Share

Bab 4

Penulis: Célia Oliveira
Saat itu, jantungku membeku, terhenti sejenak. Aku hampir menyaksikan sebuah adegan bunuh diri jika aku tidak bertindak. Naluriku mengambil alih. Aku harus menghentikan pria itu sebelum tragedi terjadi.

"Pak!" Aku berteriak agar dia bisa mendengar. "Tolong, jangan lakukan itu!"

Saat itu juga, kulihat dia menoleh ke arahku.

Segalanya gelap, dan hujan masih turun. Meski kini lebih rintik, aku tetap hanya bisa sesekali menangkap bayangan tubuhnya, karena dia mengenakan tudung.

"Siapa kamu?" Suaranya begitu keras dan tajam sampai membuatku merinding.

"Aku bukan siapa-siapa, tapi aku tahu, apa pun yang sedang kamu alami, ini bukan jawabannya!"

"Dan bagaimana kamu bisa begitu yakin?!" teriaknya marah.

"Aku tidak yakin!" balasku sambil berteriak. Jujur saja, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa. "Tapi aku tahu, bahkan kamu sendiri pasti sadar ini tidak akan memperbaiki apa pun."

"Sialan! Dari mana kamu muncul?"

Dia tiba-tiba melangkah turun dari tepi jembatan dan mulai berjalan ke arahku. Saat itu aku sangat ketakutan, rasanya seperti akulah yang akan terjun dari jembatan, bukan dia.

Dia datang begitu dekat hingga aku bisa merasakan napasnya. Jantungku berdetak begitu kencang, sampai aku takut dia akan melompat keluar dari dadaku jika aku mengucapkan sepatah kata pun.

Dia tinggi, dan pakaiannya basah kuyup. Dia pasti sudah berjam-jam berada di luar sana. Aku tidak bisa melihat wajahnya, tetapi dia hanya berjarak beberapa inci dariku.

Dia tidak berkata apa-apa pada awalnya. Aku pun tak mampu bicara. Yang kudengar hanyalah napas berat kami di tengah kabut tebal. Aku tidak tahu apakah dia sedang mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi, seperti aku, atau sedang merencanakan cara membunuhku.

"Jangan pernah ikut campur urusan yang bukan urusanmu."

Kali ini, suaranya terdengar serak dan rendah.

Dengan itu, dia berjalan pergi, masuk ke mobil, menyalakannya, dan melaju meninggalkan tempat itu. Aku tetap berdiri di sana. Terguncang, tetapi lega karena dia tidak menyakiti dirinya atau menyakitiku.

Aku terus berjalan beberapa kilometer lagi hingga melihat sebuah papan petunjuk di sebuah persimpangan. Satu panah menunjuk ke arah desa, sedangkan yang lain ke arah perkebunan. Karena aku sedang mencari pekerjaan, aku mengikuti jalan menuju perkebunan.

Aku berjalan jauh hingga melihat sebuah rumah besar di tengah-tengah hutan yang sepi. Waktu itu sekitar pukul 3:30 pagi. Terlalu pagi untuk mengetuk pintu. Akan tetapi, aku melihat sebuah lumbung besar di dekat rumah dan memutuskan untuk tidur di sana. Aku akan meminta pekerjaan saat matahari terbit.

Lumbung itu berbau jerami, dan aku menyadari tempat itu digunakan untuk penyimpanan. Aku pun melepas pakaian basahku dan menggantungnya untuk dikeringkan, lalu berbaring di atas jerami. Rasa lelah langsung menyergap. Hujan turun deras lagi, dan itu adalah hal terakhir yang kuingat sebelum tertidur.

...

Aku terbangun oleh suara langkah kaki yang makin mendekat. Dengan cepat aku mengenakan pakaianku yang masih basah. Pagi telah tiba dan hujan pun berhenti.

Aku bersembunyi di tumpukan jerami dan mengintip keluar. Seorang pria sedang melihat ponselnya. Dia berjalan mondar-mandir, berpakaian rapi, dan terus mengusap rambutnya seolah sedang stres.

Aku berusaha menahan diri agar tidak bersuara, tetapi entah kenapa, aku tiba-tiba bersin. Aku pun tidak mampu menahannya.

Pria itu yang tadinya membelakangiku, berputar dan mulai berjalan ke arahku.

"Siapa kamu? Apa yang kamu lakukan di propertiku?" tanyanya dengan tegas. Aku begitu ketakutan sampai tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

"Kalau kamu tidak jawab, aku akan memanggil polisi."

