Share

Bab 6

Author: Célia Oliveira
Pukul enam pagi, aku bangun dan mengenakan pakaian. Aku sedang merapikan beberapa laci ketika seseorang mengetuk pintu kamar. Aku langsung membukanya. Ternyata itu pria yang menurunkan barang-barang dari mobil kemarin saat aku tiba dari ibu kota bersama bayi dan Alverio.

"Selamat pagi, Nona Aura. Namaku Johan. Aku sopir Tuan Alverio, aku datang untuk memberi tahu bahwa mobil sudah siap kapan pun kamu ingin pergi ke Ibu Kota. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit untuk pemeriksaan bayi."

"Hah, Tuan Alverio tidak ikut?" tanyaku penasaran.

"Tidak, dia pagi-pagi sudah pergi."

"Baiklah, aku akan menyiapkan bayi dan turun sebentar lagi."

Aku menutup pintu, lalu pergi memandikan bayi itu yang tampak sangat nyaman di bak mandi.

"Kamu terlihat begitu nyaman sekarang, Sayang. Kalau kamu milikku, aku akan memanggilmu Naren."

Setelah menyiapkan si kecil, aku mengemas tasnya, turun ke bawah, minum kopi sebentar sambil dia bersantai di stroller, lalu menggendongnya dan menuju mobil. Aku menempatkannya di kursi mobil.

Johan datang dan berkata, "Bos menyuruhku menyerahkan ini padamu."

Dia memberikan sebuah map. Aku menerimanya dan melihat isinya berisi dokumen-dokumen bayi itu. Aku pun masuk ke mobil, dan saat Johan mengemudi, aku membuka map itu di pangkuanku. Di dalamnya, aku menemukan akta kelahiran bayi itu, dan aku tidak bisa menahan diri. Aku harus tahu nama anak yang kusayang ini.

Naren Santoso. Astaga, aku seperti memenangkan lotere!

Sertifikat itu hanya mencantumkan nama ayah, yaitu Alverio Santoso. Hal itu membuatku cemas. Apa ibunya meninggal saat melahirkan? Meski begitu, kenapa namanya tidak dicantumkan? Kepalaku sudah penuh dengan berbagai teori. Alverio memang membelikan bayi itu segala yang terbaik, tetapi kemarin dia sama sekali tidak datang menengok.

Kami tiba di kota dan langsung menuju Rumah Sakit Eka Asih, sebuah rumah sakit swasta yang sangat besar. Di meja resepsionis, seorang perawat meminta KTP-ku karena aku mendampingi pasien. Aku pun menyerahkan KTP-ku.

"Maaf, kami tidak menerima wali yang masih di bawah umur," kata resepsionis itu.

Johan menatapku dengan kebingungan.

Aku melangkah menjauh dari meja dan menuntunnya ke samping.

"Tolong, Pak Johan, bisakah kamu mendaftarkan dirimu sebagai wali bayi ini?"

"Kamu masih di bawah umur? Apa yang terjadi? Bos tidak mempekerjakan anak di bawah umur."

"Ceritanya panjang. Tolong, dengarkan saja. Dua bulan lagi aku akan berusia delapan belas tahun, dan karena aku benar-benar butuh pekerjaan ini, aku bilang kalau aku sudah cukup umur."

"Tapi dia pasti akan minta dokumenmu untuk menyelesaikan kontrak."

"Aku tahu. Aku akan cari cara mengurusnya sebelum ulang tahunku. Tapi tolong, jangan bilang pada dia. Aku benar-benar butuh pekerjaan ini." Aku memohon.

"Dengar, Nak. Aku akan mendaftar dulu karena bayi perlu dirawat, dan aku tidak ingin perjalanan ini sia-sia. Tapi Tuan Alverio benci dibohongi. Kalau aku jadi kamu, aku akan berkata jujur padanya saat kita kembali ke kediaman. Dia akan mengerti. Apalagi kamu hampir delapan belas tahun dan dia butuh seseorang yang bisa merawat anak itu."

"Terima kasih, Pak Johan."

"Aku serius. Kalau dia tahu kamu berbohong dari awal, dia akan mengusirmu."

