Share

Bab 3

Author: Célia Oliveira
"Aura, Aura!"

Aku menoleh ke samping dan melihat temanku, Isya. Dia mengenakan gaun panjang berwarna biru langit, rambut pirangnya terurai, melambai padaku sambil berjalan mendekat.

"Aku kira kamu tidak jadi datang, Aura!" katanya sambil memelukku.

"Isya, kamu tidak tahu apa yang baru saja terjadi. Rendi, bajingan itu, mau memperkosaku," kataku sambil menangis. Kenangan tentang pria menjijikkan itu yang menyentuhku masih terasa begitu jelas.

"Apa?!" balasnya terkejut.

Aku menceritakan semuanya padanya. Dia langsung memelukku, menangis bersamaku.

"Kita bisa memperbaiki semua ini, Aura. Kamu tidak boleh kembali ke rumah itu lagi. Aku sudah tahu kamu harus gimana!"

"Gimana?"

"Aku punya surat izin perjalanan yang sudah ditandatangani orang tuaku, dan tiketnya juga sudah dibeli. Kamu tinggal naik bus menggantikanku saja."

"Kamu gila?! Nanti kamu bisa ketinggalan perjalananmu!"

"Aku tinggal beli tiket lagi dan berangkat besok. Lagi pula, kuliah di universitas baru mulai minggu depan."

"Apa kata orang tuamu nanti?" tanyaku khawatir. Aku memang punya masalah sendiri, tetapi aku juga tidak ingin Isya ikut mendapat masalah gara-gara aku.

"Jangan khawatir. Aku akan cari alasan. Aku akan bilang ketinggalan bus karena terlalu lama di minimarket atau semacamnya. Nanti aku akan pikirkan."

"Aku bahkan tidak tahu harus bilang apa, Isya. Kamu sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Beri tahu berapa harga tiketnya. Akan kuganti supaya besok kamu bisa beli lagi."

"Mana boleh! Anggap saja ini hadiah untuk kebebasanmu. Aku tahu betapa kamu menderita di rumah itu, dan aku nggak mau kamu kembali lagi ke sana. Sekarang pergi. Kamu tidak boleh ketinggalan bus!"

"Isya, apa hari ini aku sudah bilang kalau aku mencintaimu?"

"Belum, tapi aku tahu kamu mencintaiku," katanya sambil tersenyum. "Apa yang ada di tasmu?"

"Pitaku, dokumen-dokumenku, dan semua uang yang sudah kutabung."

"Kamu tidak bawa pakaian? Pakai saja punyaku."

"Tidak bisa!" kataku cepat. Isya sudah melakukan lebih dari cukup untukku. Aku tidak bisa memanfaatkan kebaikannya lagi.

"Begitu sampai di sana, aku akan beli beberapa baju. Aku bahkan belum tahu akan pergi ke mana, jadi aku tidak bisa bawa terlalu banyak barang."

"Kalau begitu, setidaknya ambil ini." Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompetnya.

"Aku tidak bisa terima. Tenang saja, aku masih punya uang."

"Tolong, Rara. Aku memberikannya dengan tulus. Aku akan tinggal di rumah bibiku, jadi tidak ada pengeluaran. Lagi pula, orang tuaku juga mengirim uang saku yang cukup setiap bulan."

Orang tua Isya memang bukan orang kaya, tetapi kondisi keuangan mereka cukup stabil.

"Kamu bakal butuh uang itu sampai menemukan pekerjaan."

"Baik, aku terima, tapi dengan satu syarat. Setelah aku dapat pekerjaan, aku akan mengembalikannya."

"Setuju, dasar keras kepala."

Kami tertawa, lalu terdengar pengumuman panggilan terakhir untuk bus. Aku pun memeluk sahabatku untuk terakhir kalinya.

"Jangan lupa ganti nomor dan hubungi aku. Aku ingin selalu mendengar kabarmu!"

"Aku janji!"

Aku naik ke bus dan menunjukkan dokumen yang diberikan Isya kepadaku. Mereka bahkan tidak meminta kartu identitasku. Aku lalu duduk dan mulai memikirkan apa yang akan kulakukan dengan hidupku.

Pikiranku melayang pada adik perempuanku. Aku tahu monster itu tidak akan menyentuhnya, kebenciannya hanya tertuju padaku. Meski begitu, aku tetap khawatir. Dia sedang sakit, dan aku bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal.

