Compartilhar

Bab 5

Autor: Célia Oliveira
"Tuan Alverio, berapa hari usia bayi ini?"

"Dua hari."

"Apa dia sudah menjalani tes tusuk tumit?" tanyaku penasaran.

"Apa?" jawabnya seolah-olah dia sama sekali tidak paham apa yang kubicarakan.

"Ini tes penting yang dilakukan beberapa hari setelah bayi lahir. Tes ini membantu mendeteksi beberapa penyakit sejak dini."

"Begini saja. Hari ini kita beli semua perlengkapannya, besok kita urus semua tes medisnya. Oke?" katanya, sedikit tidak sabar.

"Oke."

Sisa perjalanan berlangsung sunyi. Saat kami tiba di Ibu Kota, pemberhentian pertama kami adalah sebuah toko untuk membeli kursi mobil dan tempat tidur bayi. Setelah itu, kami menuju kantor catatan sipil. Aku duduk dekat pintu keluar, memperhatikan jalanan, sementara Alverio Santoso menunggu giliran dipanggil. Sesaat, aku sempat berpikir mungkin ibu bayi itu akan muncul untuk membantu mendaftarkannya, tetapi kenyataannya, dia tak pernah datang.

Masih ada tiga orang di depan Alverio. Jadi, sementara menunggu, aku mendapatkan ide. Aku melihat sebuah toko pakaian wanita di sebelah dan memutuskan untuk memeriksanya sekaligus membeli beberapa kebutuhan.

Dengan bayi di pelukan, aku memilih beberapa pakaian dalam, lima blus, tiga celana panjang, dan dua gaun. Aku tidak mencoba satu pun. Hanya menanyakan ukuran dan semuanya langsung dikemas. Toko itu juga menjual sepatu, jadi aku mengambil dua pasang sandal dan satu pasang sepatu olahraga. Aku juga membeli tas travel kecil dan memasukkan semua barang ke dalamnya.

Di sebelah sana ada sebuah apotek, tempat aku membeli beberapa perlengkapan kebersihan pribadi. Semuanya tidak sampai dua puluh menit, dan saat aku kembali ke kantor catatan sipil dengan tas penuh, Alverio sudah selesai.

Kami pun pergi ke apotek dan membeli popok, botol susu, cincin gigi, satu paket perlengkapan kebersihan, dan susu formula. Setelah itu, kami mampir ke toko pakaian bayi dan memilih semua yang dia perlukan. Aku memilih sebagian besar barang dengan ukuran yang lebih besar, karena tahu dia akan cepat tumbuh. Alverio tidak peduli dengan harganya, malah dia menyuruhku membeli merek terbaik.

Kami sudah keluar lebih dari dua jam ketika bayi mulai menangis.

"Astaga, anak ini menangis lagi?" keluh Alverio.

"Itu wajar, Tuan. Bayi seusianya makan tiap dua jam. Bisa kita berhenti di kafe? Aku akan minta mereka mensterilkan botolnya."

Kami berhenti di sebuah restoran kecil. Aku menjelaskan situasinya kepada pelayan, yang dengan ramah mensterilkan botol dan bahkan menghangatkan air untuk susu formula. Setelah aku memberi makan bayi itu dan dia tertidur lagi, kami pun menyelesaikan belanjaan.

"Di mana kamu tinggal? Ayo kita ambil barang-barangmu," kata Alverio.

"Tidak perlu. Ibu sudah menaruhnya untukku. Aku sudah minta dia antarkan saat kita di kantor catatan sipil." Aku berbohong.

Dia menatapku dengan curiga, tapi tidak berkata apa-apa. Kami kembali ke rumah besar itu. Saat kami tiba, salah satu staf sudah menunggu dan membantu membawa semua tas ke kamarku.

Ada banyak yang harus diatur, tetapi aku masih punya waktu. Hal baik tentang bayi baru lahir adalah mereka tidur hampir sepanjang hari.

Aku mengambil pakaian baru bayinya dan pergi mencari ruang cuci. Karena besok kami ada janji, aku ingin dia memakai sesuatu yang bersih dan baru. Aku mencuci semuanya dengan tangan dan menjemurnya.

Sementara itu, aku pergi ke dapur untuk memanaskan air untuk termos dan membawanya ke kamar. Di sana, aku bertemu seorang wanita.

"Selamat siang!" sapaku dengan sopan.

"Selamat siang," jawabnya, menatapku dengan rasa ingin tahu. "Kamu pasti pengasuhnya, ya?"

"Ya, benar. Namaku Aura."

"Aku Imel, salah satu staf rumah. Bos bilang ada kamu, jadi aku harus menyiapkan makan siang untukmu."

"Terima kasih banyak."

Setelah melayaniku, Imel meninggalkan dapur. Sepertinya dia bukan tipe orang yang banyak bicara. Aku sendiri menatap bayi melalui monitor yang baru saja dipasang Alverio. Setelah makan, aku naik ke lantai atas dan mulai merapikan barang-barang bayi di lemari. Di antara tas-tas itu, bahkan ada beberapa mainan.