Johan kembali ke konter dan mengurus pendaftaran. Kami menjalani semua tes yang diperlukan untuk Naren, termasuk kunjungan ke dokter anak yang menanyakan beberapa hal yang tidak bisa kujawab, tetapi kami sudah menjadwalkan kontrol bulanan.

Perjalanan pulang berlangsung hening. Naren yang tadinya menangis sepanjang tes refleks, kini tertidur seperti malaikat. Meski masih begitu kecil, dia sudah menampakkan ciri-ciri wajah ayahnya.

Johan menyetir dengan tenang, sampai akhirnya aku bertanya sesuatu yang sudah lama menghantuiku, "Di mana ibu bayi ini?"

Dia terlihat terkejut dengan pertanyaanku, tetapi matanya tetap menatap jalan dan tidak berkata apa-apa. Kesunyian itu justru membuat rasa penasaranku makin besar. Di sampingku ada malaikat kecil yang polos, baru berusia tiga hari dan tidak ada ibunya. Sejujurnya, ayahnya pun tidak terlalu kelihatan.

Saat kami sampai di rumah, aku mengganti pakaian Naren sementara dia tidur nyenyak seperti batu, lalu mandi. Aku pun turun ke lantai bawah dan mencuci pakaian baruku dengan tangan. Barangku tidak banyak, jadi aku harus membuatnya bertahan lama. Aku hanya punya dua setelan yang lebih rapi untuk berjaga-jaga kalau harus keluar bersama Tuan Alverio.

Kemudian ketika aku hendak menyiapkan botol Naren, aku menyadari termosnya kosong. Jadi aku menaruhnya di kereta dorong dan menuju ke dapur. Tepat sebelum melangkah masuk, aku mendengar Alverio sedang berbicara dengan seorang pria lain. Aku sebenarnya tidak berniat menguping, tetapi aku tidak bisa tidak mendengar sedikit.

"Alverio, waktu aku baca pesan itu, aku bahkan tidak bisa berpikir jernih. Aku langsung ambil kunci. Bisa bayangkan betapa putus asanya aku? Aku terus meneleponmu, tapi ponselmu mati," kata pria itu. "Aku menyetir seribu kilometer, cuma berhenti untuk isi bensin. Sepanjang perjalanan, aku tidak berhenti mengutuk wanita itu di kepalaku sendiri."

"Itu tidak ada apa-apanya … Kamu tidak akan percaya siapa ...."

Alverio terhenti mendadak.

Naren mulai menangis di dalam stroller, dan kedua pria itu menoleh ke arahku.

'Sial, pas saat ceritanya mulai seru.'

"Maaf, aku tidak sengaja mengganggu. Aku datang untuk menyiapkan botol Naren," kataku.

Pria yang lain berdiri dan melangkah mendekat untuk mengintip ke dalam stroller.

"Jadi ini anakmu?" Dia tersenyum. "Untung dia mirip denganmu!"

"Aku tidak tahu apa maksudmu. Bayi itu semuanya mirip," jawab Alverio datar.

Naren mulai menangis lagi. Aku menggendongnya dan mulai menyiapkan botol susunya, sambil merasakan tatapan kedua pria itu menempel di punggungku.

"Bagaimana hasil tes tadi pagi, Aura?" tanya Alverio.

"Semuanya baik, Tuan. Beberapa hasil akan keluar minggu depan, tapi dokter bilang dia bayi yang sangat sehat."

"Siapa nama anakmu, Alverio?" tanya pria itu.

"Naren," jawabnya.

"Dapat nama itu dari mana?"

"Dari brosur di kantor catatan sipil."

Mereka tertawa, sementara aku berusaha memproses apa yang mereka katakan.

"Bersikap baiklah pada anak itu. Dia satu-satunya yang tidak bersalah."

"Aku tahu. Makanya aku sudah mengurus semuanya untuknya, termasuk mempekerjakan pengasuh ini."

Pria itu menatapku beberapa detik.

"Berapa umurmu, Nona?"

Sebelum aku sempat menjawab, Alverio menyahut untukku, "Namanya Aura, usianya delapan belas tahun, dan memiliki pengalaman sebagai pengasuh."

Aku membeku saat pria itu terus menatapku.

