Jeni berjalan perlahan mengelilingi Aster, ujung jarinya yang lentik menyentuh lengan kemeja pria itu dengan sengaja, sebelum akhirnya ia berhenti tepat di depan dada Aster. Suasananya yang tadi mencekam perlahan berubah menjadi racun yang manis."Kau tahu, Aster," bisik Jeni dengan nada yang dibuat-buat lembut, seolah mereka sedang berada di sebuah kafe romantis, bukan di tengah medan perang rumah tangga. "Sebenarnya, aku bosan dengan segala drama ini. Bukankah lebih mudah jika kita kembali ke rencana awal? Menikah, mengurus aset perusahaan Papa, dan hidup tenang tanpa ada 'gangguan' dari orang luar."Aster menepis tangan Jeni dengan gerakan yang halus namun tegas. "Kamu sedang bermimpi, Jeni. Atau mungkin efek samping dari kecelakaan itu membuatmu kehilangan akal sehat."Jeni tertawa renyah, sebuah tawa yang terdengar sangat ringan, kontras dengan isi ucapannya. "Akal sehat? Oh, Sayang, aku sangat sehat. Aku hanya ingin memulihkan posisiku. Tinggalkan Aruni. Suruh dia angkat kaki
Dernière mise à jour : 2026-04-20 Read More