LOGIN"Haleluya! Puji Tuhan!""Samuel!" Itha menoleh ke sekeliling dan mendapati bahwa orang-orang sudah melihat ke arahnya. Mereka semua terkejut melihat Samuel yang begitu heboh."Aku akan jadi ayah!" teriak Samuel lagi."Orang-orang pada melihat kemari!" Itha berusaha menenangkannya. Dia merasa sangat malu karena kehebohan Samuel menarik perhatian banyak orang."Kenapa, Sayang? Aku sudah janji sama Tuhan kalau hal seperti ini benar-benar terjadi, aku akan melakukan ini.""Kapan kamu berjanji seperti itu?" tanya Itha penasaran."Waktu kita dalam perjalanan ke sini.""Tapi, tadi kamu sangat serius .... Kamu sama sekali nggak kelihatan seperti orang yang percaya bahwa hal seperti ini bisa terjadi," balas Itha."Sayang, penampilan bisa menipu. Aku memang kelihatan tenang dari luar, tapi bukan berarti perasaanku juga setenang itu."Itha pun melupakan rasa malunya dan langsung memeluk tunangannya."Samuel, kita bakal punya anak. Seorang anak perempuan," ujar Itha bahagia dengan suara yang mulai
Setelah berada di ruang dokter kandungan, Itha dan Samuel menunggu hasil pemeriksaan yang sebelumnya telah diminta oleh dokter."Ada beberapa hal yang bisa membuat tes kehamilan di rumah menunjukkan hasil positif." Dokter itu mulai menjelaskan sambil memegang hasil pemeriksaan di tangannya."Bisa karena cara pemakaiannya kurang tepat, pengaruh obat-obatan, kondisi kesehatan tertentu, dan ...." Sambil berbicara, dokter mengeluarkan hasil pemeriksaan dari dalam amplop. Dia membacanya dalam diam, lalu tiba-tiba berhenti. "Sepertinya pemeriksaan ini perlu diulang.""Kenapa, Dok? Apa ada masalah dengan tunanganku?" tanya Samuel dengan nada khawatir."Hasil pemeriksaan ini juga menunjukkan bahwa Nona Itha positif hamil," jawab dokter yang jelas terlihat terkejut.Samuel langsung terdiam sejenak. Dari ekspresinya, jelas ada begitu banyak pertanyaan yang memenuhi benaknya."Nona Itha, saya akan meminta mereka mengambil sampel darah lagi.""Kenapa nggak langsung USG saja, Dok?" usul Itha. "Biar
"Tha ...."Melihat Itha begitu bersemangat, hati Samuel justru terasa berat.Dia hampir yakin hasil itu keliru.Tes kehamilan yang dilakukan sendiri memang tidak selalu 100% akurat. Apalagi sebelum Itha keluar dari rumah sakit, dokter sudah beberapa kali memeriksanya dan menjelaskan kondisinya dengan sangat jelas."Mungkin hasilnya salah," ujar Samuel pelan. "Kenapa kamu sampai melakukan tes itu?""Aku merasa sayang kalau langsung dibuang begitu saja tanpa dipakai," jawab Itha lirih.Nada suaranya terdengar kecewa.Dia tadinya berharap Samuel akan ikut senang.Namun dari raut wajah tunangannya, Itha bisa melihat bahwa hasil tes itu justru membuat Samuel khawatir."Berikan padaku."Samuel mengambil alat tes itu dari tangan Itha, lalu membuangnya ke tempat sampah."Buat apa kita menyimpan ini? Kita sama-sama tahu kenyataannya. Hasilnya pasti keliru. Seharusnya kamu nggak melakukan tes itu, Tha. Sekarang, kamu malah akan makin kecewa kalau ternyata hasilnya memang salah.""Maaf."Itha men
Setelah selesai mengunjungi penjara, Itha dan Samuel pergi makan siang bersama Malvin dan Angie. Kedua sahabat mereka itu sangat senang melihat keadaan Itha sudah jauh lebih baik dan perlahan kembali menjalani hidupnya bersama pria yang dicintainya.Makan siang di rumah Malvin dan Angie berlangsung menyenangkan.Mereka sepakat untuk hanya membicarakan hal-hal yang menyenangkan dan tidak lagi mengungkit kenangan buruk yang sudah berlalu.Itha dan Samuel juga meminta pasangan itu menjadi saksi di pernikahan mereka yang akan segera digelar di Verdan.Pernikahan itu akan berlangsung sederhana dan hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat yang mereka sayangi serta telah menemani perjalanan hidup mereka selama ini.Mereka menghabiskan beberapa jam dengan mengobrol santai sebelum akhirnya berpamitan.Dalam perjalanan kembali ke hotel, tiba-tiba Samuel mendapat ide."Kalau kamu belum terlalu lelah, malam ini kita bisa pergi ke Museum Enriz," usul Samuel dengan penuh semangat."Boleh." Itha ters