Ucapan itu membuatku tersadar. Aku langsung berdiri. Kalau polisi sampai datang, aku bakal tamat. Mereka pasti akan menghubungi ibuku, dan bajingan Rendi itu akan tahu di mana aku berada. Jadi, aku mulai bicara.

"To ... Tolong, jangan panggil polisi. Namaku Aura Pradita. Aku bukan pencuri atau apa pun. Aku cuma akhirnya tidur di sini karena aku datang cari pekerjaan."

"Pekerjaan?" katanya tegang. "Kamu pikir kamu bisa diterima bekerja dengan cara memasuki tanah orang begitu saja?"

"Aku tidak masuk sembarangan!" Aku membela diri. "Aku datang sangat pagi, jadi tidak ingin mengganggu siapa pun."

Dia terdiam, menatapku beberapa saat.

"Aura .…" gumamnya sambil merenung. "Apa yang bisa kamu lakukan, Aura?"

"Aku bisa memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, merawat anak, tapi aku juga bisa lakukan pekerjaan fisik apa pun. Aku hanya butuh seseorang yang mengajariku. Aku cepat belajar."

"Merawat anak?" tanyanya penasaran.

"Iya. Aku merawat adik perempuanku sejak lahir sampai dia berusia dua tahun. Aku tahu segalanya tentang anak-anak, tidak peduli usianya."

Dia tampak berpikir sejenak sebelum menjawab, "Ayo ikut aku."

Aku cepat-cepat mengikutinya menuju rumah besar itu. Dia masuk, dan aku mengikuti di belakang.

Tiba-tiba, aku mulai mendengar tangisan bayi. Makin dekat, tangisan itu terdengar makin keras dan jelas. Kami pun masuk ke sebuah ruangan, dan aku melihat seorang bayi mungil terbaring di atas tempat tidur.

Kasihan sekali. Bayi itu menangis begitu keras hingga terlihat tidak punya tenaga untuk terus menangis. Pria itu menatapku dan berkata, "Buat dia berhenti menangis."

Aku melangkah mendekati anak kecil itu dengan rasa tidak percaya, mengangkatnya, dan baru sadar dia basah kuyup dan kelaparan.

"Dia lapar dan mungkin popoknya kotor."

"Ikuti aku," kata pria itu sambil menoleh.

Aku mengikutinya sambil menggendong bayi itu. Kami sampai di dapur, dan aku mulai menyiapkan botol susu untuk memberi makan bayi kecil itu.

Aku segera menyadari bahwa bayi itu sangat perlu dimandikan.

"Di mana aku bisa memandikannya?" tanyaku tegas.

Dia menuntunku ke sebuah ruangan dengan wastafel besar dan air hangat. Dia pun menyerahkan sebuah tas berisi dua popok dan sepotong pakaian. Aku mengisi wastafel dengan air hangat, mencari handuk, lalu kembali ke ruangan. Aku lalu menanggalkan pakaian bayi itu dan melepas popoknya. Kasihan, sudah lebih dari sehari popoknya belum diganti. Dia masih bayi baru lahir, pusarnya pun belum lepas. Aku menggendongnya dengan hati-hati dan memandikannya perlahan. Semua itu di bawah tatapan waspada pria itu.

Setelah aku mengenakan baju bayi itu, dia langsung tertidur. Aku meletakkannya di ranjang, lalu berdiri di depan pria itu yang menatapku dengan ekspresi sulit dibaca, seolah mencoba menebak isi pikiranku.

"Berapa usiamu?" tanyanya begitu saja.

"Delapan belas tahun, Tuan," jawabku. Tidak sepenuhnya bohong. Dua bulan lagi aku memang sudah berusia 18 tahun.

"Kamu bilang sedang mencari pekerjaan. Baiklah," katanya sambil berpikir sejenak. "Aku butuh seseorang untuk merawat bayi ini. Berminat?"

"Tentu saja!" jawabku tanpa ragu.

"Tapi ini bukan hal yang sederhana. Ini pekerjaan penuh waktu, tanpa hari libur. Kalau kamu perlu keluar, bawa bayinya. Kamu juga akan tinggal di sini. Makanan dan tempat tinggal sudah termasuk."

"Aku terima!" kataku seketika.

Memang tanpa hari libur terdengar berat, tetapi saat ini aku tidak punya pilihan lain. Selain itu, tanpa harus mengeluarkan biaya apa pun, aku bisa menabung dan melangkah maju setahun lagi.

"Kenapa begitu cepat sudah menerimanya? Aku bahkan belum memberitahumu gaji atau kondisinya. Seberapa putus asa kamu sampai mau bekerja di sini?" tanyanya sambil menatapku.

"Eh .…" Aku ragu-ragu. "Aku benar-benar butuh pekerjaan ini. Itu saja."

