Malam di Paviliun Giok berubah mencekam. Seluruh area ditutup rapat oleh penjaga bayangan Liang Wei. Tidak ada pelayan yang diizinkan bergerak bebas, bahkan suara langkah kaki di koridor pun nyaris tidak terdengar. Di dalam kamar utama, Ming Zhu akhirnya selesai membersihkan luka kecil di lehernya. Ming Yue masih duduk di samping adiknya dengan wajah belum tenang sepenuhnya. Sementara di luar ruangan, Liang Wei berdiri di aula depan bersama Hei Yan, Mo Lin, Ye Shuang, dan Su Mu. Mayat pembunuh tadi sudah dipindahkan ke ruang bawah paviliun untuk diperiksa. Tatapan Liang Wei dingin seperti es. “Laporan,” ucapnya dengan ekspresi dingin. Mo Lin melangkah maju lebih dulu. “Tubuhnya tidak memiliki tanda keluarga atau organisasi mana pun, Yang Mulia,” jelas Mo Lin. Hei Yan mendecakkan lidah. “Profesional sekali,” celetuknya. “Namun ada bekas luka bakar kecil di belakang leher. Ini sangat mirip dengan tanda hukuman budak bayangan,” jelas Mo Lin lagi. Ye Shuang ikut bica
Read more