"Kamu terlihat lebih muda."

Aku merasa sangat tidak nyaman dan takut ketahuan, jadi aku meraih botol dan termos sekaligus dengan satu tangan, menaruh Naren kembali di stroller dengan tangan yang lain, lalu pergi.

"Maaf, Naren harus diberi minum susu," kataku sambil bergegas keluar dari dapur menuju kamar.

Orang-orang kaya ini memang beda. Tidak ada salam, tetapi langsung menanyakan hal-hal pribadi seolah mereka pemilik tempat ini. Aku memberi makan bayi itu, menepuk punggungnya sampai bersendawa, lalu meletakkannya di ranjang dan mulai merakit tempat tidurnya. Kalau terserah padaku, aku akan membiarkannya tidur bersamaku, tetapi aku tidak tahu preferensi Alverio dan tidak mau mengambil risiko.

Sambil merakit tempat tidur, pikiranku terus kembali pada ucapan pria itu. Meminta Alverio perlakukan Naren dengan hati-hati, karena dia tidak bersalah.

‘Maksudnya apa itu?’ pikirku berulang-ulang, sampai pintu terbuka dan Alverio masuk, berdiri diam di depanku. Aku terkejut dan langsung meloncat bangun.

"Aku butuh KTP dan nomor pajakmu untuk menyelesaikan kontrakmu," katanya.

Aku pun teringat peringatan Johan tentang betapa Alverio membenci kebohongan, tetapi aku terlalu takut dipecat untuk mengaku jujur. Aku harus berpikir cepat.

"Eh … sebenarnya, aku perlu bicara dengan Anda, Tuan. Ada kecelakaan dengan dokumenku."

"Kecelakaan?" Dia mengangkat alis.

"Ya … anjingku."

"Anjing?"

"Ya, seekor pinscher. Kamu tahu sifat anjing itu, kecil tapi garang. Dia masuk ke tasku dan mengoyak semuanya." Aku tertawa canggung.

"Pastikan kamu segera perbaiki," katanya dengan tegas.

"Ya, Tuan."

"Dan jangan lupa bawa bayi itu bersamamu."

"Tentu saja!"

"Kamu sekarang staf penuh waktu. Ingat, Johan bertanggung jawab mengantarmu ke mana saja, bahkan untuk urusan pribadi."

"Terima kasih, Tuan."

Aku tersenyum lebar, penuh rasa syukur. Meski baru saja kuucapkan salah satu kebohongan terburuk dalam hidupku, atau mungkin tidak. Dia sepertinya memercayaiku. Aku bisa saja bilang bajuku basah karena kehujanan, tetapi kalau begitu dia pasti tahu aku menembus badai di malam hari hanya untuk sampai ke sini, dan itu pasti akan jadi masalah.

Sebelum berbalik pergi, Alverio melirik sekilas ke arah bayinya. Wajahnya seperti ingin mendekat, tetapi malah hanya melangkah keluar begitu saja.

Sungguh pria yang dingin. Tidak ada selera humor, dan bahkan tidak mau mendekati anaknya sendiri.

Aku selesai menata tempat tidur bayi, meletakkan kasur dan seprai, lalu menidurkan Naren. Itu saja yang dia butuhkan, tanpa bantal atau pelindung samping untuk menghindari risiko sesak napas.

Naren seperti biasa, sudah tertidur. Dia akan bangun di tengah malam untuk menyusu, lalu kembali tidur. Dia bayi yang begitu tenang. Kasihan sekali. Dia pantas digendong, dicium, dan dipeluk oleh orang tuanya, tetapi dia tidak punya siapa-siapa. Jadi setelah mandi, aku akan menggendongnya, bahkan saat dia tidur, supaya dia merasa aman dan dicintai di dunia baru yang asing ini.

Aku sudah memakai piama, bersiap untuk tidur, dan baru saja makan malam. Setiap kali aku meninggalkan kamar tanpa dia, aku selalu membawa monitor bayi. Meski aku masih tidak percaya meninggalkannya sendirian. Aku mendorong tempat tidurnya lebih dekat ke ranjang, lalu berbaring.

Tidak lama, seseorang mengetuk pintu. Aku bangkit dan membukanya. Ternyata Imel.