Sambil menata barang, aku mencium aroma asap dari luar. Penasaran, aku mengintip lewat jendela dan melihat Alverio sedang membakar pakaian di sebuah tong besar. Dengan cepat aku menutup jendela, takut dia melihatku mengintip.

Kemudian, ketika aku turun untuk makan malam, aku mengambil pakaian yang kini sudah kering dan menyetrikanya. Aku pun membawanya kembali ke lantai atas dan menaruhnya di tempat semestinya. Pikiranku dipenuhi berbagai teori, tetapi aku memilih untuk tidak terlalu memikirkannya untuk saat ini.

Aku belum merakit tempat tidur bayi, dan sudah pukul sembilan malam. Aku akhirnya memutuskan untuk menundanya sampai besok dan tidur bersama bayi di ranjang.

Setelah mandi, aku berganti pakaian tidur yang baru kubeli. Rasanya aneh, karena Alverio sama sekali tidak muncul sepanjang sisa hari itu, bahkan untuk sekadar memeriksa anaknya sendiri.

Pukul sepuluh, aku berbaring di samping makhluk mungil itu dan mencium dahinya karena orang tuanya tidak ada di sana untuk melakukannya.

Di saat itu, aku merasakan sesuatu yang istimewa terhadap bayi itu.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 202

    "Haleluya! Puji Tuhan!""Samuel!" Itha menoleh ke sekeliling dan mendapati bahwa orang-orang sudah melihat ke arahnya. Mereka semua terkejut melihat Samuel yang begitu heboh."Aku akan jadi ayah!" teriak Samuel lagi."Orang-orang pada melihat kemari!" Itha berusaha menenangkannya. Dia merasa sangat malu karena kehebohan Samuel menarik perhatian banyak orang."Kenapa, Sayang? Aku sudah janji sama Tuhan kalau hal seperti ini benar-benar terjadi, aku akan melakukan ini.""Kapan kamu berjanji seperti itu?" tanya Itha penasaran."Waktu kita dalam perjalanan ke sini.""Tapi, tadi kamu sangat serius .... Kamu sama sekali nggak kelihatan seperti orang yang percaya bahwa hal seperti ini bisa terjadi," balas Itha."Sayang, penampilan bisa menipu. Aku memang kelihatan tenang dari luar, tapi bukan berarti perasaanku juga setenang itu."Itha pun melupakan rasa malunya dan langsung memeluk tunangannya."Samuel, kita bakal punya anak. Seorang anak perempuan," ujar Itha bahagia dengan suara yang mulai

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 201

    Setelah berada di ruang dokter kandungan, Itha dan Samuel menunggu hasil pemeriksaan yang sebelumnya telah diminta oleh dokter."Ada beberapa hal yang bisa membuat tes kehamilan di rumah menunjukkan hasil positif." Dokter itu mulai menjelaskan sambil memegang hasil pemeriksaan di tangannya."Bisa karena cara pemakaiannya kurang tepat, pengaruh obat-obatan, kondisi kesehatan tertentu, dan ...." Sambil berbicara, dokter mengeluarkan hasil pemeriksaan dari dalam amplop. Dia membacanya dalam diam, lalu tiba-tiba berhenti. "Sepertinya pemeriksaan ini perlu diulang.""Kenapa, Dok? Apa ada masalah dengan tunanganku?" tanya Samuel dengan nada khawatir."Hasil pemeriksaan ini juga menunjukkan bahwa Nona Itha positif hamil," jawab dokter yang jelas terlihat terkejut.Samuel langsung terdiam sejenak. Dari ekspresinya, jelas ada begitu banyak pertanyaan yang memenuhi benaknya."Nona Itha, saya akan meminta mereka mengambil sampel darah lagi.""Kenapa nggak langsung USG saja, Dok?" usul Itha. "Biar

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 200

    "Tha ...."Melihat Itha begitu bersemangat, hati Samuel justru terasa berat.Dia hampir yakin hasil itu keliru.Tes kehamilan yang dilakukan sendiri memang tidak selalu 100% akurat. Apalagi sebelum Itha keluar dari rumah sakit, dokter sudah beberapa kali memeriksanya dan menjelaskan kondisinya dengan sangat jelas."Mungkin hasilnya salah," ujar Samuel pelan. "Kenapa kamu sampai melakukan tes itu?""Aku merasa sayang kalau langsung dibuang begitu saja tanpa dipakai," jawab Itha lirih.Nada suaranya terdengar kecewa.Dia tadinya berharap Samuel akan ikut senang.Namun dari raut wajah tunangannya, Itha bisa melihat bahwa hasil tes itu justru membuat Samuel khawatir."Berikan padaku."Samuel mengambil alat tes itu dari tangan Itha, lalu membuangnya ke tempat sampah."Buat apa kita menyimpan ini? Kita sama-sama tahu kenyataannya. Hasilnya pasti keliru. Seharusnya kamu nggak melakukan tes itu, Tha. Sekarang, kamu malah akan makin kecewa kalau ternyata hasilnya memang salah.""Maaf."Itha men

