Matahari mulai memancarkan sinar kemerah-merahan di atas puncak pegunungan Tengger ketika kelompok Raden memasuki lereng bawah yang dikelilingi oleh hamparan kebun teh dan ladang jagung yang masih bisa bertahan meskipun kemarau melanda kerajaan. Udara di sini terasa lebih segar dengan aroma daun segar dan tanah lembap, berbeda dengan hawa kering yang mereka rasakan selama perjalanan dari istana. Genta, yang berada di depan barisan, mengangkat tangan untuk memberhentikan kelompok. “Lihat saja, Pangeran – Desa Tengger ada di sana,” ujarnya sambil menunjuk ke arah lembah di bawah, di mana sekumpulan rumah kayu berlantai bambu tersusun rapi di antara pepohonan jati dan waru yang rindang. Di tengah desa tampak sebuah balai adat berbentuk limas dengan atap dari ijuk pohon aren, yang jelas menjadi pusat kegiatan masyarakat. Jaka yang berada di belakang seolah tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. “Akhirnya kita sampai juga,” ujarnya dengan suara yang sedikit terlalu keras, seolah ingin
Last Updated : 2026-03-25 Read more