masih sangat kesal. Untuk saat ini, ia benar-benar tidak mau bertatap muka dengan pria itu!Ia berdiri di depan cermin besar di kamar tamu sambil menatap pantulan dirinya sendiri. Rambut basah, wajah lelah, mata yang masih sedikit sembab dari tangis kemarin di rumah sakit. Tapi setidaknya … Yuvita selamat. Itu yang paling penting.Yuna tersenyum sinis seraya ia melenggang ke pintu kamar tamu dan memutar kunci dengan bunyi ‘k
Yuna mundur hingga punggungnya menempel rapat ke sandaran kursi, seolah jarak beberapa senti itu bisa melindunginya.Kai juga mundur sedikit. Tatapannya tajam dan dingin, seperti sedang menilai setiap inci reaksi Yuna."Kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal perempuan kemarin?"Yuna menelan ludah. Pikirannya panik, tapi mulutnya berusaha terlihat santai."Saya … cuma penasaran saja."Kai tidak puas. Ia malah melangkah lebih dekat, membuat Yuna terpojok di meja kerjanya. Ruangan yang tadinya terasa luas kini terasa seperti kotak sempit.“Penasaran?” ulang Kai dengan nada yang dingin tapi berbahaya.Yuna menggigit bagian dalam pipinya sebelum akhirnya memberanikan diri menatap kedua mata pria itu, meski dadanya naik-turun karena gugup dan panik yang bercampur aduk."Anda sendiri … kenapa Anda tidak mau jawab?" suaranya keluar lebih keras dari yang ia rencanakan. "Siapa perempuan itu?""Siapapun itu bukan uru







