Share

BAB 122 Rapuh

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-08-16 23:10:05

Ruangan pemeriksaan itu akhirnya mulai kembali tenang setelah seluruh pengecekan selesai dilakukan. Suara alat monitor terdengar pelan memenuhi ruangan. Aroma khas rumah sakit bercampur dengan dinginnya pendingin ruangan membuat suasana terasa semakin sunyi.

Hazel masih terbaring lemah di atas ranjang pasien. Infus sudah terpasang di tangan kirinya. Wajah perempuan itu terlihat jauh lebih pucat dibanding biasanya. Bekas memar di pipinya sekarang terlihat lebih jelas setelah make up yang menutu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 142 Cerita Levian

    Setelah Lintang keluar dari ruangan suasana mendadak terasa sedikit lebih tenang dan lebih longgar juga. Karena aura dingin laki-laki itu memang cukup memenuhi ruangan walaupun dirinya tidak banyak bicara. Sedangkan Levian masih duduk santai di sofa sambil memainkan ponselnya beberapa saat. Namun rasa penasarannya ternyata masih belum hilang. Tatapannya perlahan bergerak ke arah Hazel yang sedang bersandar di ranjang. Lalu laki-laki itu akhirnya membuka suara santai. “Kamu kenal Lintang dimana?” Hazel sedikit menoleh. Sedangkan Levian melanjutkan sambil menyandarkan tubuhnya lebih nyaman. “Perasaan semenjak dia kecelakaan dulu, gue gak pernah lagi lihat dia jalan dekat perempuan.” Nada suaranya terdengar ringan, namun jelas dia memang penasaran. Perubahan adiknya kali ini terlalu aneh untuk diabaikan. Sedangkan Hazel terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya menjawab pelan. “Oh… Sama mas Lintang sebenarnya baru akrab akhir-akhir ini.” Tatapannya sedikit turun. “Itupun karena a

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 141 Ayah Anak Tiga

    Suasana ruang rawat itu masih sedikit berat setelah penjelasan Lintang tadi. Levian bahkan masih berdiri sambil berkacak pinggang di dekat sofa. Rahangnya mengeras, jelas sekali dia masih menahan emosi setelah mendengar kondisi Hazel. Sedangkan Hazel sendiri terlihat sedikit tidak nyaman karena semua orang sekarang mengetahui hidupnya. Namun di sisi lain, anehnya dirinya juga merasa sedikit lega. Selama ini dia terlalu lama memendam semuanya sendirian. Sampai akhirnya, pintu ruangan diketuk lagi. Tok. Tok. Lintang langsung menoleh. “Masuk.” Pintu terbuka perlahan dan masuklah seorang perempuan berpakaian formal bersama satu staf laki-laki yang membawa beberapa map dokumen dan tablet kerja. Sekretaris pribadi Lintang selama di Bandung. Awalnya dua orang itu masuk dengan ekspresi profesional biasa. Namun baru beberapa langkah masuk, keduanya langsung membeku. Karena di sofa ruangan itu ada seseorang yang sangat mereka kenal. Levian Ankara Narendra, Direktur utama Narendra Group. D

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 140 Tekanan

    Suasana ruang rawat itu benar-benar berubah jauh lebih hidup sejak kedatangan. Kalau sebelumnya ruangan dipenuhi ketegangan dan percakapan berat, sekarang justru sesekali terdengar tawa kecil. Bahkan Hazel yang tadi masih terlihat pucat dan murung, perlahan mulai lebih rileks. Sedangkan Lintang terlihat semakin pasrah menghadapi tingkah kakaknya. Semakin lama Levian justru semakin nyaman duduk di ruangan itu. Laki-laki tersebut bahkan sudah makan tempe goreng entah berapa potong sambil sesekali mengomentari rasa masakan Miranti. “Ini enak banget tante serius.” Miranti sampai tertawa kecil. “Kalau suka nanti saya bawain lagi.” Levian langsung menunjuk dirinya sendiri penuh semangat. “Nah ini baru tante idaman.” Lintang langsung melirik tajam. “Lo niat pindah keluarga ya?” Levian malah santai menyandarkan tubuhnya ke kursi. “Kalau makanannya enak kenapa enggak.” Lintang benar-benar menghela napas pasrah sekarang. Sedangkan beberapa detik kemudian, Levian tiba-tiba mendekat sedik

