Sore mulai turun.Langit Jakarta berubah jingga keabu-abuan.Di sebuah halte yang mulai sepi, tiga koper berdiri berjejer.Naya duduk di bangku besi sambil memegang ponsel.Tari duduk di sebelahnya, sesekali melirik ke jalan.Sedangkan Risa…sedang cemberut.Sangat cemberut.Kedua tangannya bersedekap.Pipinya menggembung.Dan sejak lima belas menit terakhir, tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya.Naya menghela napas."Masih marah?"Risa mendengus."Aku nggak marah.""Kamu kalau nggak marah nggak mungkin mukanya kayak ikan buntal.""Aku sedih!""Bedanya?""Sama aja!"Tari sampai menahan tawa.Naya memijat pelipis."Risa.""Apa?""Kita cuma numpang sementara.""Aku nggak mau!"Naya mengernyit."Kenapa?"Risa langsung berdiri."Karena itu rumah suami baru Mama!"Naya hampir tersedak."Tolong jangan teriak.""Aku nggak mau tinggal sama dia!""Dia siapa?""Itu! Gilang baru Mama!"Tari langsung batuk."Eh, Nona kecil…"Risa menunjuk langit."Pokoknya aku maunya Papa Gilang!"Na
Read more