Aku membawa 34,5 juta. Uang itu cukup untuk menyewa kamar di rumah kos dan segera mencari pekerjaan, tetapi aku merasa kewalahan. Seumur hidup aku belum pernah bekerja. Ibu tidak pernah mengizinkanku mengikuti pelatihan apa pun, bahkan yang gratis sekalipun. Satu-satunya hal yang bisa kulakukan hanyalah mengurus rumah dan merawat anak.

Sekitar pukul enam sore, ponselku mulai berdering. Ternyata Ibu yang menelepon. Aku langsung mengangkatnya.

"Aura, kamu di mana?" Suaranya terdengar tegas.

"Bu, gimana keadaan Alisa? Apa dia sudah merasa lebih baik?" Aku mencoba menghindari pertanyaannya.

"Jangan pura-pura bodoh, Aura. Aku sudah di depan rumah. Kalau dalam sepuluh menit kamu tidak muncul, kamu akan tahu akibatnya."

"Kenapa?" tanyaku, mencoba menebak apa yang sudah dikatakan bajingan itu kepadanya.

"Karena kamu, Rendi mengalami kecelakaan. Kamu meninggalkan adikmu yang sedang sakit sendirian lalu pergi. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Saat jam makan siang, dia terpeleset sambil membawa baki makanan. Bukan hanya terkena luka bakar, wajahnya juga tergores pecahan yang berserakan."

"Apa?" Dia tak punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada ibuku. Bajingan itu pasti sedang merencanakan balas dendam dengan cara lain.

"Tidak, Bu, bukan begitu yang terjadi. Pria yang Ibu pilih untuk dinikahi itu mau melecehkanku, jadi aku hanya membela diri. Aku melemparkan sup itu ke wajahnya sekuat tenaga."

"Omong kosong apa yang kamu katakan, Aura?!" teriaknya histeris.

"Ibu sudah dengar sendiri. Lucu juga, ya, dia tidak menceritakan yang sebenarnya, padahal dia selalu menyebut dirinya pria sejati."

"Apa kamu sadar apa yang kamu katakan, Aura? Rendi itu pegawai negeri. Dia terkenal di kota ini! Kamu mau menghancurkan hidupnya dengan kebohonganmu? Dari dulu aku sudah tahu aku tidak bisa memercayaimu. Dia pasti terluka karena berusaha menghindari godaanmu. Sudahlah, jangan pulang lagi. Tinggallah di mana pun kamu sekarang, dasar anak tidak tahu berterima kasih!"

"Dia sudah melakukan segalanya untukmu, membesarkanmu seperti anaknya sendiri padahal dia bahkan bukan ayah kandungmu. Selama tinggal di rumah itu, kamu tidak pernah kekurangan apa pun. Semoga hidup memberimu pelajaran. Semoga kamu menderita dan menangis darah saat akhirnya menyesali semua ini."

"Bu, sejak kapan Ibu jadi monster berhati dingin seperti ini? Bagaimana Ibu bisa lebih percaya pada pria itu daripada putri Ibu sendiri?"

"Dengarkan baik-baik. Mulai sekarang, aku tidak lagi menganggapmu sebagai anakku. Kamu bukan siapa-siapa lagi bagiku. Kesalahanku adalah pernah melahirkanmu. Masa mudaku habis untuk membesarkanmu, tapi ini balasan yang kamu berikan!"

Dia menutup teleponku.

Mendengar semua itu membuatku menangis seperti anak kecil. Dia hamil di usia enam belas tahun, bertemu ayahku, mereka jatuh cinta, lalu tinggal bersama. Dua tahun kemudian mereka menikah. Kami sangat bahagia. Aku tidak pernah sekali pun melihat penyesalan di matanya karena melahirkanku di usia muda.

Sayangnya, suatu sore saat ayahku pulang kerja, seorang pengemudi mabuk menabraknya ketika dia menyeberang jalan. Ayah meninggal seketika. Pengemudi itu adalah seorang remaja berusia tujuh belas tahun, putra seorang pengusaha kaya dan berpengaruh. Dia sama sekali tidak mendapat hukuman. Mereka hanya memberi ibuku uang kompensasi, dan sejak itu ibuku menerima tunjangan untukku. Namun, aku tidak pernah melihat sepeser pun dari uang itu.

