Suasana ruang rawat itu masih sedikit berat setelah penjelasan Lintang tadi. Levian bahkan masih berdiri sambil berkacak pinggang di dekat sofa. Rahangnya mengeras, jelas sekali dia masih menahan emosi setelah mendengar kondisi Hazel. Sedangkan Hazel sendiri terlihat sedikit tidak nyaman karena semua orang sekarang mengetahui hidupnya. Namun di sisi lain, anehnya dirinya juga merasa sedikit lega. Selama ini dia terlalu lama memendam semuanya sendirian. Sampai akhirnya, pintu ruangan diketuk lagi. Tok. Tok. Lintang langsung menoleh. “Masuk.” Pintu terbuka perlahan dan masuklah seorang perempuan berpakaian formal bersama satu staf laki-laki yang membawa beberapa map dokumen dan tablet kerja. Sekretaris pribadi Lintang selama di Bandung. Awalnya dua orang itu masuk dengan ekspresi profesional biasa. Namun baru beberapa langkah masuk, keduanya langsung membeku. Karena di sofa ruangan itu ada seseorang yang sangat mereka kenal. Levian Ankara Narendra, Direktur utama Narendra Group. D
อ่านเพิ่มเติม