"Aura!"

"Iya?"

"Bos ingin bertemu denganmu di kantornya. Sekarang juga."

"Di mana kantornya?"

"Pintu terakhir di lorong kedua."

"Baik, aku ganti pakaian dulu, baru pergi."

"Tapi dia bilang sekarang juga, Nona. Lebih baik pergi seperti ini saja. Dia benci menunggu."

Dia menoleh dan pergi. Aku menatap Naren yang tidur nyenyak, mengambil monitor, dan berjalan menuju kantor. Sebelum sempat mengetuk, suara Alverio sudah terdengar. "Masuk, Aura."

"Anda memanggilku, Tuan?"

"Aura, segera kemasi barang-barangmu," katanya dengan nada kesal.

"Kenapa?" Aku tercengang

"Kamu dipecat!"
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 50

    Aku duduk di dekat Alverio di atas pasir dan mulai menatap ombak yang datang silih berganti. Laut itu indah, bahkan terasa seperti sihir. Saat angin bermain di rambutku, aku berharap momen ini bisa bertahan selamanya, karena sudah lama rasanya aku tidak merasakan kebahagiaan seperti ini."Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa tentang dunia, ya?" Alverio memulai pembicaraan."Kenapa kamu bilang gitu?""Kamu bahkan belum pernah ke pantai, tempat yang sesederhana itu.""Bukan begitu. Aku cuma tidak punya pilihan. Ibuku tidak pernah membawaku ke mana-mana, dan dia juga tidak membiarkanku ikut pergi bersamanya.""Kamu masih muda, Aura. Kamu masih perlu melihat dunia sebelum tahu apa yang benar-benar kamu inginkan dalam hidup.""Aku sudah tahu apa yang aku inginkan. Dan aku tidak perlu pergi jauh untuk mengetahuinya. Kebahagiaan itu tentang siapa diriku, bukan tentang di mana aku berada.""Ketika kamu bertemu orang-orang berbeda, pandanganmu tentang hidup akan berubah. Kamu akan ingin pergi me

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 49

    "Kita sudah bisa pergi?" tanyanya."Ya." Dia pun membayar tagihannya."Kamu bisa memotong bagianku dari gaji bulan ini, Tuan," kataku dengan tegas."Gaji apa? Apa kamu lupa kalau aku sedang memotong biaya rumah sakit? Kamu tidak akan dapat gaji untuk sementara waktu."Kemudian, Alverio bangkit dan berjalan keluar, berharap aku mengikutinya. Sekarang aku mulai khawatir tentang berapa biaya rumah sakit itu. Kenapa dia membawaku ke rumah sakit swasta? Pria itu benar-benar tahu cara merusak hari seseorang. Bagaimana aku bisa membeli laptop sekarang? Kalau aku menghabiskan uang yang kumiliki, aku akan bangkrut untuk entah berapa lama."Dasar pria kejam tidak berperikemanusiaan. Pernah dengar tentang layanan kesehatan publik?"Aku menggumam pelan. Namun, bahkan kalau aku mengucapkannya dengan keras, dia tidak akan mendengarnya. Dia sudah setengah jalan menuju mobil. Kaki panjang dan langkahnya yang cepat sungguh menyebalkan.Aku masuk ke mobil dan kami pun melaju.Kami menuju kembali ke perk

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 48

    Aku baru setengah jalan menyelesaikan makan siang ketika tiba-tiba Alverio berbicara, "Apa yang akan kamu lakukan sekarang setelah dewasa?""Oh, aku akan terus bekerja dan mendaftar ke universitas online."Alverio berhenti makan, mungkin terkejut dengan jawabanku."Apa yang mau kamu pelajari?" tanyanya dengan rasa ingin tahu."Pendidikan," jawabku, lalu kembali fokus pada makananku, tetapi dia tidak. Alverio hanya terus menatapku."Kapan kamu akan mulai?""Aku belum tahu, aku masih perlu beli laptop. Lalu aku akan mencari universitas online yang bagus.""Laptop yang bagus harganya mahal," ujarnya dengan nada yang sama meremehkan."Aku tahu, tapi aku cuma akan pakai untuk sekolah, jadi aku tidak akan pilih-pilih." Aku tertawa kecil, sedikit ironis."Kamu sungguh punya jawaban untuk segala hal, ya?""Hanya untuk pertanyaan yang ditanyakan padaku."Aku tidak bermaksud kasar, tetapi aku juga tidak akan membiarkan Alverio mengusik perasaanku. Sudah cukup buruk dia menilai aku hanya karena a