"Siapa namamu?"

"Aura Pradita."

"Dan kamu dari mana, Aura?"

"Dari Ibu Kota." Aku berbohong lagi. Mungkin nanti aku akan memberitahunya yang sebenarnya, tetapi pertama, aku harus mendapatkan kepercayaannya dulu.

Dia menatapku seolah bisa menembus semua pikiranku.

"Aura Pradita. Delapan belas tahun. Dari Ibu Kota," gumamnya. "Kalau kamu benar-benar mau pekerjaan ini, ya sudah. Aku akan membayar 37,5 juta ditambah uang lembur. Mulai sekarang kamu akan tidur di kamar ini bersama bayi ini." Dia mulai memberikan instruksi.

"Kamu akan diawasi setiap saat sampai aku percaya padamu. Aku ingin daftar semua kebutuhan bayi. Dia cuma punya apa yang ada di tas itu. Dalam satu jam, kita akan ke Ibu Kota untuk membeli semuanya. Tidak perlu menghemat. Karena kita akan pergi, kamu bisa mampir ke rumahmu dulu untuk mengambil barang-barangmu."

"Ya, Tuan."

Setelah memberi perintah, dia meninggalkan ruangan. Saat itulah aku tersadar aku punya pekerjaan, melakukan sesuatu yang aku suka, dengan gaji yang baik, serta tempat tinggal dan makan gratis.

'Terlalu sempurna untuk menjadi kenyataan,' pikirku.

Aku tinggal di kamar besar itu. Tidak sendirian juga. Malaikat kecil itu sedang tidur dengan tenang.

Aku menoleh ke sekeliling. Ada sebuah kamar mewah, tempat tidur raksasa yang membuat bayi itu terlihat seperti semut, dua kursi malas, meja kopi, dan lemari pakaian besar. Kamar mandi ada bathtub dan hampir sebesar kamar tidur lamaku.

Aku memeriksa tas bayinya. Tersisa satu popok dan selimut kecil. Hanya itu saja.

Rasanya aneh. Seorang bayi baru lahir, nyaris ditinggalkan, berada di rumah mewah bersama seorang pria yang tampaknya bukan ayahnya. Tidak ada tanda-tanda orang lain. Tidak ada ibunya.

Pikiranku mulai dipenuhi seribu teori, tetapi kuabaikan semuanya dan mulai membuat daftar di ponsel. Pakaian, popok, tempat tidur bayi, mainan, semuanya.

Sejam kemudian, pria itu kembali.

"Apa semuanya sudah siap?" tanyanya.

"Ya."

"Ayo."

"Tuan, apa kita akan membawa bayinya?" tanyaku.

"Tentu saja. Apa kamu lupa kalau hari ini kamu mulai bekerja? Mulai sekarang, ke mana pun kamu pergi, dia ikut bersamamu."

Setelah itu, dia menoleh dan meninggalkan ruangan. Aku menggendong bayi itu dan mengikutinya. Kami sampai di sebuah garasi gelap dengan dua mobil. Salah satunya tertutup terpal hitam.

Dia masuk ke mobil dan menungguku. Aku memperhatikan, tidak ada kursi mobil untuk bayi.

"Bayi ini butuh kursi mobil," kataku dengan penuh kekhawatiran.

Dia hanya membawa apa yang ada di tas. "Kupikir kamu sudah menaruhnya dalam daftar. Duduk di belakang dan pegang dia."

Aku melakukan apa yang diperintahkan.

Dia menyalakan mesin, dan kami melaju menuju ibu kota.

Saat aku menatap jalan, rasanya jalan ini bahkan bukan jalan yang sama yang kulewati malam sebelumnya. Ketika kami melewati jembatan, aku teringat pria dari malam itu. Aku pun bertanya-tanya bagaimana keadaannya sekarang.

Tiba-tiba, aku merasa sedang diawasi. Sopir itu menatapku lewat kaca spion.

"Ada apa?" tanyanya dengan rasa ingin tahu.

"Ah, tidak apa-apa," jawabku cepat. Tidak mungkin aku memberitahunya apa yang terjadi di sana tadi malam.

Aku pun menundukkan pandangan ke arah bayi itu. Dia sangat tampan dengan rambut gelap yang halus.

"Siapa nama bayi ini?" tanyaku.

"Aku belum memutuskan. Hari ini aku mendaftarkannya."

Aku terkejut. 'Dia daftarkan?" Jadi… apa dia ayahnya? Bagaimana mungkin dia tidak tahu harus beri nama apa untuk anaknya sendiri? Dan di mana ibunya?'