Setelah bertemu dengan Rendi, mereka membeli sebuah rumah di lingkungan yang bagus. Dia bekerja di Kantor Kejaksaan dan mencarikan Ibu pekerjaan sebagai sekretaris. Di mata orang luar, kehidupan mereka tampak baik-baik saja. Namun, aku tidak pernah benar-benar menikmati semua itu, kecuali bisa bersekolah di sekolah swasta, hanya agar tidak terlihat buruk jika aku bersekolah di sekolah negeri.

Di dini hari, sebagian besar penumpang sudah tertidur. Aku menatap ke luar jendela, memandangi jalan raya yang gelap, sambil bertanya-tanya apa yang harus kulakukan dengan hidupku.

Siapa yang mau mempekerjakan anak di bawah umur?

Di halte bus pertama, sekitar pukul lima pagi, aku pergi ke kamar mandi lalu membeli kopi di kafe kecil. Aku kelaparan. Seharian kemarin aku hampir tidak makan apa pun, sejak aku melempar makan siangku ke wajah bajingan itu. Aku juga membeli beberapa bungkus biskuit untuk perjalanan, air, jus, serta sebuah jaket dari pedagang kaki lima. Di dalam bus sangat dingin, sementara aku hanya mengenakan kaus berlengan pendek.

Pukul enam pagi, bus kembali melaju. Persediaanku sudah lebih lengkap, jadi aku tidak perlu khawatir kelaparan selama perjalanan. Sambil menunggu ponselku terisi daya, aku mencari kamar dan rumah kos untuk disewa. Apa saja, asalkan aku tidak perlu tidur di jalan begitu tiba di ibu kota.

Aku juga mencari lowongan pekerjaan, tetapi semuanya membutuhkan orang yang berpengalaman dan memiliki referensi. Sayangnya, aku tidak punya keduanya. Setelah hampir satu setengah hari perjalanan, akhirnya aku tiba di ibu kota. Gedung-gedung tinggi dan jalan raya yang lebar terasa begitu mencengangkan. Kampung halamanku terasa sangat kecil jika dibandingkan dengan semua ini.

Aku turun di terminal bus sekitar pukul dua siang, lalu mencari informasi pekerjaan di sebuah kedai makanan. Seorang wanita paruh baya yang baik hati membantuku, dan aku menanyakan segala hal yang bisa kutanyakan padanya.

"Sayang, bahkan di ibu kota pun mencari pekerjaan itu sangat sulit. Lowongan sangat terbatas dan persaingannya ketat. Dari yang kamu ceritakan, peluang terbaikmu mungkin bekerja di rumah seseorang. Tapi itu juga tidak mudah. Orang-orang tidak sembarangan membiarkan orang asing masuk ke rumah mereka."

"Aku mengerti, Bu Merry, tapi aku yakin aku pasti bisa menemukan sesuatu!" kataku, berusaha terdengar percaya diri.

"Sebetulnya, sekarang aku teringat satu tempat yang mungkin mau mempekerjakanmu." Maria berhenti sejenak, menatap langit, lalu kembali menatapku. "Perkebunan Lembara, beberapa kilometer dari sini. Mereka selalu butuh orang untuk panen, membersihkan lumbung, memasak untuk para pekerja, dan mereka tidak menuntut riwayat kerja yang mewah."

"Bagaimana cara aku ke sana?" tanyaku penuh harap.

"Lembara sekitar empat puluh kilometer dari sini. Begitu sampai di kota itu, tanya saja pada siapa pun tentang perkebunan itu. Sebenarnya, kota itu dibangun oleh pemilik perkebunan untuk para pekerjanya tinggal. Sewanya sangat murah, langsung dipotong dari gaji mereka. Anakku sudah tinggal dan bekerja di sana selama tujuh tahun. Tadi pagi dia bahkan sempat datang menjengukku."

"Di mana halte bus yang menuju ke sana?"

"Nah itu masalahnya. Mereka punya sistem transportasi sendiri, tapi hanya beroperasi setiap hari Sabtu."

