Aurelia berdiri tegak di tengah aula yang mendadak sunyi, menantang Zayne yang masih terpaku dengan pedang terhunus. Aura keemasan itu bukan sekadar cahaya; itu adalah manifestasi dari denyut Aethelgard yang mulai bergejolak di dalam darahnya. Zayne tampak mundur selangkah, matanya yang biasa licik kini menunjukkan kilatan ketakutan yang tak mampu ia sembunyikan. "Itu... tidak mungkin," gumam Zayne, suaranya tercekat. "Tidak ada seorang pun di kerajaan ini yang memiliki kekuatan murni seperti itu. Kau hanyalah pion, Aurelia!" "Pion telah berhenti melangkah, Zayne," sahut Aurelia. Suaranya terdengar berbeda, lebih dalam dan bergema, seolah-olah ribuan suara leluhur turut berbicara bersamanya. "Dan sekarang, bidak ini siap menjatuhkan rajanya." Alaric, yang masih berdiri di samping Aurelia, merintih pelan. Ikatan darah yang baru saja terbentuk melalui gigitan itu membuat mereka berbagi detak jantung yang sama. Aurelia bisa merasakan rasa sakit Alaric yang mereda, digantikan oleh kesa
Last Updated : 2026-04-30 Read more