LOGINSamuel dan Alverio masuk ke mobil, lalu melaju menuju danau di dekat rumah utama.Saat mobil berbelok mengikuti jalan, Samuel melihat sebuah rumah besar di kejauhan."Kamu membongkar pondok lama itu?""Ya. Pondok itu sudah nggak cocok lagi dengan tempat ini.""Terus kenapa kamu malah membangun rumah baru?" tanya Samuel.Alverio mematikan mesin, lalu mereka berdua turun dari mobil.Beberapa pekerja sedang mengecat bagian luar rumah, sementara yang lain mengangkut perabotan ke dalam."Sebenarnya, rumah ini mau kujadikan ... kejutan untuk pernikahan kalian." Alverio mengakuinya."Apa?" Samuel menatapnya kaget."Ini rencananya hadiah pernikahanku untuk kalian berdua.""Rumah ini?""Ya. Kenapa? Kamu nggak suka?""Alverio, tentu saja aku suka. Aku cuma ...." Samuel terbata-bata. Dia tidak tahu harus berkata apa."Kamu tahu sendiri, aku sudah menganggapmu seperti saudara. Aura juga sayang banget sama Itha. Bukannya menyenangkan kalau kalian tinggal dekat dengan kami? Apalagi, Itha juga bisa t
"Kita bicarakan soal itu nanti, setelah keadaan sudah lebih tenang."Setelah meninggalkan ruang rawat ayahnya, Samuel pergi ke ruang rawat Itha.Itha sedang tertidur di ranjang, sementara Angie duduk di kursi sambil membaca buku."Angie, gimana keadaannya?""Masih sama. Dia nggak mau bicara dan juga nggak mau makan. Dokter tadi sempat datang. Katanya, reaksi seperti ini masih wajar setelah apa yang dia alami, tapi kita harus terus mengawasinya. Kalau kondisinya nggak ditangani dengan baik, Itha bisa mengalami depresi berat.""Angie, menurutmu aku harus gimana?" tanya Samuel dengan cemas. Saat itu, dia benar-benar membutuhkan sudut pandang seorang wanita."Pertama, berikan sebanyak mungkin kasih sayang pada tunanganmu. Kamu harus sabar dan berusaha memahami perasaannya. Kedua, carikan terapis yang bagus untuknya. Kalau bisa, seorang wanita."....Lima belas hari kemudian, Itha akhirnya diperbolehkan keluar dari rumah sakit. Saat itu, Samuel sudah memberi tahu semua orang di Lembara Esta
Begitu melihat ekspresi anaknya, Brenda langsung merasa takut."Nak ... apa maksudmu?""Bu, kamu sadar nggak apa yang sudah kamu lakukan? Perbuatanmu benar-benar kejam. Selain itu, dengar baik-baik. Kalau keputusan ada di tanganku, kamu akan menghabiskan sisa hidupmu sendirian di penjara sampai mati dan nggak akan pernah bebas lagi.""Anak macam apa yang lebih memilih wanita asing daripada ibu kandungnya sendiri?!" bentak Brenda."Kalau begitu, ibu macam apa yang nggak bisa menghormati pilihan anaknya? Kamu sudah menyerang tunanganku dan membunuh anakku!""Aku nggak tahu dia hamil. Aku cuma mau menakut-nakutinya dan membuatnya sadar diri kok.""Kamu membayar Adam dan Harry untuk membantu melakukan kejahatan! Kalau sampai menemukan mereka, aku bersumpah akan membuat mereka menyesali semua hal yang sudah mereka lakukan!""Kalau sejak awal kamu mau mendengarkanku, semua ini nggak akan terjadi. Sudah kubilang, aku nggak suka wanita itu dan nggak akan pernah menerima hubungan kalian," bela
Dokter masuk ke ruangan tempat Samuel dan Itha menunggu."Permisi. Nona Itha, gimana perasaan Anda sekarang?""Dokter, gimana keadaan anakku?" tanya Itha tanpa menunggu lama. Hanya itu yang benar-benar ingin diketahuinya.Samuel dan dokter saling bertukar pandang. Dokter bisa melihat betapa hancurnya Samuel sampai pria itu tidak sanggup menyampaikan kabar tersebut kepada tunangannya sendiri."Nona Itha ...." Dokter mulai berbicara dengan hati-hati, "Maaf, kami sudah melakukan semua yang kami bisa untuk menyelamatkan anak Anda, tapi ... kami nggak berhasil.""Apa?" Suara Itha langsung bergetar."Maaf. Untuk sekarang, saya ingin Anda fokus pada pemulihan. Anda mengalami benturan yang sangat parah saat terjatuh dan sayangnya ada cedera yang cukup serius. Kami sudah berusaha menanganinya, tapi Anda harus benar-benar menjaga kondisi dan menghindari aktivitas berat. Kalau sampai terjadi komplikasi, mungkin akan sangat sulit bagi Anda untuk hamil lagi."Setelah itu, Itha tidak lagi mendengar