"Tempat itu hampir seperti kota kecil yang berdiri sendiri, jadi orang-orang biasanya baru masuk ke kota saat hari libur mereka, yaitu hari Sabtu. Kalau punya mobil pribadi, mereka bisa datang kapan saja. Tapi bus hanya berjalan pada hari Sabtu. Taksi juga sudah tidak ke sana lagi. Pemilik tempat itu tidak suka ada mobil asing mendekati desa mereka, jadi semuanya dilarang."

"Aku mengerti. Aku akan coba mencari jalan ke sana."

"Coba saja, Nak. Minggu lalu ada sekitar lima puluh buruh baru datang untuk bekerja. Pasti mereka butuh orang untuk membantu di dapur."

"Terima kasih, Bu Merry. Selamat siang."

Karena masih ada tiga jam lagi sebelum pukul tiga sore, aku memutuskan untuk mencoba peruntungan. Aku akan pergi ke peternakan itu, bahkan kalau harus menumpang kendaraan orang di jalan. Sambil berjalan menuju pinggiran kota, aku menawarkan pita-pita buatanku kepada setiap wanita yang kulihat bersama seorang gadis kecil.

Aku melihat papan penunjuk arah menuju Lembara dan terus berjalan. Cepat atau lambat pasti ada mobil yang lewat, lalu aku bisa menumpang. Memang berisiko, tetapi hatiku sudah begitu hancur, emangnya bisa lebih buruk lagi? Aku tertarik pergi ke tempat itu karena, seperti kata Bu Merry, mereka selalu membuka lowongan kerja dan menyediakan tempat tinggal untuk para pekerja dengan biaya murah. Itu benar-benar yang kubutuhkan saat ini.

Aku berjalan sekitar lima belas kilometer menyusuri jalan tanah itu, tetapi tak satu pun mobil lewat. Aku mulai menyesali ide ini. Berjalan sendirian di jalan yang tak kukenal, di tempat terpencil, tanpa seorang pun di sekitar.

Menjelang pukul enam sore, langit mulai menggelap dan awan semakin pekat. Tanda jelas bahwa badai akan segera turun. Saat itulah aku benar-benar menyesal. Akan tetapi, aku sudah tak bisa mundur lagi. Tak lama kemudian hujan pun turun deras. Hujannya begitu lebat, langit hitam pekat, dan tubuhku sudah basah kuyup. Aku berusaha menutupi senter ponselku agar tidak terkena air, tetapi pandanganku hampir tak bisa melihat apa pun.

Pada saat itu, aku dengan pahit menyesal tidak menunggu sampai Sabtu depan untuk pergi ke perkebunan. Namun, karena saat itu baru hari Minggu dan aku tak mampu menunggu selama itu, aku memilih ide gila ini. Aku tak bisa menyia-nyiakan sedikit uang yang kumiliki.

Tadi aku sempat meminta seorang sopir taksi untuk mengantarkanku sedekat mungkin ke desa itu, tetapi dia hanya menatapku seperti orang gila. Saat itu aku tidak mengerti alasannya, tetapi sekarang semuanya masuk akal. Meski begitu, aku tetap menjalankan rencanaku yang konyol itu.

Hujan sudah sedikit mereda, tetapi tubuhku sudah basah kuyup dan kedinginan. Yang paling membuatku heran adalah tidak ada satu pun mobil yang melewati jalan itu.

Saat itulah aku sadar bahwa aku sedang mendekati sesuatu. Ketika semakin dekat, aku melihat sebuah jembatan. Dan tepat di seberangnya, mataku menangkap lampu belakang merah sebuah mobil.

Mobil itu berwarna merah dengan lambang kuda di atasnya. Tampak seperti kendaraan mewah, yang terasa aneh karena mobil itu hanya terparkir di atas jembatan.

Saat kilat menyambar, aku terkejut dan dalam sekejap itu aku melihat sekilas seorang pria berdiri di tepi jembatan, seolah siap menjatuhkan dirinya ke bawah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 186