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 139 Tamu Tak di Undang

    Suasana ruangan yang tadi tenang perlahan berubah lebih hangat setelah Hazel bangun. Miranti langsung duduk lebih dekat di sisi ranjang sambil mengusap pelan kepala Hazel yang masih sedikit berantakan karena tidur. “Ibu bawain sarapan…” Suaranya lembut sekali. Hazel yang masih setengah sadar mengangguk kecil pelan. Tatapannya sesekali bergerak ke arah Lintang yang masih duduk di sofa sambil memegang piring makan. Melihat laki-laki itu masih memakai pakaian yang sama seperti kemarin Hazel langsung sadar. Lintang benar-benar belum pulang. Belum istirahat dengan layak, bahkan mungkin belum mandi sejak kemarin sore. Hal itu membuat dada Hazel terasa sedikit tidak enak. Sedangkan Lintang sendiri pura-pura biasa saja sambil melanjutkan makan. “Pusingnya masih?” Hazel menggeleng pelan. “Udah agak mendingan…” Baru saja suasana mulai terasa tenang, tiba-tiba pintu ruangan diketuk. Tok. Tok. Lintang otomatis mengangkat wajah. “Masuk.” Pintu ruangan terbuka, dan detik berikutnya masukl

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 138 Pengakuam III

    Ruangan VVIP itu kembali sunyi setelah ucapan Miranti tadi selesai. Pagi semakin naik, cahaya matahari perlahan memenuhi sudut ruangan. Namun suasana di dalam sana justru terasa semakin berat. Di atas ranjang, Hazel masih tertidur tenang. Perempuan itu sama sekali tidak tahu bahwa masa lalunya sedang dibicarakan begitu dalam beberapa meter dari tempatnya berbaring. Sedangkan di sofa dekat jendela Lintang masih duduk dengan tubuh sedikit membungkuk. Tatapannya kosong mengarah ke lantai. Setelah semua pengakuan tadi, rasanya dadanya justru semakin sesak. Sekarang tidak ada lagi yang ditutupi dari Miranti. Laki-laki itu akhirnya menarik napas panjang pelan sebelum kembali bicara. “Saya sekarang cuma nunggu kesiapan Hazel.” Tatapannya perlahan bergerak ke arah ranjang. “Kalau dia udah siap semuanya tinggal jalan aja dari sini.” Nada suaranya rendah dan tenang. Namun dari cara laki-laki itu bicara jelas terlihat dirinya sudah mempersiapkan semuanya. Bukti, pengacara, visum dan pengawa

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 137 Pengakuan II

    Ruangan VVIP itu terasa begitu sunyi setelah pengakuan Lintang tadi. Cahaya matahari pagi masih masuk samar dari balik tirai putih. Suara monitor detak jantung terdengar pelan di dekat ranjang tempat Hazel tertidur. Sedangkan di sofa dekat jendela Miranti masih duduk membeku. Wajah perempuan paruh baya itu pucat. Tatapannya tidak lepas dari Lintang sedikit pun. Otaknya masih berusaha mencerna semua pengakuan laki-laki di depannya sekarang. Sedangkan Lintang duduk dengan kepala sedikit menunduk. Jemarinya saling menggenggam erat. Air mata yang tadi jatuh masih menyisakan bekas merah di matanya. Namun laki-laki itu tetap melanjutkan semuanya. Dia sadar kalau pagi ini dirinya berhenti, mungkin dirinya tidak akan pernah punya keberanian lagi untuk bicara. “Kehidupan saya juga gak baik setelah kejadian malam itu…” Suaranya rendah dan serak. Miranti perlahan menahan napas. Sedangkan Lintang kembali bicara sambil menatap kosong ke arah lantai. “Saya juga kehilangan banyak hal.” Tatapann

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 7 Insiden di Tangga

    Pagi itu, udara kampus terasa segar. Mahasiswa lalu-lalang dengan tas di bahu, suara sepatu di lantai keramik membaur dengan deru kendaraan dari jalan dekat gerbang kampus. Lintang melangkah ringan menuju fakultas tempat Melisa biasa menghabiskan beberapa jam pertama kuliahnya. Kali ini ada yang ber

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 6 PDKT Semakin Intens

    Sore itu, perpustakaan kampus tampak lebih sepi dari biasanya. Melisa duduk di salah satu meja panjang, laptop terbuka di depannya, dikelilingi buku-buku referensi dan catatan kecil. Ia sedang fokus menulis tugas, sesekali menghela napas ketika sulit menemukan referensi yang sesuai. Lintang muncul

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 5 PDKT

    Lintang berjalan santai di koridor kampus, masker menutupi sebagian wajahnya, tapi tatapannya tetap tajam dan penuh perhitungan. Mata hitam legamnya mengamati arah kelas di mana Melisa baru saja keluar, beberapa teman mengiringi dari belakang. Hari ini, Lintang menargetkan beberapa momen kecil, sesu

  • Saat Aku Salah Membencimu   BAB 4 Hazel dan Hari-Harinya

    Pagi itu, Hazel sudah bangun lebih awal seperti biasa. Matahari belum sepenuhnya menembus jendela kamar kosnya, tapi ia sudah menyiapkan tas, buku catatan, dan beberapa peralatan praktis untuk kuliah. Rambutnya dikuncir sederhana, kacamata menempel di wajahnya, dan kemeja nude oversize yang rapi dip

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status