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 47

    "Emang kenapa? Kamu ke sini mau makan atau mau jalan di panggung catwalk?" ejek Alverio.Dia menutup pintunya dan mulai berjalan menuju restoran, jelas berharap aku mengikutinya, tetapi melihatku seperti ini, tidak mungkin aku keluar. Aku tetap membeku di kursi.Saat dia menyadari aku tidak bergerak, dia berbalik, mengusap dahinya seolah kehilangan kesabaran, lalu kembali ke mobil, berdiri di dekat pintu penumpang."Kenapa kamu tidak keluar?""Kita tidak bisa makan di tempat lain? Tolong, aku hanya tidak ingin orang-orang menatapku dengan wajah penuh penilaian itu.""Aku akan menemanimu. Tidak ada yang akan melakukan itu selama aku di sampingmu.""Tapi tetap saja, aku lebih suka makan di tempat yang lebih sederhana."Aku merasa malu setengah mati. Alverio tampak sempurna, jelas seseorang dari kalangan atas. Dan aku? Aku terlihat seperti … yah, seseorang yang baru saja keluar dari rumah sakit. Aku tidak merendahkan diri, tetapi setelah kehilangan sembilan belas kilo, kondisiku memang ti

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 46

    Aku menoleh dan dia berdiri di sana. Alverio dengan tatapan tegas dan serius seperti biasanya."Bagaimana bisa kamu pergi dari rumah sakit tanpa memberitahu siapa pun?" tanyanya, suaranya tajam, jelas marah."Aku memang ingin memberitahumu, Tuan," jawabku sambil diam-diam menyeka air mataku."Kapan? Setelah tersesat di kota?!" bentaknya."Aku cuma ingin menghirup udara segar," ucapku.Alverio duduk di sampingku, membuatku seketika merasa sedikit canggung."Jadi sekarang kamu sudah dewasa, jadi sudah mulai menunjukkan kemandirianmu?" katanya menatapku. "Kamu tidak berniat kembali ke kediaman, 'kan?""Tentu saja berniat. Aku cuma ingin makan siang dulu.""Jujur saja, Aura. Sebagian besar barangmu ada di tas kecil itu saja.""Kamu tahu kenapa aku tidak punya banyak barang. Aku tidak bawa apa pun dari rumah saat pindah ke sini.""Oke, maaf," katanya. "Tapi sebenarnya kamu memang tidak ingin kembali, ya?""Aku ingin kembali. Aku cuma sudah lama terjebak di rumah sakit itu tanpa melihat mata

  • Di Antara Bos dan Bayinya   Bab 45

    Besok adalah ulang tahunku, dan aku tahu Isya pasti akan menelepon. Dia satu-satunya orang yang aku yakin tidak akan lupa. Ada juga Itha, yang belakangan makin dekat denganku. Sementara ibuku? Tidak mungkin. Bukan hanya karena aku sudah mengganti nomorku, tetapi dia bahkan tidak lagi menganggapku sebagai putrinya.Semua itu masih terasa menyakitkan. Aku masih ingat Alisa, dan bagaimana pada ulang tahunku yang terakhir, aku membeli kue mangkuk dengan lilin di atasnya. Kami menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun bersama dan menghabiskan waktu bermain seharian. Aku sangat merindukan adik perempuanku....Malam tiba, dan aku terus menelan obat-obatku. Ahli gizi datang untuk memeriksa kondisiku, lalu dokter yang membawa kabar baik. Tubuhku merespons vitamin dengan baik. Itu berarti aku mungkin tidak perlu menghabiskan ulang tahunku di rumah sakit. Syukurlah, karena aku sangat ingin melihat Naren. Aku tidak henti-hentinya mengkhawatirkan dia. Aku sama sekali tidak tahu bagaimana hubungan antar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status