Malam itu restoran terasa lebih ramai dari biasanya.Lampu gantung berpendar hangat, musik lembut mengalun, dan suara percakapan bercampur dengan denting gelas yang beradu pelan. Namun di salah satu sudut ruangan, suasananya jauh dari kata santai.Naya duduk dengan punggung tegak. Wajahnya tegang. Jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme tidak sabar.Di depannya, Rani sahabat yang dia kenal ketika di Amerika tampak jauh lebih santai. Ia bersandar, satu kaki disilangkan, tablet di tangannya terus digeser naik turun.“Next,” gumam Rani tanpa mengangkat kepala.Seorang pria datang.Tinggi, rapi, senyumnya terlalu lebar.Ia duduk di depan Naya.“Selamat malam, cantik.”Naya langsung menghela napas pelan.Rani mengangkat satu alis. “Silakan perkenalkan diri.”Pria itu tersenyum lebih lebar lagi. “Saya bisa jadi apa pun yang kamu mau, sayang.”Naya menatap Rani dengan wajah kosong.Rani pun menahan tawa. “Next.”Pria itu bahkan belum sempat membuka CV. Ia pergi dengan wajah bingung.Kandidat
Last Updated : 2026-05-18 Read more