LOGIN“Ayo, tidur disini,” ucap Kai akhirnya sambil menepuk sisi ranjang yang kosong. Yuna sedikit tersentak saat pikirannya terpotong oleh perkataan Kai tiba-tiba sebelum ia menghela napas pelan. Tidak. Dengan siapapun Kai mengirim pesan singkat, itu benar-benar bukan urusannya! “Saya … harus pakai gaun tidur dulu,” ucap Yuna hati-hati sambil berusaha mengenyahkan pikirannya sendiri. Kai menunjuk ke sisi ranjang, tempat gaun itu sudah tergeletak rapi. “Sudah saya siapkan.” Yuna mengernyit kecil saat melihatnya. “Anda tadi ambil gaun tidur saya di lemari kamar tamu?” Kai mengangguk singkat. “Saya baik kan? Masih mau ambilkan pakaian buat kamu.” Yuna mendengus pelan sambil menggeleng karena sedikit kesal. Dalam hati ia menggerutu pelan. Pria ini sembarangan buka lemari pakaiannya seolah semua itu miliknya. Meski begitu, Yuna tak bisa menyangkal bahwa hampir semua pakaian itu memang dibelikan oleh Kai. “Makasih,” gumamnya pelan akhirnya. Ia memakai gaun tidur yang sudah disiapkan,
Kai mengernyit singkat saat ia mendengar pertanyaan Yuna yang meminta izin. “Makan malam?” Yuna mengangguk pelan, namun ia refleks menghindar kontak mata karena campuran gugup dan takut masih menyelimutinya. “Iya. Sama … teman kampus saya. Hmm … bisa dibilang kami mau … reunian.” Kai terdiam sejenak sambil memandang wajah Yuna yang terlihat menghindar. Lantas, jemarinya langsung mengangkat dagu Yuna pelan untuk menatap Yuna lekat-lekat. “Teman kamu perempuan … atau pria?” tanya Kai dengan tekanan halus di ujung kalimat. Saat itu juga, jantung Yuna berdegup kencang karena gugup yang semakin menekan dadanya. Tapi mau tidak mau, lagi-lagi ia harus berbohong agar hidupnya selamat, sekaligus berharap Kai percaya padanya. “C–cewek …” jawab Yuna terlalu cepat. “Lagian kan … kami sudah lama nggak hang out bareng. Jadi, ya … kami mau ketemu buat lepas kangen.” Ucapan Yuna terbata-bata membuat tenggorokannya langsung kering. Ya Tuhan, semoga Kai percaya sekali ini saja! Kai memandang Y
Yuna membeku saat membaca pesan singkat dari Kai. Jantungnya berdebar tak menentu, sementara emosinya bergolak tanpa arah. Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram ponsel itu semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Brengsek,” gumamnya mengumpat pelan sebelum ia melempar ponselnya ke kursi penumpang. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menginjak pedal gas dan membawa mobilnya melesat keluar dari rumah sakit. Dalam perjalanan ke Penthouse, pikirannya berputar liar oleh rentetan kejadian hari ini hingga dadanya sesak. Lantaran belum kelar satu masalah, masalah lain muncul lagi. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana agar keluar dari pusaran konflik yang menjeratnya. Ia hanyalah tokoh antagonis, tapi entah sejak kapan, ia justru semakin terseret ke pusat konflik yang semakin menelannya. Beberapa saat kemudian, Yuna akhirnya sampai di basement gedung apartemen. Ia mematikan mesin dan langsung keluar dari mobilnya sebelum berjalan dengan gontai menuju lift. Lift bergerak naik menuj
Yuna menegang. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering saat Darren menyebut acara makan malam bersama keluarganya. “Makan … malam?” ulangnya tanpa sadar, suaranya mengecil dari biasanya. Di seberang sana, Darren terdengar menghela napas pelan, seolah sudah menduga reaksi itu. “Yuna, jangan bilang kamu lupa apa yang sudah kita bicarakan waktu itu?” Yuna langsung panik. Ia melirik Firas sekilas sebelum buru-buru menjauh beberapa langkah agar pria itu tidak mendengar percakapannya. “Dokter, maaf … tunggu sebentar ya?” katanya cepat dengan suara setengah berbisik. Firas mengerutkan dahi, namun ia mengangguk pelan dan memberi ruang. Yuna berjalan menjauh ke sudut koridor yang lebih sepi, jantungnya berdegup kencang. Ia baru ingat sekarang. Insiden di hotel malam itu, saat Darren menarik Yuna di depan kerumunan untuk memutuskan hubungan dengan seorang perempuan. Ibu Darren yang mendengar hal tersebut langsung salah paham dan mengira Yuna adalah calon pasangan baru anaknya. Darren m
Yuna membeku. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Pertanyaan Ibunya seperti pukulan pelan tepat di dada. Kali ini, ia tidak bisa menjawab jujur pada Ibunya. Kalau bisa Yuvita tidak boleh tahu. Kalau Yuvita tahu bahwa putrinya terjerat kontrak gelap dengan atasannya sendiri demi biaya operasi, Yuna tidak berani membayangkan reaksi ibunya. Ibunya yang sudah lemah ini pasti hancur, merasa bersalah, dan mungkin malah menolak pengobatan selanjutnya. Yuna menelan ludah berat. Tenggorokannya terasa seperti tersumbat. “Ada … bonus dari firma, Bu,” jawab Yuna akhirnya, suaranya pelan dan sedikit bergetar. “Mereka bantu banyak selama aku kerja di sana. Katanya … karena aku sering lembur dan tangani kasus penting.” Yuna memaksakan senyum dengan lembut. “Jadi mereka kasih tunjangan khusus untuk biaya pengobatan keluarga karyawan.” Yuvita terdiam. Matanya menatap Yuna lekat-lekat seolah sedang mencari kebenaran di balik perkataan putrinya. Lalu ia tersenyum lembut, penuh kebangga
Yuna melangkah masuk dengan tangan gemetar. Di dalam ruangan yang lebih terang dan nyaman, Yuvita terbaring di ranjang dengan mata setengah terbuka. Wajahnya masih pucat, tapi ada senyum kecil yang samar ketika melihat putrinya. “Yuna …” suara Yuvita lemah, tapi jelas penuh kasih. Yuna langsung mendekat dan memegang tangan ibunya dengan lembut. Air matanya jatuh lagi tanpa bisa ditahan. “Ibu … Ibu sudah bangun? Syukurlah … aku takut sekali .…” Yuvita mengusap punggung tangan Yuna dengan jari yang lemah. “Maafkan Ibu … sudah bikin kamu khawatir.” Yuna menggeleng pelan. “Jangan minta maaf. Yang penting sekarang, Ibu sudah disini. Ibu juga harus sehat, ya.” Firas berdiri di belakang Yuna memberi ruang, tapi tetap mengawasi dengan tatapan lembut. Yuna menangis pelan sambil menempelkan pipinya ke punggung tangan ibunya. Rasa lega yang luar biasa membanjiri dadanya. Semua ini berawal dari keputusan Kai untuk melunasi biaya pengobatan Yuvita. Tapi Yuna tahu, di balik itu, ia justru