Banyak pertanyaan yang memenuhi pikiranku, tetapi ini bukan saatnya. Aku hanya menanyakan satu hal lagi.

"Kalau kamu? Siapa namamu?" Aku baru sadar, aku bahkan tidak tahu nama bos baruku.

"Namaku Alverio."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 186

    Seminggu setelah kunjungan Alisa, Itha masih terus memandangi gambar yang diberikan gadis kecil itu.Hatinya terasa begitu berat, seolah semua perasaan yang bahkan tidak mampu dia jelaskan terus menekan dadanya. Itha tahu dia tidak bisa terus menjalani hidup seperti ini, tetapi dia juga tidak tahu bagaimana cara menghentikan pikiran dan perasaan yang terus menguasainya.Sambil menatap keluar dari jendela kamar, Itha akhirnya memutuskan untuk berendam cukup lama. Setelah itu, dia berganti pakaian yang ringan, mengenakan sandal, lalu berjalan-jalan di dalam rumah.Pembantu yang dipekerjakan Samuel, Teresa, belum datang. Hari masih pagi dan Itha sendirian karena Samuel sudah kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa, terutama pada hari itu.Itha keluar rumah dan memandang sekeliling. Dia bertanya-tanya apakah suatu hari nanti hidupnya bisa kembali normal. Perlahan, dia berjalan melewati halaman yang luas hingga tiba di jalan setapak menuju salah satu area perkebunan.Itha teringat beta

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 185

    Dua hari setelah percakapan menyakitkan itu dengan Itha, Samuel masih terus berusaha membujuknya agar tidak mengakhiri hubungan mereka. Namun, usahanya seolah tidak membuahkan hasil. Itha selalu menghindarinya setiap ada kesempatan.Hari itu Jumat. Samuel sedang bekerja di kantor Lembara Estate ketika ponselnya berdering. Nama Alverio muncul di layar."Halo, Sobat.""Gimana keadaanmu, Samuel? Aku mengganggu nggak?" tanya Alverio."Nggak kok. Ada apa?""Apa kamu bisa bantu jemput Alisa dari sekolah? Aku dan Aura sedang di ibu kota untuk membawa anak-anak pemeriksaan rutin. Pak Johan tadi mengantar Bi Imel mengunjungi kerabat, tapi mobilnya mogok di jalan. Dia nggak akan sempat kembali tepat waktu.""Baiklah. Aku berangkat sekarang.""Makasih, Sobat. Setelah itu, bisa tolong antar Alisa pulang dan titipkan dia sama Fiola? Kamu nggak keberatan, 'kan?""Siapa Fiola?" tanya Samuel yang kebingungan."Pengasuh baru kami. Ternyata, mengurus anak sebanyak ini lumayan kewalahan.""Oh begitu. Bai

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 184

    Enam bulan berlalu. Selama itu, ada banyak hal yang berubah. Salah satunya bahkan mengubah hidup mereka sepenuhnya.Dua minggu setelah kembali ke Verdan, Samuel dan Itha pindah ke rumah baru mereka. Hadiah dari Alverio itu memberi mereka privasi yang sangat dibutuhkan, terutama karena Itha sudah menegaskan bahwa dia tidak ingin menerima tamu ataupun berbicara dengan paman dan bibinya. Keputusannya itu membuat semua orang sedih.Kabar tentang depresi yang dialami Itha juga sangat memengaruhi semua orang. Selama ini, Itha dikenal sebagai pribadi yang ceria dan selalu bisa membuat orang lain tertawa. Semua orang di Lembara Estate sudah menganggapnya seperti keluarga dan ingin membantu sebisa mungkin. Namun, mereka juga tahu harus bersabar dan menghargai waktu yang dibutuhkan Itha. Mereka siap melakukan apa pun untuknya, sambil tetap memberinya ruang untuk menghadapi kesedihannya.Meski tinggal di bawah satu atap, Itha memilih tidur di kamar terpisah. Awalnya, Samuel tidak mengatakan apa-a

