Mobil Lintang akhirnya masuk ke area parkiran rumah sakit. Lampu putih di area basement memantul samar di kaca depan mobilnya. Mesin mobil perlahan dimatikan. Namun Lintang tidak langsung turun. Tubuhnya masih bersandar di kursi kemudi beberapa detik sambil mengembuskan napas pelan.Percakapan dengan pengacara tadi masih terngiang di kepalanya. Tentang bukti, tentang proses hukum, tentang kemungkinan perceraian dan tentang bagaimana semuanya perlahan mulai mengarah ke jalur yang tidak bisa ditarik mundur lagi.Tatapan matanya turun ke arah ponsel milik Hazel yang masih berada di kursi sebelah. Sejak tadi ponsel itu memang sengaja dibawa Lintang dan tepat saat dirinya hendak mengambilnya layar ponsel kembali menyala. Nama yang muncul di layar langsung membuat rahang Lintang mengeras.“REHAN.”Panggilan masuk lagi. Entah sudah yang ke berapa kali. Tatapan Lintang berubah dingin, kali ini—panggilan itu berhenti sendiri dan beberapa detik setelahnya notifikasi pesan kembali masuk, satu,
Read more