LOGINSuasana ruang tengah rumah itu berubah sangat sunyi. Bahkan suara anak-anak dari lantai dua terasa samar sekarang. Levian masih berdiri di depan sofa sambil menatap adiknya lekat. Sedangkan Lintang duduk diam beberapa detik dengan kedua tangan saling bertaut di depan tubuhnya. Tatapannya lurus ke lantai. Setelah cukup lama hening, akhirnya laki-laki itu bicara. “Memang darah daging gue.” Kalimat itu keluar begitu saja dengan tenang. Namun langsung membuat tubuh Levian membeku. Tatapan matanya langsung berubah tajam. “Apa?” Lintang mengangkat wajah pelan. Matanya terlihat lelah sekarang. “Anak-anak itu, anak gue.” Tidak ada penyangkalan, tidak ada usaha menghindar dan justru itu yang membuat dada Levian terasa makin berat. Karena berarti semua firasatnya sejak tadi benar. Ruangan kembali hening beberapa detik. Lalu akhirnya Lintang kembali bicara pelan. “Dulu... Gue sempat benci Hazel.” Nama itu membuat Levian langsung mengernyit. Sedangkan Lintang terus melanjutkan tanpa memand
Keramaian kecil di ruang rawat itu masih berlanjut saat Lintang mulai membantu anak-anak merapikan barang mereka. Tas sekolah kecil milik Liana disampirkan ke pundak anak itu. Botol minum milik Leyan yang tadi hampir tertinggal juga langsung diambilkan. Sedangkan Levian masih berdiri sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana jasnya. Tatapan matanya terus memperhatikan adiknya. Semua ini semakin terasa aneh dan rasa penasarannya jelas sudah di ujung kepala sekarang. Akhirnya dengan santai laki-laki itu buka suara. “Gue ikut.” Tangan Lintang yang sedang membantu merapikan hoodie kecil Leyan langsung berhenti sebentar. Lalu tanpa melihat kakaknya dirinya menjawab datar. “Ngapain lo ikut.” Levian langsung berjalan mendekat sampai berdiri tepat di dekat Lintang. Lalu dengan gerakan cepat, dirinya sedikit menunduk dan berbisik pelan di telinga adiknya. “Inget ya... lo hutang penjelasan sama gue.” Nada suaranya jauh lebih serius dibanding sebelumnya. Kalimat itu langsung membuat rah
Langkah Lintang yang tadi berjalan tenang di lorong akhirnya melambat saat melihat dua sosok duduk di kursi tunggu dekat jendela koridor, Hazel dan Miranti. Keningnya langsung sedikit mengernyit. Seharusnya mereka sudah kembali ke ruang rawat dari tadi. Apalagi kondisi Hazel juga masih lemas setelah visum. Laki-laki itu akhirnya berjalan mendekat pelan. “Kenapa masih di luar?” Suara rendahnya membuat Miranti langsung menoleh. “Eh, Lintang…” Perempuan itu tersenyum kecil tipis. “Ini Hazel minta duduk dulu sebentar di sini.” Tatapan Lintang langsung berpindah ke arah Hazel. Detik itu juga dia langsung sadar, mata perempuan itu merah. Kelopak matanya sedikit bengkak dan wajahnya jelas baru habis menangis. Langkah Lintang otomatis berhenti tepat di depan mereka. Tatapannya tertahan cukup lama pada Hazel. Ada sesuatu di dadanya yang langsung terasa berat melihat perempuan itu seperti ini lagi. Hazel bukan tipe yang mudah menangis di depan orang lain. Berarti pasti ada sesuatu yang bena
Sementara Lintang masih berada di lorong rumah sakit, suasana di dalam ruang rawat justru berubah jauh lebih tenang. Levian duduk santai di sofa panjang sambil memperhatikan tiga anak kecil yang sekarang mulai sibuk sendiri. Leyan sedang makan camilan yang tadi dibelikan Levian. Sedangkan Liana sibuk memainkan gantungan boneka kecil di tas sekolahnya. Sementara Lintang kecil duduk lebih diam dibanding dua adiknya. Dan makin lama melihat mereka, pikiran Levian makin dipenuhi rasa aneh. Tiga anak ini terlalu nyaman dengan adiknya. Nyaman sampai terasa seperti keluarga sungguhan. Akhirnya laki-laki itu memutuskan bertanya langsung. “Kenapa kalian panggil Lintang ayah? Apa dia ayah kalian?” Pertanyaan itu membuat dua anak kecil langsung menoleh bersamaan. Sedangkan Lintang kecil menjawab lebih dulu pelan. “Bukan.” Jawabannya singkat. Namun sebelum Levian sempat lanjut Liana langsung menyahut polos. “Soalnya ayah Lintang baik. Gak kayak ayah tiri kami.” Detik itu senyum santai di wa