Begitu melihat gerakan tangan Itha di perutnya, Brenda langsung memahami maksudnya.Mulutnya ternganga lebar.Dia tidak percaya.Dadanya terasa nyeri, bahkan rasa kesal di wajahnya sama sekali tidak bisa disembunyikan.Sebelum sempat pulih dari keterkejutannya, Samuel masuk melalui pintu yang baru saja dilewati Itha.Mata Brenda langsung dipenuhi air mata.Dia tahu putranya adalah satu-satunya harapan yang masih dia punya untuk bisa keluar dari tempat itu."Samuel Sayang!" Brenda menempelkan telapak tangannya ke kaca. "Ibu sangat menderita di sini. Tolong ... kasihanilah aku. Aku ini ibumu. Tolong keluarkan Ibu dari sini. Kumohon."Brenda menangis tersedu-sedu seperti anak kecil."Halo, Bu."Tidak ada sedikit pun emosi dalam sapaan Samuel.Tangisan dan permohonan Brenda sama sekali tidak menggoyahkannya."Tampaknya, sekarang kamu akhirnya menanggung akibat dari semua yang sudah kamu lakukan.""Tolong, Nak. Keluarkan Ibu dari sini. Kalau nggak bisa, setidaknya bantu supaya aku bisa menj
Jumat pagi itu, Itha dan Samuel meninggalkan hotel, lalu berangkat menuju penjara wanita di Landon.Samuel sama sekali tidak ingin bertemu ibunya.Semua yang terjadi masih meninggalkan luka yang dalam. Samuel tidak punya sedikit pun keinginan untuk berhadapan lagi dengan Brenda. Yang dia inginkan hanyalah kembali ke kehidupannya di Verdan dan melupakan Landon untuk selamanya.Meski Landon adalah kota kelahirannya dan menyimpan banyak kenangan indah dari masa kecilnya, Samuel tahu kota itu tidak akan pernah terasa sama lagi baginya, tidak peduli berapa lama pun waktu berlalu.Setelah menyelesaikan semua prosedur yang diperlukan, Itha masuk lebih dulu ke ruang kunjungan.Dia meminta waktu lima menit untuk berbicara berdua dengan Brenda sebelum Samuel menyusul.Itha duduk di kursi pengunjung. Di balik kaca tebal di hadapannya, terdapat kursi tempat Brenda akan duduk. Keduanya akan dipisahkan oleh kaca dan berbicara melalui telepon yang tersedia di sana. Mereka tidak akan bisa melakukan ko
"Aura, bangun!" teriak Ibu dari ambang pintu kamarku."Ini baru jam lima pagi. Hari ini bukan giliranku keluar," jawabku kaget sambil melirik jam di ponsel."Kamu tidak pergi hari ini. Alisa demam, jadi kamu harus menemaninya. Rendi tidak bisa mengurusnya sendirian saat dia sakit.""Tapi aku sudah b
Sudah lewat pukul enam sore ketika ibuku muncul di depan pintu sambil berteriak, "Aura! Aura!"Aku segera bergegas keluar. Di tangannya ada beberapa kantong belanja."Cepat kemari, gadis bodoh! Kamu tidak lihat ini berat, ya?"Ibu seperti biasanya sedang dalam suasana hati yang buruk. Pasti Rendi Sa
Saat itu, jantungku membeku, terhenti sejenak. Aku hampir menyaksikan sebuah adegan bunuh diri jika aku tidak bertindak. Naluriku mengambil alih. Aku harus menghentikan pria itu sebelum tragedi terjadi."Pak!" Aku berteriak agar dia bisa mendengar. "Tolong, jangan lakukan itu!"Saat itu juga, kuliha
"Aura, Aura!"Aku menoleh ke samping dan melihat temanku, Isya. Dia mengenakan gaun panjang berwarna biru langit, rambut pirangnya terurai, melambai padaku sambil berjalan mendekat."Aku kira kamu tidak jadi datang, Aura!" katanya sambil memelukku."Isya, kamu tidak tahu apa yang baru saja terjadi.