    Seminggu setelah kunjungan Alisa, Itha masih terus memandangi gambar yang diberikan gadis kecil itu.Hatinya terasa begitu berat, seolah semua perasaan yang bahkan tidak mampu dia jelaskan terus menekan dadanya. Itha tahu dia tidak bisa terus menjalani hidup seperti ini, tetapi dia juga tidak tahu bagaimana cara menghentikan pikiran dan perasaan yang terus menguasainya.Sambil menatap keluar dari jendela kamar, Itha akhirnya memutuskan untuk berendam cukup lama. Setelah itu, dia berganti pakaian yang ringan, mengenakan sandal, lalu berjalan-jalan di dalam rumah.Pembantu yang dipekerjakan Samuel, Teresa, belum datang. Hari masih pagi dan Itha sendirian karena Samuel sudah kembali menjalani rutinitasnya seperti biasa, terutama pada hari itu.Itha keluar rumah dan memandang sekeliling. Dia bertanya-tanya apakah suatu hari nanti hidupnya bisa kembali normal. Perlahan, dia berjalan melewati halaman yang luas hingga tiba di jalan setapak menuju salah satu area perkebunan.Itha teringat beta

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 185

    Dua hari setelah percakapan menyakitkan itu dengan Itha, Samuel masih terus berusaha membujuknya agar tidak mengakhiri hubungan mereka. Namun, usahanya seolah tidak membuahkan hasil. Itha selalu menghindarinya setiap ada kesempatan.Hari itu Jumat. Samuel sedang bekerja di kantor Lembara Estate ketika ponselnya berdering. Nama Alverio muncul di layar."Halo, Sobat.""Gimana keadaanmu, Samuel? Aku mengganggu nggak?" tanya Alverio."Nggak kok. Ada apa?""Apa kamu bisa bantu jemput Alisa dari sekolah? Aku dan Aura sedang di ibu kota untuk membawa anak-anak pemeriksaan rutin. Pak Johan tadi mengantar Bi Imel mengunjungi kerabat, tapi mobilnya mogok di jalan. Dia nggak akan sempat kembali tepat waktu.""Baiklah. Aku berangkat sekarang.""Makasih, Sobat. Setelah itu, bisa tolong antar Alisa pulang dan titipkan dia sama Fiola? Kamu nggak keberatan, 'kan?""Siapa Fiola?" tanya Samuel yang kebingungan."Pengasuh baru kami. Ternyata, mengurus anak sebanyak ini lumayan kewalahan.""Oh begitu. Bai

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 184

    Enam bulan berlalu. Selama itu, ada banyak hal yang berubah. Salah satunya bahkan mengubah hidup mereka sepenuhnya.Dua minggu setelah kembali ke Verdan, Samuel dan Itha pindah ke rumah baru mereka. Hadiah dari Alverio itu memberi mereka privasi yang sangat dibutuhkan, terutama karena Itha sudah menegaskan bahwa dia tidak ingin menerima tamu ataupun berbicara dengan paman dan bibinya. Keputusannya itu membuat semua orang sedih.Kabar tentang depresi yang dialami Itha juga sangat memengaruhi semua orang. Selama ini, Itha dikenal sebagai pribadi yang ceria dan selalu bisa membuat orang lain tertawa. Semua orang di Lembara Estate sudah menganggapnya seperti keluarga dan ingin membantu sebisa mungkin. Namun, mereka juga tahu harus bersabar dan menghargai waktu yang dibutuhkan Itha. Mereka siap melakukan apa pun untuknya, sambil tetap memberinya ruang untuk menghadapi kesedihannya.Meski tinggal di bawah satu atap, Itha memilih tidur di kamar terpisah. Awalnya, Samuel tidak mengatakan apa-a

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 183

    Samuel dan Alverio masuk ke mobil, lalu melaju menuju danau di dekat rumah utama.Saat mobil berbelok mengikuti jalan, Samuel melihat sebuah rumah besar di kejauhan."Kamu membongkar pondok lama itu?""Ya. Pondok itu sudah nggak cocok lagi dengan tempat ini.""Terus kenapa kamu malah membangun rumah baru?" tanya Samuel.Alverio mematikan mesin, lalu mereka berdua turun dari mobil.Beberapa pekerja sedang mengecat bagian luar rumah, sementara yang lain mengangkut perabotan ke dalam."Sebenarnya, rumah ini mau kujadikan ... kejutan untuk pernikahan kalian." Alverio mengakuinya."Apa?" Samuel menatapnya kaget."Ini rencananya hadiah pernikahanku untuk kalian berdua.""Rumah ini?""Ya. Kenapa? Kamu nggak suka?""Alverio, tentu saja aku suka. Aku cuma ...." Samuel terbata-bata. Dia tidak tahu harus berkata apa."Kamu tahu sendiri, aku sudah menganggapmu seperti saudara. Aura juga sayang banget sama Itha. Bukannya menyenangkan kalau kalian tinggal dekat dengan kami? Apalagi, Itha juga bisa t

