Di dalam kamar Abam yang remang-remang, Aruni duduk di pinggir tempat tidur. Aroma bedak bayi dan kehangatan selimut menyambutnya, kontras dengan hawa dingin yang memancar dari ruang tamu tadi. Ia mengusap rambut halus Abam yang tertidur lelap dengan mulut sedikit terbuka. Di momen inilah, Aruni merasa dunianya kembali memiliki poros.“Maafkan Mama, Sayang,” bisiknya lirih. Panggilan 'Mama' yang awalnya terasa canggung dalam kontrak pernikahan itu, kini terasa begitu alami. “Mama tidak tahu sampai kapan bisa bertahan di sini.”Pintu kamar terbuka sedikit. Cahaya dari lorong masuk, menciptakan siluet panjang di lantai. Aruni tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang berdiri di sana. Aroma maskulin yang bercampur dengan sedikit bau alkohol dan tembakau itu sudah sangat ia hafal.“Keluar, Aster,” ucap Aruni tanpa menoleh. Suaranya datar, tanpa emosi.“Aruni, tolong... beri aku satu menit,” Aster melangkah masuk, gerakannya sangat hati-hati seolah takut membangunkan Abam—atau mungkin
Dernière mise à jour : 2026-04-10 Read More