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 19

    Setelah selesai mengunjungi penjara, Itha dan Samuel pergi makan siang bersama Malvin dan Angie. Kedua sahabat mereka itu sangat senang melihat keadaan Itha sudah jauh lebih baik dan perlahan kembali menjalani hidupnya bersama pria yang dicintainya.Makan siang di rumah Malvin dan Angie berlangsung menyenangkan.Mereka sepakat untuk hanya membicarakan hal-hal yang menyenangkan dan tidak lagi mengungkit kenangan buruk yang sudah berlalu.Itha dan Samuel juga meminta pasangan itu menjadi saksi di pernikahan mereka yang akan segera digelar di Verdan.Pernikahan itu akan berlangsung sederhana dan hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat yang mereka sayangi serta telah menemani perjalanan hidup mereka selama ini.Mereka menghabiskan beberapa jam dengan mengobrol santai sebelum akhirnya berpamitan.Dalam perjalanan kembali ke hotel, tiba-tiba Samuel mendapat ide."Kalau kamu belum terlalu lelah, malam ini kita bisa pergi ke Museum Enriz," usul Samuel dengan penuh semangat."Boleh." Itha ters

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 198

    Begitu melihat gerakan tangan Itha di perutnya, Brenda langsung memahami maksudnya.Mulutnya ternganga lebar.Dia tidak percaya.Dadanya terasa nyeri, bahkan rasa kesal di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan.Sebelum sempat pulih dari keterkejutannya, Samuel masuk melalui pintu yang baru saja dilewati Itha.Mata Brenda langsung dipenuhi air mata.Dia tahu putranya adalah satu-satunya harapan yang masih dia punya untuk bisa keluar dari tempat itu."Samuel Sayang!" Brenda menempelkan telapak tangannya ke kaca. "Ibu sangat menderita di sini. Tolong ... kasihanilah aku. Aku ini ibumu. Tolong keluarkan Ibu dari sini. Kumohon."Brenda menangis tersedu-sedu seperti anak kecil."Halo, Bu."Tidak ada sedikit pun emosi dalam sapaan Samuel.Tangisan dan permohonan Brenda sama sekali tidak menggoyahkannya."Tampaknya, sekarang kamu akhirnya menanggung akibat dari semua yang sudah kamu lakukan.""Tolong, Nak. Keluarkan Ibu dari sini. Kalau nggak bisa, setidaknya bantu supaya aku bisa menj

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 197

    Jumat pagi itu, Itha dan Samuel meninggalkan hotel, lalu berangkat menuju penjara wanita di Landon.Samuel sama sekali tidak ingin bertemu ibunya.Semua yang terjadi masih meninggalkan luka yang dalam. Samuel tidak punya sedikit pun keinginan untuk berhadapan lagi dengan Brenda. Yang dia inginkan hanyalah kembali ke kehidupannya di Verdan dan melupakan Landon untuk selamanya.Meski Landon adalah kota kelahirannya dan menyimpan banyak kenangan indah dari masa kecilnya, Samuel tahu kota itu tidak akan pernah terasa sama lagi baginya, tidak peduli berapa lama pun waktu berlalu.Setelah menyelesaikan semua prosedur yang diperlukan, Itha masuk lebih dulu ke ruang kunjungan.Dia meminta waktu lima menit untuk berbicara berdua dengan Brenda sebelum Samuel menyusul.Itha duduk di kursi pengunjung. Di balik kaca tebal di hadapannya, terdapat kursi tempat Brenda akan duduk. Keduanya akan dipisahkan oleh kaca dan berbicara melalui telepon yang tersedia di sana. Mereka tidak akan bisa melakukan ko

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 6

    Pukul enam pagi, aku bangun dan mengenakan pakaian. Aku sedang merapikan beberapa laci ketika seseorang mengetuk pintu kamar. Aku langsung membukanya. Ternyata itu pria yang menurunkan barang-barang dari mobil kemarin saat aku tiba dari ibu kota bersama bayi dan Alverio."Selamat pagi, Nona Aura. Na

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 4

    Saat itu, jantungku membeku, terhenti sejenak. Aku hampir menyaksikan sebuah adegan bunuh diri jika aku tidak bertindak. Naluriku mengambil alih. Aku harus menghentikan pria itu sebelum tragedi terjadi."Pak!" Aku berteriak agar dia bisa mendengar. "Tolong, jangan lakukan itu!"Saat itu juga, kuliha

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 3

    "Aura, Aura!"Aku menoleh ke samping dan melihat temanku, Isya. Dia mengenakan gaun panjang berwarna biru langit, rambut pirangnya terurai, melambai padaku sambil berjalan mendekat."Aku kira kamu tidak jadi datang, Aura!" katanya sambil memelukku."Isya, kamu tidak tahu apa yang baru saja terjadi.

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 1

    Sudah lewat pukul enam sore ketika ibuku muncul di depan pintu sambil berteriak, "Aura! Aura!"Aku segera bergegas keluar. Di tangannya ada beberapa kantong belanja."Cepat kemari, gadis bodoh! Kamu tidak lihat ini berat, ya?"Ibu seperti biasanya sedang dalam suasana hati yang buruk. Pasti Rendi Sa

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status