Ruangan Aula Timur langsung membeku. “Tewas?” ulang Mo Lin pelan. “Yya, Yang Mulia,” gugupnya. Liang Wei langsung berdiri. “Di mana?” tanya Liang Wei. “Di ruang penyimpanan obat belakang,” jawab Kasim itu pelan. Tanpa membuang waktu, Liang Wei segera berjalan keluar. Mo Lin, Ye Shuang, Hei Yan, Tuan Tianyi, Ming Zhu, dan yang lain langsung mengikuti di belakangnya. Suasana Aula Timur mendadak kacau. Para pelayan tampak pucat. Beberapa tabib istana bahkan gemetar ketakutan. Karena kepala tabib yang mati itu adalah orang yang bertanggung jawab langsung atas ramuan Putra Mahkota selama beberapa hari terakhir. Begitu mereka tiba di ruang penyimpanan obat, aroma darah langsung menyambut. Mayat seorang pria paruh baya tergeletak di lantai. Lehernya terpotong. Rak obat di sekelilingnya berantakan. Dan yang paling mengerikan adalah darah di lantai belum sepenuhnya mengering. “Baru mati,” celetuk Hei Yan. Ye Shuang berjongkok memeriksa tubuh. “Kurang dari satu jam,” s
Read more