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 183

    Samuel dan Alverio masuk ke mobil, lalu melaju menuju danau di dekat rumah utama.Saat mobil berbelok mengikuti jalan, Samuel melihat sebuah rumah besar di kejauhan."Kamu membongkar pondok lama itu?""Ya. Pondok itu sudah nggak cocok lagi dengan tempat ini.""Terus kenapa kamu malah membangun rumah baru?" tanya Samuel.Alverio mematikan mesin, lalu mereka berdua turun dari mobil.Beberapa pekerja sedang mengecat bagian luar rumah, sementara yang lain mengangkut perabotan ke dalam."Sebenarnya, rumah ini mau kujadikan ... kejutan untuk pernikahan kalian." Alverio mengakuinya."Apa?" Samuel menatapnya kaget."Ini rencananya hadiah pernikahanku untuk kalian berdua.""Rumah ini?""Ya. Kenapa? Kamu nggak suka?""Alverio, tentu saja aku suka. Aku cuma ...." Samuel terbata-bata. Dia tidak tahu harus berkata apa."Kamu tahu sendiri, aku sudah menganggapmu seperti saudara. Aura juga sayang banget sama Itha. Bukannya menyenangkan kalau kalian tinggal dekat dengan kami? Apalagi, Itha juga bisa t

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 182

    "Kita bicarakan soal itu nanti, setelah keadaan sudah lebih tenang."Setelah meninggalkan ruang rawat ayahnya, Samuel pergi ke ruang rawat Itha.Itha sedang tertidur di ranjang, sementara Angie duduk di kursi sambil membaca buku."Angie, gimana keadaannya?""Masih sama. Dia nggak mau bicara dan juga nggak mau makan. Dokter tadi sempat datang. Katanya, reaksi seperti ini masih wajar setelah apa yang dia alami, tapi kita harus terus mengawasinya. Kalau kondisinya nggak ditangani dengan baik, Itha bisa mengalami depresi berat.""Angie, menurutmu aku harus gimana?" tanya Samuel dengan cemas. Saat itu, dia benar-benar membutuhkan sudut pandang seorang wanita."Pertama, berikan sebanyak mungkin kasih sayang pada tunanganmu. Kamu harus sabar dan berusaha memahami perasaannya. Kedua, carikan terapis yang bagus untuknya. Kalau bisa, seorang wanita."....Lima belas hari kemudian, Itha akhirnya diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Saat itu, Samuel sudah memberi tahu semua orang di Lembara Esta

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 181

    Begitu melihat ekspresi anaknya, Brenda langsung merasa takut."Nak ... apa maksudmu?""Bu, kamu sadar nggak apa yang sudah kamu lakukan? Perbuatanmu benar-benar kejam. Selain itu, dengar baik-baik. Kalau keputusan ada di tanganku, kamu akan menghabiskan sisa hidupmu sendirian di penjara sampai mati dan nggak akan pernah bebas lagi.""Anak macam apa yang lebih memilih wanita asing daripada ibu kandungnya sendiri?!" bentak Brenda."Kalau begitu, ibu macam apa yang nggak bisa menghormati pilihan anaknya? Kamu sudah menyerang tunanganku dan membunuh anakku!""Aku nggak tahu dia hamil. Aku cuma mau menakut-nakutinya dan membuatnya sadar diri kok.""Kamu membayar Adam dan Harry untuk membantu melakukan kejahatan! Kalau sampai menemukan mereka, aku bersumpah akan membuat mereka menyesali semua hal yang sudah mereka lakukan!""Kalau sejak awal kamu mau mendengarkanku, semua ini nggak akan terjadi. Sudah kubilang, aku nggak suka wanita itu dan nggak akan pernah menerima hubungan kalian," bela

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 3

    "Aura, Aura!"Aku menoleh ke samping dan melihat temanku, Isya. Dia mengenakan gaun panjang berwarna biru langit, rambut pirangnya terurai, melambai padaku sambil berjalan mendekat."Aku kira kamu tidak jadi datang, Aura!" katanya sambil memelukku."Isya, kamu tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 2

    "Aura, bangun!" teriak Ibu dari ambang pintu kamarku."Ini baru jam lima pagi. Hari ini bukan giliranku keluar," jawabku kaget sambil melirik jam di ponsel."Kamu tidak pergi hari ini. Alisa demam, jadi kamu harus menemaninya. Rendi tidak bisa mengurusnya sendirian saat dia sakit.""Tapi aku sudah b

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 6

    Pukul enam pagi, aku bangun dan mengenakan pakaian. Aku sedang merapikan beberapa laci ketika seseorang mengetuk pintu kamar. Aku langsung membukanya. Ternyata itu pria yang menurunkan barang-barang dari mobil kemarin saat aku tiba dari ibu kota bersama bayi dan Alverio."Selamat pagi, Nona Aura. Na

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 5

    "Tuan Alverio, berapa hari usia bayi ini?""Dua hari.""Apa dia sudah menjalani tes tusuk tumit?" tanyaku penasaran."Apa?" jawabnya seolah-olah dia sama sekali tidak paham apa yang kubicarakan."Ini tes penting yang dilakukan beberapa hari setelah bayi lahir. Tes ini membantu mendeteksi beberapa pe

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status