Lonceng perang masih menggema di luar istana. Namun di dalam Aula Naga Emas, perhatian semua orang kini tertuju pada satu keputusan. Kaisar Liang Sheng memandang Liang Wei. "Menurutmu?" tanya Kaisar. Liang Wei melangkah maju. Tatapannya tetap tenang, meski pikirannya telah menyusun berbagai kemungkinan. "Jika semua petunjuk mengarah ke Makam Teratai Putih, maka kita harus mendahului mereka, Ayah,” jawab Liang Wei. "Kalau tidak, Wang Ji'an atau orang-orang Pangeran Rui akan lebih dulu menemukan apa yang ditinggalkan Kaisar Ming,” ucapnya cepat. Ming Zhu mengangguk pelan. "Hamba akan pergi, Yang Mulia,” ujar Ming Zhu. Belum sempat ada yang menanggapi, Liang Wei langsung berkata, "Aku ikut!” ucapnya. Nada suaranya tegas. Mendengar itu, Pangeran Rui terkekeh pelan. "Menarik. Pangeran Xuanyin hendak mempertaruhkan nyawanya demi putri dari kerajaan yang dulu dianggap musuh,” celetuknya. Liang Wei menatapnya tanpa gentar. "Musuhku bukan Dinasti Ming,” balasnya.
Read more