Ruangan rawat itu kembali dipenuhi sunyi setelah pertanyaan kecil dari Hazel tadi. Perempuan itu masih menunduk, jemarinya menggenggam pelan ujung selimut rumah sakit di atas tubuhnya. Sedangkan Lintang duduk di kursi dekat ranjang sambil memperhatikan Hazel tanpa berkedip. Dia tau perempuan itu menahan semua lukanya sendiri, sangat teringat jelas dikepalanya. Sulit baginya untuk mengabaikan. Memar di lengan, bekas cengkeraman, luka di leher dan sudut bibir yang pecah. Lintang mengusap wajahnya kasar pelan. Lalu akhirnya menarik napas panjang sebelum kembali bicara. “Hazel…” Suaranya terdengar jauh lebih berat sekarang. Perempuan itu perlahan mengangkat wajah. Tatapannya terlihat lelah. Sedangkan Lintang menatapnya lurus, sorot matanya serius sekali. “Kamu mau nunggu apa lagi sekarang?” Hazel langsung diam. “Kamu masih mau mikirin apa?” Nada suara Lintang mulai terdengar lebih tegas sekarang. Dia tidak sedang membentak. Namun jelas sekali emosinya sedang ditahan kuat-kuat. “Sem
Ler mais