Itha masih belum sadarkan diri di dalam mobil yang melaju menuju rumah sakit.Benjolan besar akibat benturan sudah terlihat di kepalanya.Angie terus menyalahkan dirinya sendiri karena tidak datang lebih cepat dan mencegah semua itu terjadi.Suaminya, Malvin, mengemudi secepat mungkin tanpa membahayakan mereka. Yang ada di pikirannya hanyalah segera sampai ke rumah sakit.Dia sangat mengkhawatirkan nyawa Itha dan bayi yang sedang dikandungnya.Kurang dari 15 menit kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah sakit.Itha langsung dibawa masuk untuk mendapat penanganan, sementara Malvin berusaha menghubungi Samuel.…Di sisi lain, Clara langsung pergi ke kantor polisi untuk melaporkan Brenda dan dua orang yang membantunya. Kedua pria itu sudah melarikan diri begitu polisi tiba di rumah Keluarga Ardiansyah.Brenda sendiri ditangkap di tempat dan dibawa ke kantor polisi.Saat petugas polisi memberi tahu bahwa dirinya ditahan, Brenda langsung mengamuk. Dia berteriak, menendang, meludahi wajah sa
"Apa yang mau kamu lakukan? Membunuhku?!" bentak Itha. "Kamu merasa hebat cuma karena menyuruh dua pria ini menahanku? Lepaskan aku dan hadapi aku sendiri kalau berani, dasar nenek lampir!"Meski tidak bisa melepaskan diri, Itha tetap menatap Brenda tanpa gentar."Sekarang juga, akan kubuat kamu berhenti memasang ekspresi sombong seperti itu." Brenda mengambil sebuah gunting pangkas dari sabuk Adam. "Balikkan tubuhnya!" pinta Brenda."Nyonya, jangan lakukan ini!" seru Clara sambil bergegas masuk ke kamar. "Kalau Anda benar-benar melakukannya, Tuan Samuel akan membenci Anda seumur hidup!""Samuel nggak akan pernah tahu apa yang terjadi di sini, mengerti?!" bentak Brenda pada semua orang di ruangan itu. "Kalau ada yang berani buka mulut, kalian semua akan kupecat dan kuusir dari sini! Lagian kalau kalian coba menceritakannya, aku tinggal menyangkal semuanya."Sambil tetap menggenggam gunting itu, Brenda menyuruh salah seorang pria mengumpulkan rambut Itha menjadi satu di belakang kepalan
Sudah lewat pukul enam sore ketika ibuku muncul di depan pintu sambil berteriak, "Aura! Aura!"Aku segera bergegas keluar. Di tangannya ada beberapa kantong belanja."Cepat kemari, gadis bodoh! Kamu tidak lihat ini berat, ya?"Ibu seperti biasanya sedang dalam suasana hati yang buruk. Pasti Rendi Sa
"Tuan Alverio, berapa hari usia bayi ini?""Dua hari.""Apa dia sudah menjalani tes tusuk tumit?" tanyaku penasaran."Apa?" jawabnya seolah-olah dia sama sekali tidak paham apa yang kubicarakan."Ini tes penting yang dilakukan beberapa hari setelah bayi lahir. Tes ini membantu mendeteksi beberapa pe
Saat itu, jantungku membeku, terhenti sejenak. Aku hampir menyaksikan sebuah adegan bunuh diri jika aku tidak bertindak. Naluriku mengambil alih. Aku harus menghentikan pria itu sebelum tragedi terjadi."Pak!" Aku berteriak agar dia bisa mendengar. "Tolong, jangan lakukan itu!"Saat itu juga, kuliha
"Aura, Aura!"Aku menoleh ke samping dan melihat temanku, Isya. Dia mengenakan gaun panjang berwarna biru langit, rambut pirangnya terurai, melambai padaku sambil berjalan mendekat."Aku kira kamu tidak jadi datang, Aura!" katanya sambil memelukku."Isya, kamu tidak tahu apa yang baru saja terjadi.