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 182

    "Kita bicarakan soal itu nanti, setelah keadaan sudah lebih tenang."Setelah meninggalkan ruang rawat ayahnya, Samuel pergi ke ruang rawat Itha.Itha sedang tertidur di ranjang, sementara Angie duduk di kursi sambil membaca buku."Angie, gimana keadaannya?""Masih sama. Dia nggak mau bicara dan juga nggak mau makan. Dokter tadi sempat datang. Katanya, reaksi seperti ini masih wajar setelah apa yang dia alami, tapi kita harus terus mengawasinya. Kalau kondisinya nggak ditangani dengan baik, Itha bisa mengalami depresi berat.""Angie, menurutmu aku harus gimana?" tanya Samuel dengan cemas. Saat itu, dia benar-benar membutuhkan sudut pandang seorang wanita."Pertama, berikan sebanyak mungkin kasih sayang pada tunanganmu. Kamu harus sabar dan berusaha memahami perasaannya. Kedua, carikan terapis yang bagus untuknya. Kalau bisa, seorang wanita."....Lima belas hari kemudian, Itha akhirnya diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Saat itu, Samuel sudah memberi tahu semua orang di Lembara Esta

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 181

    Begitu melihat ekspresi anaknya, Brenda langsung merasa takut."Nak ... apa maksudmu?""Bu, kamu sadar nggak apa yang sudah kamu lakukan? Perbuatanmu benar-benar kejam. Selain itu, dengar baik-baik. Kalau keputusan ada di tanganku, kamu akan menghabiskan sisa hidupmu sendirian di penjara sampai mati dan nggak akan pernah bebas lagi.""Anak macam apa yang lebih memilih wanita asing daripada ibu kandungnya sendiri?!" bentak Brenda."Kalau begitu, ibu macam apa yang nggak bisa menghormati pilihan anaknya? Kamu sudah menyerang tunanganku dan membunuh anakku!""Aku nggak tahu dia hamil. Aku cuma mau menakut-nakutinya dan membuatnya sadar diri kok.""Kamu membayar Adam dan Harry untuk membantu melakukan kejahatan! Kalau sampai menemukan mereka, aku bersumpah akan membuat mereka menyesali semua hal yang sudah mereka lakukan!""Kalau sejak awal kamu mau mendengarkanku, semua ini nggak akan terjadi. Sudah kubilang, aku nggak suka wanita itu dan nggak akan pernah menerima hubungan kalian," bela

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 2

    "Aura, bangun!" teriak Ibu dari ambang pintu kamarku."Ini baru jam lima pagi. Hari ini bukan giliranku keluar," jawabku kaget sambil melirik jam di ponsel."Kamu tidak pergi hari ini. Alisa demam, jadi kamu harus menemaninya. Rendi tidak bisa mengurusnya sendirian saat dia sakit.""Tapi aku sudah b

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 1

    Sudah lewat pukul enam sore ketika ibuku muncul di depan pintu sambil berteriak, "Aura! Aura!"Aku segera bergegas keluar. Di tangannya ada beberapa kantong belanja."Cepat kemari, gadis bodoh! Kamu tidak lihat ini berat, ya?"Ibu seperti biasanya sedang dalam suasana hati yang buruk. Pasti Rendi Sa

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 5

    "Tuan Alverio, berapa hari usia bayi ini?""Dua hari.""Apa dia sudah menjalani tes tusuk tumit?" tanyaku penasaran."Apa?" jawabnya seolah-olah dia sama sekali tidak paham apa yang kubicarakan."Ini tes penting yang dilakukan beberapa hari setelah bayi lahir. Tes ini membantu mendeteksi beberapa pe

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 4

    Saat itu, jantungku membeku, terhenti sejenak. Aku hampir menyaksikan sebuah adegan bunuh diri jika aku tidak bertindak. Naluriku mengambil alih. Aku harus menghentikan pria itu sebelum tragedi terjadi."Pak!" Aku berteriak agar dia bisa mendengar. "Tolong, jangan lakukan itu!"Saat itu juga, kuliha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status