Setelah pemeriksaan luka luar selesai dilakukan ruangan visum itu kembali hening beberapa saat. Hazel masih duduk di atas bed pemeriksaan sambil memegangi ujung cardigan rumah sakit yang tadi dipakaikan perawat untuk menutupi tubuhnya kembali. Matanya sedikit kosong, proses tadi terasa jauh lebih berat secara mental dibanding rasa sakit fisiknya. Melihat memar-memar di tubuhnya difoto, diukur, dicatat satu per satu. Itu seperti dipaksa melihat kenyataan yang selama ini dirinya coba abaikan. Sedangkan dokter perempuan di depannya masih menulis beberapa catatan tambahan di berkas visum. Perawat lain mulai membantu membereskan alat dokumentasi medis. Setelah beberapa menit, dokter akhirnya kembali mendekat ke arah Hazel dengan nada yang tetap lembut dan profesional. “Bu Hazel, pemeriksaan luka luar sudah selesai.” Hazel mengangguk kecil pelan. Namun dokter melanjutkan lagi sambil membuka lembar pemeriksaan berikutnya. “Nanti saya juga akan mencatat keluhan nyeri ibu secara detail.”
Suasana yang tadi sempat hangat kembali berubah pelan setelah pertanyaan Lintang terdengar. “Kamu udah siap mau visum?” Kalimat itu terasa menggantung cukup lama di udara. Di atas ranjang, Hazel terlihat menundukkan wajahnya perlahan. Jemarinya kembali saling menggenggam di atas selimut. Ragu itu masih ada, takut itu juga belum hilang. Dia tahu setelah visum dilakukan, langkah berikutnya mungkin akan semakin jauh. Sedangkan Miranti yang sejak tadi diam akhirnya ikut bicara pelan. Perempuan itu mendekat sedikit lalu duduk di sisi ranjang Hazel. Tangannya mengusap lengan Hazel lembut. “Ibu tau kamu takut…” Nada suaranya hangat. “Namun apa kamu mau hidupmu jadi seperti ini terus?” Hazel langsung diam. Tatapannya turun makin dalam. Karena ucapan itu tepat sekali mengenai hatinya dan di saat suasana mulai terasa berat, suara kecil polos tiba-tiba terdengar. “Visum itu apa?" Semua mata langsung beralih ke Liana Naya Parameswari. Anak perempuan itu berdiri sambil memiringkan kepalanya
Seminggu kemudian, kampus memang sudah resmi libur. Koridor tidak lagi seramai biasanya, sebagian besar mahasiswa sudah pulang ke rumah masing-masing. Tapi tidak dengan mahasiswa tingkat akhir seperti Lintang dan teman-temannya. Mereka masih sering datang ke kampus. Proposal skripsi, bimbingan dan
Hari-hari berlalu begitu cepat sampai tanpa terasa pertengahan bulan Desember datang. Udara mulai lebih sering turun hujan, tugas kuliah menumpuk, jadwal praktik semakin padat, dan kampus mulai sibuk membicarakan ujian akhir semester yang akan dilaksanakan awal Januari. Hazel pun ikut tenggelam d
Hazel dan Miranti berjalan keluar dari warung. Sebelum benar-benar pergi, Lintang sempat mendengar suara Hazel. “Ibu... aku mau beli es krim sama biskuit dulu.” Langkah Hazel dan Miranti semakin menjauh. Tapi entah kenapa, kata-kata itu tertinggal di kepala Lintang. 'Es krim.' Tangannya yang se
Sepanjang perjalanan pulang dari klinik, mobil terasa jauh lebih sunyi dari sebelumnya. Hazel duduk di kursi penumpang sambil memeluk tasnya erat. Tatapannya lurus ke luar jendela, tapi pikirannya jauh di mana-mana. Ia masih tidak percaya, tiga janin, tiga detak jantung kecil yang tadi pagi ia deng







